Smartphone Ownership, Age of Smartphone Acquisition, and Health Outcomes in Early Adolescence

Ran Barzilay, Samuel D Pimentel, Kate T Tran, Elina Visoki, David Pagliaccio, Randy P Auerbach

Abstrak

Tujuan Penelitian: Mempertimbangkan kekhawatiran terkait implikasi kesehatan dari penggunaan telepon pintar di usia remaja muda, kami menguji hubungan antara kepemilikan telepon pintar dan usia anak ketika memperolehnya dengan depresi, obesitas, dan kurang tidur pada remaja muda. Kami memiliki hipotesis bahwa kepemilikian telepon pintar, khususnya pada usia muda, berkaitan dengan dampak buruk kesehatan.

Metode Penelitian: Sampel penelitian mencakup 10.588 partisipan dari the Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study. Model regresi mixed-effects logistics digunakan untuk menguji hubungan antara kepemilikan telepon pintar dan usia anak ketika pertama kali memperolehnya, yang dilaporkan oleh orang yang mengasuh anak, dengan obesitas, depresi, dan kurang tidur pada usia 12 tahun. Pada partisipan yang tidak memiliki telepon pintar di usia 12 tahun, kami meneliti hubungan antara kepemilikan telepon pintar yang baru diperoleh dengan dampaknya di tahun berikutnya. Model-model yang digunakan disesuaikan dengan variabel demografi dan sosial-ekonomi, kepemilikan perangkat lain, perkembangan pubertas, serta monitoring orangtua.

Hasil Penelitian: Pada usia 12 tahun, dibandingkan dengan anak-anak yang tidak memiliki telepon pintar (n = 3.849), kepemilikan telepon pintar (n = 6.739) dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi terhadap depresi (odds ratio [OR] 1,31; CI 95%: 1,05–1,63), obesitas (OR 1,40; CI 95%: 1,20–1,63), dan kurang tidur (OR 1,62; CI 95%: 1,46–1,79). Usia yang lebih muda saat mulai memiliki telepon pintar dikaitkan dengan obesitas dan kurang tidur (untuk setiap tahun usia yang lebih muda saat mulai memiliki telepon, OR masing-masing sebesar 1,09; CI 95%: 1,02–1,16 dan 1,08; CI 95%: 1,02–1,12). Pada usia 13 tahun, di antara 3.486 remaja yang tidak memiliki telepon pintar pada usia 12 tahun, mereka yang mulai memiliki telepon pintar dalam satu tahun terakhir (n = 1.546) memiliki peluang yang lebih besar untuk melaporkan psikopatologi tingkat klinis (OR 1,57; CI 95%: 1,12–2,20) dan kurang tidur (OR 1,50; CI 95%: 1,26–1,77) dibandingkan dengan mereka yang belum memilikinya (n = 1.940), setelah memperhitungkan kondisi kesehatan mental dan pola tidur pada awal penelitian (baseline). Hasil-hasil ini konsisten di berbagai analisis sensitivitas.

Kesimpulan: Kepemilikan telepon pintar berhubungan dengan depresi, obesitas, dan kurang tidur para remaja muda. Hasil penelitian ini memberikan masukan kritis yang tepat waktu yang dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi orang yang mengasuh anak (orangtua, keluarga, pengasuh, dll) terkait penggunaan telepon pintar pada remaja dan, idealnya, menjadi masukan bagi pengembangan kebijakan masyarakat yang melindungi kaum muda.

Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41324306/        

Kalimat Kutipan: Barzilay R, Pimentel SD, Tran KT, Visoki E, Pagliaccio D, Auerbach RP. Smartphone Ownership, Age of Smartphone Acquisition, and Health Outcomes in Early Adolescence. Pediatrics. 2026 Jan 1;157(1):e2025072941. doi: 10.1542/peds.2025-072941. PMID: 41324306.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *