Saya seorang pecandu selama 10 Tahun dan sangat lelah dengan perjalanan penggunaan narkoba yang saya lakukan. Saya tahu betul bahwa apa yang saya lakukan salah, namun saya tetap dikendalikan oleh heroin yang saya gunakan. Dari terbit matahari hingga terbenam, hanya ada heroin di kepala yang begitu susah dibuang/dihapus dari memori otak. Hidup hanya untuk menggunakan heroin dan menggunakan heroin untuk menahan rasa sakit karena putus zat/sakaw. Dan beginilah realita kehidupan dari seorang pecandu dengan penyakit otak kronisnya.
Pada Tahun 2003, saya dinyatakan HIV positif melalui tes HIV yang saya lakukan di rumah saki. Saat itu saya dalam keadaan drop karena infeksi bakteri di jantung. Karena dokter memiliki beberapa kecurigaan mengenai kondisi saya, tes HIV dilakukan dan hasilnya positif. Hal ini tentunya membuat saya semakin terpuruk karena pada tahun tersebut akses Informasi terkait HIV masih sangat minim dan susah diakses; tidak seperti akses teknologi saat ini.
Kondisi yang semakin sial – terpuruk ini, membuat saya semakin berpikir bahwa tidak ada kesempatan bagi saya untuk bisa melakukan perubahan; tidak ada alasan untuk hidup. Sudah pecandu, HIV pula, sampah masyarakat. Untuk apa saya hidup? Karena tidak ada kesempatan yang bisa saya lihat dalam hidup pada situasi ini. Waktu terus berjalan, ternyata pikiran saya selama ini salah.
Saya sempat memutuskan untuk mengakhiri hidup saya pada tahun 2004 karena keputusasaan dalam kecanduan narkoba. Namun karena kemurahan Tuhan, saya tetap hidup dari percobaan bundir tersebut. Tampaknya Tuhan berkata lain. Pada tahun 2005, saya bertemu dengan satu yayasan penggiat harm reduction dan saya mendapat pencerahan serta mengawali titik balik dari hidup. Di yayasan tersebut, saya mengenal pemulihan dan ada perubahan perilaku dari menggunakan narkoba menjadi tidak menggunakan menggunakan narkoba (pulih) serta bisa beraktifitas sebagai relawan dengan membantu kawan-kawan saya yang menderita dalam kesakitan karena HIV dan kecanduan narkoba.
Sampai tiba hari ini, 20 tahun sudah berlalu. Dan sekali lagi, oleh kemurahan Tuhan dan juga pengobatan ARV yang saya minum tiap harinya, saya masih bisa hidup hingga sekarang dalam keadaan sehat, produktif, dan juga bermanfaat. Tidak menyangka saya bisa menikah dan menjadi bapak untuk 2 orang putra. Hal-hal yang belum pernah saya mimpikan pada dahulu kala.
Tidak ada kata yang dapat saya ucapkan selain terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua orang yang terlibat dalam proses pemulihan: keluarga saya, kawan, tokoh agama, petugas medis, dan Jaringan Indonesia Positif tempat saya bekerja saat ini yang tak habis-habisnya memberikan support kepada saya.
Catatan:
“Adiksi didefinisikan sebagai gangguan kronis yang muncul berulang kali dan ditandai dengan perilaku dan penggunaan narkoba yang kompulsif tanpa mempertimbangkan dampak negatif penggunaan narkoba. Adiksi merupakan gangguan otak, karena melibatkan perubahan fungsional pada sirkuit otak yang melibatkan penghargaan, stres, dan kendali diri. Perubahan-perubahan tersebut dapat berlangsung lama bahkan setelah orang yang menggunakan narkoba tersebut berhenti menggunakannya. (Goldstein RZ, Volkow ND. Dysfunction of the prefrontal cortex in addiction)”


