Depressive symptoms and use of HIV care and medicationassisted treatment among people living with HIV who inject drugs
Zeziulin O, Mollan KR, Shook-Sa BE, Hanscom B, Lancaster KE, Dumchev K, Go VF, Chu VA, Kiriazova T, Syarif Z, Dvoryak S, Reifeis SA, Hamilton E, Sarasvita R, Rose S, Richardson P, Clarke W, Latkin CA, Metzger DS, Hoffman IF, Miller WC
Pendahuluan
Depresi merupakan komplikasi neuropsikiatrik yang umum dilaporkan pada penderita HIV. Prevalensi gejala depresi cukup tinggi pada penasun. Depresi dapat mempengaruhi inisiasi pengobatan HIV dan kepatuhan pengobatan secara negative serta dapat meningkatkan angka kematian pada penasun penderita HIV.
HPTN 074 merupakan studi fase 3 yang acak dan terkendali untuk menilai efikasi dan kelayakan intervensi pada penasun penderita HIV (partisipan indeks) dan pasangan menyuntiknya yang HIV negative. Studi ini dilaksanakan di 3 negara: Kyiv, Ukraina; Thai Nguyen, Vietnam; dan Jakarta, Indonesia.
Metode
Depresi tingkat sedang-berat didefinisikan sebagai skor Patient Health Questionnaire (PHQ-9) 10 atau lebih. Obat ARV dan MAT merupakan lapor mandiri (oleh partisipan). Kriteria kelayakan adalah: usia 18 – 60 tahun, penasun aktif, dan viral load > 1,000 kopi/mL. Adjusted probability differences (aPD) diukur menggunakan inverse-probability weighting.
Hasil Penelitian
Pada awal penelitian, prevalensi gejala depresi sedang/berat beragam di ketiga site: 14% di Indonesia, 56% di Ukraina, dan 14% di Vietnam. Median dari skor depresi PHQ-9 adalah 4 (Q1, Q3: 3, 7) di Indonesia, 10 (7, 15) di Ukraine, dan 5 (2, 8) di Vietnam.
Tidak ada hubungan yang jelas terdeteksi antara depresi pada baseline dengan obat ARV, supresi virus, atau MAT pada follow-up bulan ke-12. Intervensi dalam penelitian inii meningkatkan proporsi penasun mencapai supresi virus di bulan ke-12, baik di sub-kelompok depresi (intervensi 44%; layanan standar 24%; estimasi aPD=25% [95%CI: 4.0%, 45%]) maupun sub-kelompok non-depresi (intervensi 38%; layanan standar 24%; aPD=13% [95%CI: 2.0%, 25%]).
Kesimpulan
Prevalensi gejala depresi yang diukur menggunakan PHQ-9 sangat tinggi di Ukraina dibandingkan dengan Vietnam dan Indonesia. Namun, tidak ada hubungan bermakna antara gejala depresi di baseline pada penasun penderita HIV dengan penggunaan obat ARV, serapan MAT, supresi virus, penggunaan NAPZA suntik harian dan angka kematian. Yang terpenting, intervensi studi ini efektif dalam meningkatkan penggunaan obat ARV dan supresi virus pada partisipan dengan atau tanpa gejala depresi di baseline.
Tautan ke artikel lengkap: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7855840/

