Jacob Jorem, Andrew D Wilcock, Alisa B Busch, Haiden A Huskamp, Ateev Mehrotra

Abstrak
Kepentingan: Kesenjangan geografis yang luas dalam penggunaan layanan kesehatan mental tetap ada, khususnya antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Telemedicine dapat memungkinkan para spesialis kesehatan menjangkau pasien yang tinggal di lokasi yang lebih terpencil di wilayah pedesaan serta komunitas dengan akses ke layanan kesehatan yang terbatas.
Tujuan Penelitian: Untuk meneliti hubungan antara proporsi kunjungan spesialis kesehatan mental yang dilakukan melalui telemedicine serta kunjungan mereka ke pasien yang tinggal di wilayah pedesaan, akses terbatas ke layanan kesehatan, atau komunitas yang tinggal di wilayah terpencil.
Desain, Setting, dan Partisipan Penelitian: Penelitian kohort ini meneliti klaim “fee-for-service” Medicare untuk layanan spesialis kesehatan mental dari tanggal 1 Januari 2018 sampai dengan 31 Desember 2023. Para spesialis dikategorisasikan ke dalam kuartil berdasarkan tingkat pemanfaatan telemedicine mereka di tahun 2021 (terendah: 0%–40% dari total kunjungan; rendah-menengah: 41%–79%; menengah-tinggi: 80%–98%; tertinggi: 99%–100% dari total kunjungan). Data dianalisis pada bulan November 2025 sampai dengan Desember 2025.
Paparan: Penggunaan telemedicine spesialis kesehatan mental di tahun 2021.
Pengukuran dan Hasil Utama: Hasil utama merupakan proporsi pasien spesialis kesehatan mental yang tinggal di (1) wilayah pedesaan, (2) di wilayah yang kekurangan spesialis kesehatan mental, (3) tinggal di wilayah berbeda dari spesialis mereka, dan (4) komunitas yang tinggal 20 mil atau lebih dari spesialis mereka. Perubahan diferensial pada hasil antara spesialis yang berada dalam kuartil adopsi telemedis tertinggi dan terendah diestimasi menggunakan kerangka kerja “difference-in-differences”. Analisis sekunder meneliti fraksi perubahan yang teramati akibat pasien lama yang pindah tempat tinggal dibandingkan dengan pasien baru.
Hasil Penelitian: Kohort ini mencakup 17.742 spesialis kesehatan mental yang dikategorisasikan ke dalam kuartil berdasarkan pemanfaatan telemedicine mereka di tahun 2021. Dibandingkan dengan tahun 2018 dan para spesialis yang berada di kuartil telemedis terendah, spesialis dengan tingkat penggunaan telemedis tertinggi mencatat 0,88 poin persentase (CI 95%: 0,35–1,39 poin persentase) lebih banyak kunjungan dengan pasien di daerah pedesaan pada tahun 2023. Perubahan kecil yang serupa juga teramati pada proporsi kunjungan dengan pasien yang tinggal di daerah yang kekurangan spesialis kesehatan mental, yang berada di wilayah yang berbeda dari spesialis mereka, serta yang tinggal berjarak 20 mil atau lebih dari spesialis mereka. Spesialis dengan penggunaan telemedicine yang tinggi menangani jumlah pasien baru yang sedikit berbeda pada tahun 2023 dibandingkan dengan spesialis yang memiliki penggunaan telemedicine yang rendah (-3.55 percentage points [95% CI, -5.73 hingga -1.38 percentage points]).
Kesimpulan: Penelitian kohort ini menemukan bahwa pemanfaatan telemedicine berkaitan dengan peningkatan kecil dalam jumlah kunjungan pasien di wilayah pedesaan, di wilayah yang memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan, atau komunitas yang tinggal di wilayah terpencil. Intervensi kebijakan yang disesuaikan mungkin diperlukan agar telemedicine dapat mencapai potensi penuhnya dalam meningkatkan layanan kesehatan mental bagi individu yang mengalami kesulitan besar dalam mengakses layanan tersebut di komunitas lokal mereka.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41784959/
Kalimat Kutipan: Jorem J, Wilcock AD, Busch AB, Huskamp HA, Mehrotra A. Mental Health Specialist Telemedicine Uptake and Patient Location. JAMA Netw Open. 2026 Mar 2;9(3):e260823. doi: 10.1001/jamanetworkopen.2026.0823. PMID: 41784959; PMCID: PMC12964166.


