Depresi perinatal merupakan gangguan suasana hati (mood) yang terjadi selama kehamilan dan pasca persalinan. Gejala depresi ini berkisar dari ringan ke berat. Pada kasus langka, gejala-gejala depresi perinatal yang muncul sangat berat sehingga dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan ibu dan bayi.
Depresi ini dapat diobati. Pelajari lebih lanjut mengenai tanda dan gejalanya, faktor risiko, pengobatan, dan cara bagaimana Anda atau orang yang Anda sayangi dapat memperoleh bantuan.
Apa yang dimaksud dengan depresi perinatal?
Depresi perinatal mencakup depresi yang terjadi selama kehamilan (depresi prenatal) dan dalam beberapa minggu pasca persalinan (depresi postpartum). Kebanyakan episode depresi perinatal dimulai dalam kurun waktu 4 – 8 minggu setelah bayi lahir. Wanita hamil dan pasca persalinan dengan depresi perinatal mengalami rasa sedih, kecemasan, dan rasa lelah ektrim sehingga membuat mereka sulit untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari, termasuk merawat diri sendiri atau orang lain.
Bagaimana membedakan depresi postpartum dari “baby blues”?
“Baby blues” merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan suasana hati yang ringan dan berlangsung singkat serta rasa khawatir, tidak bahagia serta rasa lelah yang dialami kebanyakan wanita dalam 2 minggu pertama pasca persalinan. Bayi membutuhkan perawatan sepanjang waktu sehingga normal bagi ibu baru terkadang merasa lelah atau kewalahan.
Perubahan suasana hati dan rasa cemas atau perasaan tidak bahagia yang berat atau berlangsung lebih dari 2 minggu pasca persalinan mungkin merupakan tanda-tanda depresi postpartum. Wanita dengan depresi postpartum umumnya tidak akan merasa lebih baik tanpa pengobatan.
Apa saja tanda dan gejala depresi perinatal?
Sejumlah wanita mengalami sejumlah gejala depresi perinatal, sementara yang lain mengalami gejala lainnya. Sejumlah gejala umum depresi perinatal adalah:
• Suasana hati sedih, cemas, atau “kosong” yang menetap hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, selama minimal 2 minggu
• Perasaan putus asa atau pesimisme
• Perasaan mudah tersinggung, frustrasi, atau gelisah
• Perasaan bersalah, tidak berharga, atau tidak berdaya
• Hilangnya minat atau kesenangan terhadap hobi dan aktivitas
• Kelelahan atau penurunan energi yang tidak normal
• Menjadi gelisah atau kesulitan duduk diam
• Kesulitan berkonsentrasi, mengingat, atau mengambil keputusan
• Kesulitan tidur (bahkan saat bayi sudah tidur), terbangun di pagi hari, atau tidur berlebihan
• Perubahan nafsu makan yang tidak normal atau perubahan berat badan yang tidak direncanakan
• Sakit atau nyeri fisik, sakit kepala, kram, atau masalah pencernaan yang tidak diketahui penyebabnya secara fisik dan tidak kunjung sembuh dengan pengobatan
• Kesulitan menjalin ikatan atau membentuk keterikatan emosional dengan bayi
• Keraguan terus-menerus tentang kemampuan merawat bayi
• Pikiran tentang kematian atau melukai diri sendiri atau bayinya atau upaya bunuh diri
Wanita hamil atau pasca persalinan yang mengalami gejala-gejala tersebut di atas sebaiknya segera berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan. Penyedia layanan kesehatan dapat menentukan apakah gejala tersebut diakibatkan oleh depresi perinatal atau penyebab lainnya.
Apa yang dimaksud dengan psikosis pascapersalinan?
Psikosis pascapersalinan merupakan penyakit kejiwaan serius yang dapat terjadi pasca persalinan. Wanita yang mengalami psikosis pascapersalinan dapat mengalami delusi (pikiran atau keyakinan yang tidak benar), halusinasi (melihat, mendengar, atau mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada), mania (suasana hati yang sangat gembira yang seringkali tidak sesuai dengan kenyataan), paranoia, dan kebingungan.
Psikosis pascapersalinan merupakan keadaan darurat kejiwaan yang memerlukan rawat inap. Wanita yang mengalami gejala psikosis pascapersalinan harus segera mencari pertolongan atau menelepon 911 (atau mendatangi tenaga kesehatan jiwa profesional) atau pergi ke IGD terdekat. Pemulihan dapat terjadi dengan bantuan profesional.
Apa saja faktor-faktor risiko untuk depresi perinatal?
Depresi perinatal merupakan kondisi medis yang dapat mempengaruhi setiap wanita atau orang yang hamil maupun pascapersalinan, tanpa memandang usia, ras, kelompok etnis, pendapatan, budaya, ataupun pendidikan. Seorang wanita tidak dapat disalahkan ataupun merasa bersalah karena mengalami depresi perinatal. Depresi ini tidak disebabkan oleh apapun yang telah atau tidak dilakukannya.
Depresi perinatal tidak disebabkan oleh penyebab tunggal. Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik dan lingkungan berkontribusi menimbulkan kondisi ini. Faktor-faktor khusus yang berkontribusi terhadap depresi perinatal mencakup:
• Tekanan hidup (contoh: tuntutan pekerjaan atau pengalaman trauma di masa lalu)
• Tuntutan emosional dan fisik akibat karena persalinan dan perawatan bayi
• Perubahan hormon yang terjadi selama dan setelah kehamilan
Sebagai tambahan, wanita berisiko lebih tinggi mengalami depresi perinatal jika mereka memiliki riwayat pribadi atau riwayat keluarga dengan depresi atau gangguan bipolar atau jika mereka mengalami depresi pada kehamilan sebelumnya. Wanita dengan riwayat depresi perinatal sebaiknya berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk mengembangkan rencana perawatan lanjutan jika episode depresi muncul kembali.
Bagaimana caranya mengobati depresi perinatal?
Pengobatan depresi perinatal sangat penting bagi kesehatan ibu dan bayi karena gangguan ini memiliki dampak serius pada keduanya. Namun demikian, dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar wanita merasa lebih baik dan gejala yang dialaminya membaik.
Pengobatan depresi perinatal mencakup terapi, obat-obatan, atau kombinasi dari terapi dan obat-obatan.
Para peneliti terus meneliti pilihan pengobatan untuk depresi perinatal. Penyedia layanan kesehatan dapat menjelaskan tentang beragam pengobatan yang ada dan membantu Anda memilih pengobatan yang tepat berdasarkan gejala yang Anda alami. Pelajari lebih lanjut mengenai pendekatan untuk menangani depresi: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/depression
Psikoterapi
Sejumlah psikoterapi (juga disebut dengan terapi bicara atau konseling) dapat membantu wanita yang mengalami depresi perinatal dengan mengajarkan mereka cara untuk berpikir dan berperilaku baru serta membantu mereka merubah kebiasaan yang mengakibatkan depresi. Terapi berbasi bukti ilmiah untuk menangani depresi perinatal mencakup cognitive behavioural therapy (CBT) dan interpersonal therapy (IPT).
> CBT: dengan CBT, orang belajar untuk menantang dan merubah pikiran serta perilaku yang tidak baik sehingga memperbaiki rasa cemas dan depresi yang mereka rasakan. Orang juga belajar mengenai beragam cara bereaksi terhadap situasi. CBT dapat dilakukan perorangan ataupun dengan satu kelompok orang yang memiliki masalah yang sama.
> IPT: IPT berdasarkan pada ide bahwa peristiwa interpersonal dan kehidupan mempengaruhi suasana hati dan sebaliknya. IPT bertujuan membantu orang meningkatkan kemampuan komunikasi mereka dalam hubungan, membentuk jejaring dukungan sosial, dan mengembangkan harapan realistis agar dapat menangani krisis atau masalah lainnya yang berkontribusi terhadap depresi dengan lebih baik
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai psikoterapi, silahkan klik tautan berikut: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/psychotherapies
Obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati depresi (antidepresan) secara efektif mengobati depresi perinatal baik ketika digunakan tunggal maupun ketika dikombinasikan dengan psikoterapi. Antidepresan bekerja dengan merubah cara otak menghasilkan atau menggunakan senyawa tertentu yang berkaitan dengan suasana hati atau stres.
Antidepresan memerlukan waktu – biasanya 4 – 8 minggu – untuk memberikan efek. Masalah tidur, selera makan, dan konsentrasi biasanya membaik sebelum suasana hati membaik. Penting untuk memberikan obat antidepresan waktu untuk bekerja sebelum memutuskan apakah obat tersebut tepat untuk Anda. Anda mungkin perlu mencoba sejumlah obat untuk menemukan obat yang tepat bagi Anda.
The U.S. Food and Drug Administration (FDA) telah mengizinkan penggunaan brexanolone secara spesifik untuk pengobatan depresi postpartum yang berat. Brexanolone, yang diberikan melalui jalur intravena saat rawat inap singkat, bekerja secara berbeda dibandingkan antidepresan tradisional dengan secara cepat merubah senyawa otak yang berperan penting dalam mengatur reaksi tubuh terhadap depresi dan kecemasan.
Baru-baru ini, FDA mengizinkan penggunaan pil zuranolone sebagai obat oral pertama untuk mengatasi depresi postpartum pada orang dewasa. Zuranolone beraksi pada reseptor otak yang sama dengan brexanolone. Dalam uji klinis, pil tersebut menurunkan gejala depresi pada wanita yang mengalami depresi postpartum berat lebih cepat dibandingkan dengan antidepresan tradisional.
Catatan: pada sejumlah kasus, orang berusia dibawah 25 tahun mungkin mengalami peningkatan pikiran atau perilaku bunuh diri ketika minum obat antidepresan, khususnya di minggu-minggu pertama setelah mulai minum atau ketika dosis obat tersebut dirubah. FDA menyarankan agar pasien segala usia yang meminum obat antidepresan dimonitor dengan ketat, terutama pada minggu-minggu pertama pengobatan.
