Studi Kasus Mengungkap Cara SARS-COV-2 Berkembang Pada HIV yang Tidak Diobati

Case Study Reveals How SARS-CoV-2 Evolves With Untreated HIV

Sebuah studi kasus yang dipublikasikan di The Lancet Microbes memberikan wawasan lebih jauh mengenai jalur evolusi potensial dari sejumlah varian COVID dan menekankan pentingnya kepastian akses ke terapi antiretroviral bagi orang dengan HIV (ODHIV).

Hasil penelitian tersebut, yang dipublikasikan di bulan Juli 2025, menggambarkan kasus seorang pria, yang terinfeksi HIV dan tidak mendapatkan perawatan HIV yang memadai, telah terinfeksi SARS-COV-2 selama lebih dari 775 hari – dilaporkan sebagai kasus terlama yang diketahui. Selama waktu tersebut, virus COVID-19 mengembangkan mutasi yang serupa dengan beberapa varian yang perlu diwaspadai, seperti Omicron. Pasien tersebut seringkali tidak datang untuk layanan medis, termasuk untuk terapi ARV.

Selama periode tersebut, viral load HIV pasien tersebut berkisar antara hampir 33.000 kopi/mL hingga lebih dari 950.000 kopi/mL, sementara angka CD4 konsisten di bawah 50 sel/mm3 (laporan kasus menyatakan bahwa “ART tidak dapat diakses dengan baik”). Krutika Kuppali (salah satu penulis studi kasus tersebut) mengatakan bahwa gejala COVID yang dialami pasien tersebut tidak pernah berkembang menjadi gejala yang parah – hanya satu kali kejadian dimana kadar oksigen dalam darah pasien turun menjadi 94% — dan pasien tersebut tidak pernah menerima pengobatan apapun untuk COVID yang dideritanya.

Tautan ke berita lengkap: Case Study Reveals How SARS-CoV-2 Evolves With Untreated HIV

 Tautan ke artikel ilmiah: Characterisation of a persistent SARS-CoV-2 infection lasting more than 750 days in a person living with HIV: a genomic analysis

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *