Apakah yang dimaksud dengan tuberkulosis?
Tuberculosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar dari orang ke orang melalui percikan ludah di udara ketika orang dengan TB aktif batuk, bersin, bernyanyi, atau berbicara.

Ketika bakteri tersebut berada dalam tubuh, TB dapat bersifat aktif maupun inaktif. Ketika bakteri TB inaktif, kondisi ini disebut infeksi TB laten. Orang dengan infeksi TB laten tidak menular dan tidak memiliki gejala apapun, namun infeksi tersebut dapat menjadi aktif.
Ketika bakteri TB aktif, kondisi ini disebut dengan penyakit TB. Orang dengan penyakit TB dapat menularkan bakteri tersebut ke orang lain dan mengalami gejala penyakit tersebut. Jika tidak diobati, penyakit TB dapat menyebabkan penyakit serius dan fatal. Gambar di bawah ini menunjukkan perbedaan antara infeksi TB laten dan penyakit TB.

Apa hubungan antara HIV dan TB?
TB merupakan infeksi oportunistik (IO). IO adalah infeksi yang terjadi lebih sering atau lebih parah pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dibandingkan dengan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko penyakit TB pada ODHIV.
Infeksi HIV dan TB yang terjadi bersamaan disebut dengan koinfeksi HIV/TB. Pada orang dengan koinfeksi tersebut, infeksi TB laten lebih mungkin berkembang menjadi penyakit TB dibandingkan pada orang tanpa infeksi HIV. Penyakit TB merupakan salah satu dari sejumlah infeksi yang mengancam jiwa, yang dikenal sebagai kondisi yang menentukan AIDS (AIDS-defining conditions), pada ODHIV.
Pengobatan dengan obat HIV, disebut dengan terapi antiretroviral (ART), melindungi sistem kekebalan tubuh dan mencegah HIV berkembang menjadi AIDS. Pada ODHIV dengan infeksi TB laten, pengobatan HIV dan TB mengurangi kemungkinan infeksi TB laten berkembang menjadi penyakit TB.
Seberapa sering koinfeksi HIV/TB terjadi?
Di AS, dimana obat HIV digunakan secara luas, TB relatif jarang terjadi pada ODHIV. Menurut CDC, sekitar 300 hingga 400 orang terdiagnosis koinfeksi HIV/TB setiap tahun sejak tahun 2019 hingga 2023, mencakup kurang dari 5% dari seluruh kasus TB baru.
Penyakit TB masih menyerang ODHIV di AS, terutama pada mereka yang lahir di luar AS. Di seluruh dunia, penyakit TB merupakan salah satu penyebab utama kematian pada ODHIV.
Apakah ODHIV perlu dites TB?
Ya. Setiap ODHIV harus dites untuk infeksi TB. Jika hasil tes menunjukkan bahwa seseorang memiliki infeksi TB laten, perlu dilakukan tes lanjutan. Tes lebih lanjut akan menentukan apakah orang tersebut menderita penyakit TB.
Beberapa jenis TB resisten terhadap jenis obat TB tertentu. Jika seseorang menunjukkan hasil tes positif TB, laboratorium akan melakukan tes lanjutan untuk memeriksa apakah infeksi TB tersebut resisten terhadap obat yang ada. Pada sejumlah kasus, ODHIV dapat menunjukkan hasil tes TB negatif meskipun terinfeksi dengan bakteri TB sehingga sangat penting untuk menyampaikan kepada penyedia layanan kesehatan mengenai gejala TB apapun yang dialami.
Apa saja gejala TB?
Orang dengan infeksi TB laten tidak menunjukkan gejala. Sebaliknya, orang dengan penyakit TB yang menyerang paru-paru memiliki gejala berikut:
- Batuk terus-menerus yang disertai darah atau dahak
- Nyeri dada
- Merasa lemah atau lelah
- Kehilangan nafsu makan
- Penurunan berat badan
- Menggigil
- Demam
- Keringat di malam hari
Meskipun TB umumnya menyerang paru-paru, TB dapat menyerang organ tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak. Ketika TB menyerang organ tubuh lainnya, seseorang dapat mengalami gejala lainnya.
Apakah ada pengobatan untuk TB?
Obat TB digunakan untuk mencegah infeksi TB laten berkembang menjadi penyakit TB dan untuk mengobati penyakit TB. Pilihan obat TB dan durasi pengobatan bergantung pada apakah orang tersebut memiliki infeksi TB laten atau penyakit TB dan apakah mereka mengalami TB yang resisten terhadap obat.
Orang dengan koinfeksi HIV/TB harus menjalani pengobatan untuk HIV dan TB; namun demikian, kapan akan memulai pengobatan dan jenis obat apa yang akan diberikan bergantung pada kondisi individual pasien. Mengonsumsi obat HIV dan TB pada waktu yang bersamaan dapat meningkatkan risiko interaksi obat dan efek samping. Orang yang menjalani pengobatan koinfeksi HIV/TB harus dipantau secara ketat oleh dokter.
Penting untuk diperhatikan bahwa orang yang menjalani pengobatan TB harus meminum semua obat TB, seperti halnya obat HIV, sesuai anjuran dokter. Dosis yang terlewat atau pengobatan yang dihentikan secara sepihak oleh pasien dapat meningkatkan kemungkinan berkembangnya TB yang resisten terhadap obat. Jika Anda mengalami koinfeksi HIV/TB, konsultasikan dengan dokter Anda mengenai rencana perawatan yang tepat bagi Anda.
| Poin-Poin Penting: Tuberculosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar dari orang ke orang melalui udara.Karena HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, ODHIV rentan tertular TB dibandingkan dengan orang tanpa infeksi HIV.TB umumnya menyerang paru-paru, namun dapat juga menyerang organ tubuh lainnya, seperti ginjal, tulang belakang, atau otak. Jika tidak diobati, TB dapat menyebabkan kematian.Orang dengan koinfeksi HIV/TB harus menjalani pengobatan untuk HIV dan TB; namun demikian, kapan akan memulai pengobatan dan jenis obat apa yang akan diberikan bergantung pada kondisi individual pasien. |
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-tuberculosis-tb

