Saya anak satu-satunya dan terlahir di keluarga yang berkecukupan dimana ayah dan ibu saya adalah PNS. Sedari kecil, saya sudah terbiasa hidup tanpa didampingi secara full time oleh kedua orang tua. Kami hanya bisa meluangkan waktu pada weekend saja. Apalagi ayah yang sering ditugaskan keluar kota sehingga saya terbiasa hanya didampingi seorang ibu dan pembantu di rumah yang mengurus saya.
Pada kelas 6 SD, saya sudah mengenal rokok. Pada saat itu, saya bersama teman sering merokok di sebuah lapangan tidak jauh dari rumah. Dan waktu SMP, saya mulai mengenal alkohol. Saat itu, saya mulai minum alkohol bersama teman-teman rumah. Ketika diketahui oleh ayah atas pemakain alkohol, ayah tidak marah; saya pun sempat diajak minum bir bersama ayah pada saat perayaan tahun baru. Di rumah kami tersedia mini bar dimana banyak sekali minuman beralkohol seperti Vodka, Whiskey, Cognac, hingga arak. Disitulah saya sering mencuri-curi untuk meminum alkohol di mini bar rumah. Tidak hanya alkohol, pada saat SMP, saya pun mulai menggunakan obat-obatan seperti BK. Pemakaian obat-obatan saya mulai menjadi rutin setiap weekend; saya pun pernah mencoba ganja.
Saya sempat memiliki masalah dengan pihak sekolah dimana saya diminta untuk keluar sekolah. Akhirnya, saya pindah dari sekolah tersebut. Di sekolah baru, keinginan saya untuk menggunakan obat-obatan masih terus berlanjut hingga saya kuliah.
Pada tahun 1993 di tingkat akhir perkuliahan, saya mulai menggunakan putaw sejenis heroin. Pada saat itu, penggunaan heroin masih di-drag. Dari pemakaian putaw ini, kehidupan mulai hancur dimana saya sering tidak kuliah, saya menjauh dari teman-teman kuliah, sering memanipulasi uang kuliah hingga menjadi bandar pun saya lakoni. Dan akhirnya, saya drop out dari kuliah saya di Lenteng Agung. Namun, hal Itu tidak membuat saya berhenti dari penggunaan putaw. Pada tahun 1997, saya akhirnya menyuntikan putaw. Kehidupan saya selama 24 jam hanya menggunakan putaw, tidur, makan mandi, mencari uang untuk membeli putaw dengan cara apapun (mencuri, menodong, membohongi orang), tidak ada kegiatan lain selain itu.
Hingga pada awal bulan Maret 2001, saya memutuskan untuk berhenti dari adiksi saya. Pada saat itu, saya merasa bahwa hidup saya sangat datar, tidak ada yang bisa saya nikmati. Saya sudah ditahan polisi beberapa kali, over dosis sudah, kuliah berantakan, tidak punya pacar, orang tua sudah sangat kecewa, tidak ada barang-barang berharga lagi, masuk pesantren pun sudah. Disini saya mengambil keputusan, yang awalnya saya tidak yakin akan berhasil, untuk menjalani rehabilitasi dengan keadaan pasrah.
Dimasa perawatan, banyak pembelajaran yang didapat karena kegiatan-kegiatan yang ada selain mengikuti konseling individu, kelompok dan lain-lain. Saya menjalani program rehabilitasi selama 8 bulan dan dilanjutkan dengan program aftercare selama 3 bulan untuk beradaptasi kembali dengan dunia luar. Banyak tantangan yang saya hadapi terutama dari keluarga besar yang masih mendiskriminasi hingga sulit mencari pekerjaan. Hingga ada satu kesempatan untuk bisa bekerja sebagai konselor adiksi sebuah yayasan. Dari sana, saya mulai menggeluti pekerjaan sebagai konselor adiksi. Di awal tahun 2002, saya mulai dikenalkan dengan sebuah support group program 12 langkah narkotik anonimus. Di program ini, saya menjalani pemulihan dan mulai mengambil tanggung jawab untuk melayani sesama pecandu hingga dapat bersih selama 24 tahun saat ini. Tahun 2003, saya memberanikan diri untuk menikah. Hingga saat ini, saya sudah memiliki 2 orang putri.
Saya mulai percaya bahwa pemulihan itu mungkin dan bermanfaat. Saya kembali ke masyarakat dan menjadi pribadi yang produktif dan bisa dipercaya dan bekerja di sebuah perusahaan start-up pada tahun 2018.
Yang saya percaya adalah jika kita pulih banyak sekali kesempatan yang terbuka. Insyaallah gusti Allah mboten sare.
(Tanpa Nama–01)


