Brain Mechanism of Attention Orienting Following Frustration: Associations With Irritability and Age in Youths
Wan-Ling Tseng, Christen M Deveney, Joel Stoddard, Katharina Kircanski, Anna E Frackman, Jennifer Y Yi, Derek Hsu, Elizabeth Moroney, Laura Machlin, Laura Donahue, Alexandra Roule, Gretchen Perhamus, Richard C Reynolds, Roxann Roberson-Nay, John M Hettema, Kenneth E Towbin, Argyris Stringaris, Daniel S Pine, Melissa A Brotman, Ellen Leibenluft

Abstrak
Tujuan Penelitian: Iritabilitas pada masa kanak-kanak merupakan masalah umum yang menganggu dengan manifestasi terkait usia yang memprediksi hasil buruk jangka panjang. Namun, investigasi lebih lanjut mengenai korelasi saraf secara keseluruhan dan yang terkait usia diperlukan. Karena anak muda dengan iritabilitas menunjukkan respons berlebihan terhadap stimuli yang membuat frustasi, para peneliti menggunakan paradigma frustration functional MRI (fMRI) untuk menguji hubungan antara iritabilitas dan aktivasi saraf dan mengujinya dengan efek moderasi usia.
Metode Penelitian: Para peneliti meneliti sampel transdiagnostik dari 195 remaja dengan beragam tingkat iritabilitas (disruptive mood dysregulation disorder, N=52; anxiety disorder, N=42; attention deficit hyperactivity disorder, N=40; dan partisipan yang sehat, N=61). Iritabilitas diukur dengan laporan anak dan orangtua berdasarkan the Affective Reactivity Index. Paradigm fMRI adalah tugas perhatian tersirat yang membedakan aktivitas saraf dalam respons terhadap frustasi (umpan balik yang diatur) dari aktivitas selama orientasi atensi dalam uji coba setelah paparan frustasi.
Hasil Penelitian: Analisis aktivasi seluruh otak menunjukkan hubungan dengan iritabilitas orientasi atensi dalam uji coba setelah paparan frustasi. Iritabilitas berhubungan positif dengan aktivasi frontal-striatal, khususnya pada korteks prefrontal dorsolateral, girus frontal inferior, dan kaudatus. Usia memoderasi hubungan antara iritabilitas dan aktivasi di sejumlah wilayah frontal dan posterior (korteks cingulate anterior, girus frontal medial, cuneus, precuneus, dan lobulus parietal superior [F=19,04-28,51, df=1, 189, partial eta squared=0,09-0,13]). Secara khusus, iritabilitas yang berat lebih kuat hubungannya dengan peningkatan aktivasi pada remaja yang lebih muda dibandingkan dengan remaja yang lebih tua.
Kesimpulan: Setelah frustasi, tingkat iritabilitas berkaitan dengan aktivitas di sistem saraf yang memediasi orientasi atensi, pengaturan emosi dari atas ke bawah, dan eksekusi motorik. Meskipun besar hubungan tidak bergantung pada usia, disfungsi pada korteks cingulate anterior dan daerah posterior lebih jelas terlihat pada anak kecil yang mudah tersinggung.
Registrasi Uji Klinik: ClinicalTrials.gov NCT00006177 NCT00018057 NCT00025935.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30336704/
Kalimat Kutipan: Tseng WL, Deveney CM, Stoddard J, Kircanski K, Frackman AE, Yi JY, Hsu D, Moroney E, Machlin L, Donahue L, Roule A, Perhamus G, Reynolds RC, Roberson-Nay R, Hettema JM, Towbin KE, Stringaris A, Pine DS, Brotman MA, Leibenluft E. Brain Mechanisms of Attention Orienting Following Frustration: Associations With Irritability and Age in Youths. Am J Psychiatry. 2019 Jan 1;176(1):67-76. doi: 10.1176/appi.ajp.2018.18040491. Epub 2018 Oct 19. PMID: 30336704; PMCID: PMC6408218.

