Apa yang dimaksud dengan osteoporosis?
Osteoporosis merupakan penyakit yang berkembang akibat pengeroposan tulang. Tulang penderita osteoporosis menjadi lemah dan cenderung mudah patah. Osteoporosis meningkatkan risiko patah tulang di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
Risiko osteoporosis meningkat seiring dengan penambahan usia. Setiap orang dapat mengalami osteoporosis, namun penyakit ini paling umum terjadi pada wanita lanjut usia.
Infeksi HIV dan sejumlah obat HIV dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada ODHIV.
Apa saja faktor risiko untuk osteoporosis?
Terdapat banyak faktor risiko untuk osteoporosis. Sejumlah faktor risiko tidak dapat diubah, sementara faktor risiko lainnya dapat dikelola dengan pilihan gaya hidup.
Faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat dirubah meliputi:
• Usia: risiko osteoporosis meningkat sesuai dengan penambahan usia.
• Gender: dibandingkan dengan laki-laki, perempuan memiliki tulang yang lebih kecil dan mengalami pengeroposan tulang lebih cepat akibat perubahan hormon setelah menopause.
• Ras/etnis: risiko osteoporosis meningkat pada wanita kulit putih dan Asia.
• Riwayat keluarga: osteoporosis cenderung menurun di keluarga.
Faktor risiko osteoporosis berikut dapat dikelola dengan pilihan gaya hidup:
• Pola makan yang buruk: pola makan rendah kalsium dan vitamin D meningkatkan risiko osteoporosis.
• Kurang aktivitas fisik: kurangnya aktivitas fisik cenderung melemahkan tulang.
• Merokok: merokok meningkatkan risiko osteoporosis.
• Alkohol: terlalu banyak minum alkohol dapat mengakibatkan pengeroposan tulang dan patah tulang.
Apa saja gejala osteoporosis
Pengeroposan tulang yang mengarah kepada osteoporosis dapat terjadi tanpa gejala. Tanda pertama osteoporosis seringkali berupa patah tulang.
Tes bone mineral density (yang juga disebut dengan “dual energy x-ray absorptiometry”) digunakan untuk mengukur kesehatan tulang. Tes tersebut, tidak menimbulkan rasa sakit, digunakan untuk mendiagnosis osteoporosis.
ODHIV dapat mendiskusikan tes bone mineral density dengan dokter mereka.
Langkah apa yang dapat dilakukan seseorang untuk mencegah osteoporosis?
Orang dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mencegah osteoporosis.
• Konsumsi makanan sehat yang kaya akan kalsium dan vitamin D. Makanan yang kaya akan kalsium mencakup susu dan produk olahan susu lainnya, brokoli, ikan sardin, tahu, dan kacang almon. Susu diperkaya dengan vitamin D. Kuning telur, ikan air asin, dan hati juga kaya akan vitamin D. Orang juga dapat mengonsumsi suplemen kalsium dan vitamin D.
• Tetap aktif. Aktivitas fisik, seperti berjalan dan angkat beban, dapat membuat tulang lebih kuat dan membantu memperlambat pengeroposan tulang.
• Jangan merokok.
• Kurangi konsumsi alkohol. Jika Anda mengonsumsi alkohol, minumlah secukupnya.
Bagaimana cara mengobati osteoporosis?
Pengobatan osteoporosis mencakup konsumsi makanan sehat yang kaya akan kalsium dan vitamin D serta olahraga rutin untuk meningkatkan kesehatan tulang. Terdapat obat-obatan yang membantu mencegah dan mengobati osteoporosis.
Penderita osteoporosis juga perlu menghindari jatuh yang dapat mengakibatkan patah tulang. Contohnya, mereka dapat menggunakan tongkat atau alat bantu jalan untuk menjaga agar mereka tidak jatuh.
Poin-Poin Penting:
– Osteoporosis merupakan penyakit yang berkembang akibat pengeroposan tulang. Tulang penderita osteoporosis menjadi lemah dan cenderung mudah patah. Osteoporosis meningkatkan risiko patah tulang di pinggul, tulang belakang, dan pergelangan tangan.
– Risiko osteoporosis meningkat seiring dengan penambahan usia. Setiap orang dapat mengalami osteoporosis, namun penyakit ini paling umum terjadi pada wanita lanjut usia.
– Infeksi HIV dan sejumlah obat HIV dapat meningkatkan risiko osteoporosis pada ODHIV.
– Faktor risiko lainnya untuk osteoporosis mencakup diet rendah kalsium dan vitamin D, kurang aktivitas fisik, dan merokok. Faktor risiko tersebut dapat dikelola dengan mengubah gaya hidup. Contohnya, konsumsi kalsium dan vitamin D yang cukup dan tetap aktif menjaga tulang tetap kuat dan membantu memperlambat pengeroposan tulang.
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-osteoporosis

