Tentang Bullying
Perundungan adalah ketika seseorang atau sekelompok orang menunjukkan agresi yang tidak diinginkan terhadap orang lain. Yang masuk dalam kategori bullying, perilaku yang dimaksud harus agresif. Perilaku tersebut juga mencakup ketidakseimbangan kekuasaan (mis., kekuatan fisik, popularitas, akses terhadap informasi memalukan mengenai seseorang) dan berulang; artinya, perilaku tersebut terjadi lebih dari sekali atau sangat mungkin terulang.
Bullying dapat berupa:
1. Fisik: memukul, menendang, atau mendorong, mencuri, menyembunyikan, atau merusak barang orang lain, memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu diluar kehendaknya.
2. Lisan: menggoda, mencaci maki, atau menghina orang lain; mengancam orang lain dengan kekerasan fisik, menyebarkan rumor atau informasi tidak benar mengenai orang lain.
3. Relasional: menolak berbicara dengan orang lain atau membuat mereka merasa dikucilkan; mendorong orang lain untuk melakukan bullying.
Bullying juga mencakup cyberbullying dan workplace bullying:
> Cyberbullying semakin meningkat seiring dengan meningkatnya pengggunaan media sosial, internet, email, dan perangkat seluler. Tidak seperti bullying tradisional, cyberbullying lebih bersifat anonim dan terjadi hampir terus menerus. Seseorang dapat mengalami cyberbullying di siang atau malam hari, seperti ketika mereka memeriksa email, menggunakan sosial media lainnya, atau ketika mereka menggunakan perangkat telepon genggam.
> Workplace bullying merujuk kepada perilaku orang dewasa yang agresif dan berulang serta melibatkan penggunaan kekuasaan terhadap orang lain di tempat kerja. Undang-undang tertentu berlaku berlaku bagi orang dewasa di tempat kerja untuk mencegah terjadinya kekerasan ini. Baca lebih lanjut di laman CDC mengenai: About Workplace Violence.
Siapa saja yang terdampak oleh dan berapa banyak yang berisiko mengalami bullying?
Orang dari segala usia dapat mengalami bullying. Bullying dapat terjadi di rumah, sekolah, atau tempat kerja.
• Sebuah survey yang dilaksanakan tahun 2013 oleh the National Center for Education Statistics menemukan bahwa bullying terus mempengaruhi banyak anak usia sekolah: kurang lebih 1 dari 5 siswa di tingkat SMP dan SMA mengalami tradisional bullying di sekolah selama tahun ajaran 2012 – 2013. Sebanyak 6% siswa usia 12 – 18 tahun melaporkan bahwa mereka pernah didorong, disikut, dijegal atau diludahi selama tahun ajaran tersebut. Dari siswa yang melaporkan kejadian tersebut, 22% melaporkan mengalami cedera dalam kejadian tersebut.\
• Survey tersebut juga menemukan bahwa, pada tahun ajaran yang sama, sebanyak 7% siswa melaporkan pernah mengalami cyberbullying.
• Data dari the 2015 Youth Risk Behavior Surveillance System yang dilaksanakan oleh CDC mengindikasikan bahwa sekitar 20% siswa kelas 9 -12 di AS mengalami bullying di lingkungan sekolah dalam setahun terakhir.
Apa saja tanda-tanda seseorang mengalami bullying?
Tanda-tanda seseorang menjadi korban bullying adalah:
• Depresi, kesepian, atau kecemasan
• Harga diri rendah
• Sakit kepala, sakit perut, kelelahan, atau kebiasaan makan yang buruk
• Bolos sekolah, tidak suka sekolah, atau memiliki prestasi sekolah yang lebih buruk dari sebelumnya
• Perilaku merusak diri sendiri, seperti kabur dari rumah atau menyakiti diri sendiri
• Berpikir tentang bunuh diri atau mencoba bunuh diri
• Cedera yang tidak dapat dijelaskan
• Pakaian, buku, barang elektronik, atau perhiasan hilang atau rusak
• Kesulitan tidur atau sering mimpi buruk
• Kehilangan teman secara tiba-tiba atau menghindari situasi sosial
Bagaimana bullying mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan?
Bullying dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan jiwa, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang dalam kehidupan seseorang. Bullying dapat menyebabkan cedera fisik, masalah sosial, gangguan emosi, dan bahkan kematian. Para korban bullying memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan jiwa, sakit kepala, dan masalah dalam menyesuaikan diri dengan sekolah. Bullying juga menyebabkan kerusakan jangka panjang pada harga diri korban.
Anak-anak dan remaja yang menjadi pelaku bullying berisiko lebih tinggi untuk penyalahgunaan narkoba, masalah akademik, dan kekerasan terhadap orang lain di kemudian hari.
Mereka yang menjadi pelaku serta korban bullying menderita dampak paling serius dan berisiko jauh lebih tinggi mengalami gangguan jiwa dan perilaku dibandingkan dengan mereka yang hanya menjadi korban atau pelaku bullying.
Penelitian NICHD menunjukkan bahwa siapapun yang terlibat dalam bullying – korban, pelaku, maupun korban-pelaku – berisiko tinggi mengalami depresi.
Penelitian NICHD juga menemukan bahwa tidak seperti tradisional bullying, remaja yang menjadi korban bullying secara elektronik – seperti melalui komputer atau telepon genggam – berisiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan remaja yang mem-bully mereka. Yang lebih mengejutkan, penelitian yang sama menemukan bahwa korban cyberbullying berisiko lebih tinggi mengalami depresi dibandingkan pelaku atau korban-pelaku cyberbullying, yang tidak ditemukan pada tipe bullying lainnya. Baca lebih lanjut mengenai hasil penelitian NICHD tersebut di: Depression High Among Youth Victims of School Cyber Bullying
Apa saja faktor risiko menjadi korban bullying?
Mereka yang menjadi korban bullying mungkin memiliki satu atau lebih faktor risiko berikut:
> Dianggap berbeda dari teman sebayanya (misalnya, kelebihan berat badan, kekurangan berat badan, menata rambut dengan gaya berbeda, memakai pakaian atau berkacamata yang berbeda, atau berasal dari ras/etnis yang berbeda)
> Dianggap lemah atau tidak mampu membela diri
> Depresi, cemas, atau memiliki harga diri yang rendah
> Memiliki sedikit teman atau kurang populer
> Tidak bersosialisasi dengan baik dengan orang lain
> Menderita disabilitas intelektual atau perkembangan
Apa yang dapat dilakukan untuk membantu korban bullying?
Untuk membantu orang yang sedang di-bully, dukung orang tersebut dan tangani perilaku pelaku. Cara lain untuk membantu – termasuk apa yang harus dilakukan jika seseorang dalam bahaya – tercantum di bawah ini:
Dukung anak yang sedang di-bully:
• Anda dapat mendengarkan anak tersebut dan memberi tahu dia bahwa Anda siap untuk berbicara atau bahkan membantu. Anak yang menjadi korban bullying mungkin kesulitan untuk membicarakannya. Pertimbangkan untuk memberi tahu anak tersebut bahwa ada orang lain yang dapat berbicara dengannya tentang bullying. Selain itu, Anda dapat mempertimbangkan untuk merujuk anak tersebut ke konselor sekolah, psikolog, atau spesialis kesehatan jiwa lainnya.
• Berikan saran kepada anak tersebut tentang apa yang dapat dilakukannya. Anda dapat menyertakan permainan peran dan memerankan kejadian bullying saat Anda membimbing anak tersebut sehingga anak tersebut tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi yang sebenarnya.
• Tindak lanjuti dengan anak tersebut untuk menunjukkan bahwa Anda berkomitmen untuk membantu menghentikan bullying.
Mengatasi perilaku bullying
• Pastikan anak yang Anda curigai atau ketahui melakukan bullying tahu apa perilaku bermasalahnya dan mengapa hal tersebut tidak dapat diterima.
• Tunjukkan kepada anak-anak bahwa bullying merupakan masalah serius. Jika Anda tahu seseorang melakukan bullying kepada orang lain, beri tahu si pelaku bahwa bullying tidak akan ditoleransi. Namun, penting untuk menunjukkan perilaku yang baik saat berbicara dengan seorang pelaku bullying sehingga Anda menjadi panutan dalam hal perilaku interpersonal yang baik.
Sumber seperti Bullying: Be More Than A Bystander, yang mencakup bahan presentasi dan pedoman bagi fasilitator, bertujuan mengedukasi orang mengenai mengambil tindakan melawan bullying. Laman tersebut memberikan saran-saran untuk membantu korban bullying dengan cara-cara berikut:
• Jadilah teman bagi orang yang di-bully, agar mereka tidak merasa sendirian.
• Beri tahu orang dewasa yang tepercaya jika Anda melihat seseorang di-bully.
• Bantu orang tersebut menjauh dari bullying tanpa membahayakan diri Anda sendiri.
• Jangan biarkan bullying terjadi dengan memberi mereka kesempatan.
• Berikan contoh yang baik dengan tidak melakukan bullying.
Jika Anda merasa bahwa Anda telah melakukan langkah-langkah pencegehan terhadap bullying namun tidak berhasil, atau seseorang sedang dalam bahaya, ada cara-cara lain yang dapat Anda lakukan:

Tautan ke artikel asli: https://www.nichd.nih.gov/health/topics/bullying/conditioninfo
Simak video mengenai “Mengenal Bullying”: https://yayasanabhipraya.com/2024/03/09/mengenal-bullying/

