Oxygen Fluctuation in the Brain and Periphery Induced by Intravenous Fentanyl: Effects of Dose and Drug Experience
Shinbe Choi, Michael R Noya, Eugene A Kiyatkin
Abstrak
Fentanil merupakan kontributor utama terhadap kematian akibat overdosis narkoba di Amerika Serikat. Potensinya, onset aksi yang cepat, dan kurangnya pengobatan reversal yang efektif membuat fentanil jauh lebih mematikan dibandingkan opioid lainnya. Meskipun dipahami bahwa fentanil berbahaya pada dosis tinggi, literatur seputar efek fisiologis fentanil masih sedikit.
Untuk meneliti kesenjangan tersebut, kami mendisain sebuah penelitian yang menggunakan penilaian elektrokimia oksigen di otak (akumben nukleus) dan ruang subkutan, perekaman suhu multi situs (otak, kulit, otot), dan aktivitas lokomotor untuk berbagai dosis fentanil (1,0, 3,0, 10, 30, dan 90 µg/kg) pada tikus.
Dalam akumben nukleus, dosis rendah fentanil (3,0 dan 10 µg/kg) menyebabkan peningkatan kadar oksigen sementara dosis tinggi (30 and 90 µg/kg) mengakibatkan pola bifasik, dengan penurunan-bergantung-dosis awal yang diikuti dengan peningkatan. Dalam ruang subkutan, penurunan oksigen mulai muncul pada dosis yang lebih rendah (>3 µg/kg), memiliki latensi onset yang lebih pendek, lebih kuat dan berkepanjangan. Pada uji coba suhu, dosis rendah fentanil (1,0, 3,0, dan 10 µg/kg) mengakibatkan peningkatan suhu otak, kulit, dan otot, sementara dosis tinggi (30 dan 90 µg/kg) mengakibatkan perubahan suhu bifasik yang bergantung pada dosis, dengan peningkatan yang diikuti oleh penurunan yang berkepanjangan. Kami juga membandingkan respon oksigen dan suhu yang diinduksi oleh fentanil selama 6 hari berturut-turut dan tidak menemukan adanya bukti toleransi pada kedua parameter.
Sebagai kesimpulan, kami melaporkan bahwa efek fentanil sangat bergantung pada dosis, sehingga menarik perhatian pada pentingnya karakterisasi yang lebih baik dalam merespon, secara memadai, kasus darurat akibat penyalahgunaan fentanil.
BARU DAN LAYAK DIPERHATIKAN. Dengan menggunakan sensor oksigen elektrokimia pada tikus yang bergerak bebas, kami menunjukkan bahwa fentanil suntik menimbulkan perubahan yang berlawanan pada kadar oksigen di otak untuk berbagai dosis fentanil, peningkatan pada dosis rendah (<10 µg/kg) dan memicu respon bifasik, penurunan yang diikuti oleh peningkatan, pada dosis tinggi. (>10-90 µg/kg). Sebaliknya, terjadi penurunan oksigen yang bergantung pada dosis fentanil di ruang subkutan. Kami mempertimbangkan mekanisme yang mendasari respon oksigen yang berbeda di otak dan perifer serta mendiskusikan peran nalokson dalam mengurangi hipoksia otak yang disebabkan oleh penggunaan fentanil.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38863429/
Kalimat Kutipan:
Choi S, Noya MR, Kiyatkin EA. Oxygen fluctuations in the brain and periphery induced by intravenous fentanyl: effects of dose and drug experience. J Neurophysiol. 2024 Aug 1;132(2):322-334. doi: 10.1152/jn.00177.2024. Epub 2024 Jun 12. PMID: 38863429; PMCID: PMC11427041.

