Perasaan meltdown yang terjadi sesekali merupakan pengalaman umum di masa kanak-kanak, hal yang dapat dibuktikan oleh para orangtua dan pengasuh. Seberapa sering dan intensnya ledakan emosi tersebut, serta pemicunya, bervariasi dari satu anak ke anak lainnya, merefleksikan perbedaan dalam iritabilitas. Contoh, sejumlah anak tampaknya lebih mudah mengalami ledakan amarah dan frustasi ketika merespon tantangan atau permintaan sekecil apapun. Anak-anak lainnya kesulitan untuk tenang ketika mereka sedang kesal.

Seringkali, ekspresi perilaku marah dan frustasi dipandang normal, namun penelitian menunjukkan bahwa iritabilitas berat dapat menjadi prediktor awal dari penyakit mental di masa depan. Bagaimana keluarga dan penyedia layanan kesehatan dapat mengetahui apakah iritabilitas pada seorang anak merupakan hal yang perlu dikhawatirkan?
Para peneliti: Lauren S. Wakschlag, Ph.D., Jillian Lee Wiggins, Ph.D., Amy K. Roy, Ph.D., dan rekan-rekannya menjawab tantangan tersebut secara langsung dengan memanfaatkan data dari Multidimensional Assessment of Preschoolers (MAPS) Study dan studi lainnya yang didanai oleh NIMH. Melalui analisis yang rinci, para peneliti tersebut menangkap ekspresi iritabilitas di seluruh tahapan perkembangan melalui alat pengukuran yang relevan secara klinis: the MAPS Temper Loss Scale (MAPS-TL). Hasil penelitian mereka dipublikasi di serangkaian makalah dalam edisi khusus the International Journal of Methods in Psychiatric Research.
Tautan ke berita lengkap: Characterizing Childhood Irritability Across Ages and Stages
Tautan ke artikel terkait: MAPping affective dimensions of behavior: Methodologic and pragmatic advancement of the Multidimensional Assessment Profiles scales