Risiko cacat lahir dan masalah lainnya pada bayi dari ibu yang minum obat antidepresan selama kehamilan sangat rendah. Namun demikian, wanita perlu memberitahu tenaga kesehatan jika mereka sedang hamil atau menyusui sehingga dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk meminimalisasi paparan obat-obatan tersebut dan mempertimbangkan risiko serta manfaat dari pilihan pengobatan yang ada. Temukan informasi lebih lanjut mengenai obat-obatan untuk depresi selama dan setelah kehamilan di website FDA: https://www.fda.gov/consumers/womens-health-topics/pregnancy
Semua obat-obatan memiliki efek samping. Bicarakan dengan dokter Anda sebelum memulai atau berhenti minum obat-obat terkait. Pelajari lebih lanjut mengenai obat antidepresan: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/mental-health-medications
Pelajari obat-obat spesifik seperti “brexanolone” dan “zuranolone”, termasuk izin edar terbaru, efek samping, peringatan, dan informasi bagi pasien, di website FDA: https://www.accessdata.fda.gov/scripts/cder/daf/index.cfm
Bagaimana caranya saya mendapatkan pertolongan untuk mengatasi depresi perinatal?
>> Konsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa profesional
Jika Anda merasa mengalami depresi perinatal, segera konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan, seperti dokter puskesmas atau tenaga kesehatan jiwa profesional yang khusus di bidang diagnose dan pengobatan gangguan kejiwaan (contoh: psikolog, psikiater, atau tenaga sosial klinis). Tenaga kesehatan tersebut akan memeriksa dan berbicara dengan Anda mengenai pilihan pengobatan yang ada serta langkah selanjutnya yang perlu diambil, termasuk pilihan pengobatan yang ada jika Anda hamil atau menyusui.
Komunikasi yang baik dengan tenaga kesehatan tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan yang Anda terima serta membantu Anda serta tenaga kesehatan tersebut menentukan pilihan terbaik untuk kesehatan Anda. Temukan tips untuk berbicara dengan penyedia layanan kesehatan di tautan berikut: https://www.nimh.nih.gov/health/publications/tips-for-talking-with-your-health-care-provider untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi Anda serta mendapatkan hasil maksimal dari kunjungan Anda.
>> Bergabung ke dalam kelompok dukungan atau advokasi
Kelompok dukungan atau advokasi merupakan sumber penting untuk mendapatkan bantuan dan informasi. Salah satu contoh jenis kelompok ini adalah: https://www.postpartum.net/, Anda juga dapat mencari informasi mengenai kelompok sejenis melalui pencarian daring.
Bagaimana caranya agar keluarga dan teman dapat membantu mengatasi depresi perinatal?
Sangat penting untuk dipahami bahwa depresi perinatal merupakan kondisi medis yang mempengaruhi ibu, anak, dan keluarga. pengobatan merupakan titik pusat pemulihan.
Suami/istri, anggota keluarga, dan teman merupakan pihak pertama yang dapat mengenali tanda-tanda depresi pada ibu baru. Keluarga dan teman dapat membantu mengatasi kondisi tersebut dengan berbagai cara seperti berikut:
– Mendorong untuk berdiskusi dengan penyedia layanan kesehatan
– Membantu dengan membuat janji konsultasi
– Memberikan dukungan emosional atau praktis
– Membantu tugas harian seperti merawat bayi atau mengurus rumah
Dimana saya dapat mempelajari lebih lanjut mengenai depresi perinatal?
Institusi berikut menyediakan informasi lebih lanjut mengenai depresi pada wanita:
• Action Plan for Depression and Anxiety During Pregnancy and After Birth (Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development)
• Depression Among Women (Centers for Disease Control and Prevention)
• Perinatal Depression: Preventive Interventions (U.S. Preventive Services Task Force)
• Postpartum Depression (Office on Women’s Health)
• Women and Depression (U.S. Food and Drug Administration)
Untuk informasi lebih lanjut mengenai depresi postpartum, silakan kunjungi laman berikut:
• Postpartum Depression (MedlinePlus, National Library of Medicine)
• Talking Postpartum Depression videos (Office on Women’s Health)
Apa itu uji klinis? Mengapa uji klinis penting?
Uji klinis adalah penelitian yang mencari cara untuk mencegah, mendeteksi, serta mengobati penyakit dan kondisi. Hasil dari uji klinis membantu menunjukkan apakah pengobatan yang diteliti aman dan efektif untuk masyarakat. Sejumlah orang berpartisipasi dalam uji klinis untuk membantu para dokter dan peneliti mempelajari lebih dalam mengenai suatu penyakit serta memperbaiki layanan kesehatan. Sejumlah orang tertentu, seperti orang yang memiliki masalah kesehatan, berpartisipasi dalam uji klinis yang terbatas untuk kondisi tertentu.
Tautan ke artikel asli: https://www.nimh.nih.gov/health/publications/perinatal-depression

