Bagaimana ODHIV menjadi pengungsi?
Di AS, lebih dari 1 juta orang menjadi pengungsi setiap tahunnya akibat bencana alam seperti gempa bumi, banjir, badai, tornado, tsunami, dan kebakaran hutan. Dari tahun 2008 hingga tahun 2020, lebih dari 9 juta orang menjadi pengungsi akibat banjir, badai, dan kebakaran hutan.
Siapapun bisa mengalami pengungsian akibat bencana alam, termasuk ODHIV. Meskipun tidak jelas berapa banyak ODHIV yang menjadi pengungsi setiap tahunnya, sebuah penelitian mengestimasi bahwa sekitar 5% hingga 8% ODHIV di seluruh dunia terdampak oleh kondisi kegawatdaruratan seperti bencana alam setiap tahunnya.
Bagaimana pengungsian mempengaruhi ODHIV?
Untuk ODHIV, pengungsian yang disebabkan oleh bencana alam dapat menganggu akses ke layanan, obat, dan layanan pendukung HIV, sehingga meningkatkan risiko potensi komplikasi kesehatan. Gangguan tersebut dapat tantangan bagi ODHIV untuk tetap patuh mengonsumsi rejimen obat HIV yang diresepkan.
Agar efektif, obat HIV harus diminum sesuai anjuran dokter, yang mengharuskan ODHIV minum obat tersebut setiap hari. Intervensi terhadap rejimen obat HIV dapat mengurangi efektivitas obat tersebut dan mengarah ke penurunan fungsi imunitas, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi oportunistik, serta risiko penularan HIV.
Selain itu, interupsi atau perubahan pada rejimen obat HIV dapat meningkatkan risiko perkembangan HIV yang resisten terhadap obat. Hal ini berarti bahwa sejumlah obat HIV dalam rejimen obat seseorang tidak lagi efektif dan dapat membatasi pilihan obat HIV di masa depan. Lihat lembar fakta HIVinfo “Drug Resistance” (https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/drug-resistance) untuk informasi lebih lanjut mengenai HIV yang resisten obat (lembar fakta terkait dalam bahasa Indonesia: https://yayasanabhipraya.com/2024/07/22/resistensi-obat-hiv/).
Apa yang harus dilakukan ODHIV jika mereka harus mengungsi?
ODHIV harus berupaya semaksimal mungkin untuk terus minum obat HIV sesuai anjuran dokter ketika mereka harus mengungsi akibat bencana alam. Jika mungkin, ODHIV yang mengungsi harus berupaya menghadiri jadwal konsul kesehatan dan mengonsumsi obat lainnya sesuai yang dianjurkan untuk menghindari reaksi yang merugikan, bahkan jika hal tersebut membuat ODHIV harus mencari penyedia layanan kesehatan baru.
Kapanpun memungkinkan, sebaiknya ODHIV tetap berada pada rejimen obat HIV yang sama, selama rejimen tersebut efektif. Memiliki informasi resep tersedia untuk diberikan ke penyedia layanan kesehatan yang baru, jika terjadi pengungsian terkait keadaan darurat mengurangi kemungkinan keterlambatan dalam pengobatan atau perubahan terhadap rejimen obat HIV yang sedang dikonsumsi.
Disamping memiliki informasi dan sumber daya yang diperlukan seperti yang tersebut di atas, ODHIV yang menjadi pengungsi akibat bencana alam harus mencari bantuan sesuai keperluan. Hubungi layanan kesehatan terdekat yang menyediakan layanan HIV untuk mendapatkan informasi dan layanan terkait ketika harus mengungsi.
Apa yang harus dilakukan ODHIV jika mereka tidak dapat mengakses layanan HIV?
Dalam situasi dimana ODHIV tidak dapat mengakses obat HIV ketika mengungsi, penting bagi mereka untuk memulai kembali pengobatan sesegera mungkin. Meskipun HIV mungkin menyebar (ketika absen minum obat HIV di kondisi ini), rejimen obat HIV baru akan membantu menekan virus tersebut dan mengembalikan ODHIV ke kondisi kesehatan normal ketika akses pengobatan kembali tersedia. Selain itu, menghindari aktivitas seksual untuk sementara waktu dapat mengurangi risiko penularan HIV.
Profilaksis pra-pajanan dan/atau profilaksis pasca-pajanan HIV juga dapat mengurangi kemungkinan penularan HIV secara seksual kepada pasangan jika ODHIV tidak dapat mengakses obat HIV yang biasa mereka konsumsi, meskipun obat-obatan ini mungkin juga tidak tersedia dalam situasi kedaruratan. Penyedia layanan kesehatan harus dapat memberikan panduan dalam situasi ini.
Bagaimana ODHIV mempersiapkan diri menghadapi pengungsian akibat situasi kedaruratan?
Mempertimbangkan risiko terkait interupsi pengobatan, penting bagi ODHIV untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan pengungsian akibat bencana alam. Untuk membantu persiapan tersebut, ODHIV dapat:
- Siapkan Perlengkapan Darurat: Siapkan perlengkapan darurat yang berisi obat-obatan esensial (misalnya, persediaan obat HIV untuk satu bulan), salinan rekam medis, dan informasi kontak penyedia layanan kesehatan. Rekam medis dan informasi kontak penyedia layanan kesehatan mungkin tersedia di portal pasien elektronik, tetapi biasanya memerlukan akun dengan informasi login.
- Rencanakan Ke Depan: Identifikasi penyedia layanan kesehatan HIV dan apotek di area relokasi potensial. Jika memungkinkan, tentukan tempat yang aman untuk dituju jika terjadi keadaan darurat regional, dan evakuasi dini jika terjadi bencana (seperti badai). Setelah bencana terjadi, akses ke sumber daya yang diperlukan akan lebih sulit.
- Tetap Terhubung: Jaga komunikasi dengan penyedia layanan kesehatan (yang lama dan/atau yang baru, jika ada) dan jaringan pendukung.
Di zaman modern seperti sekarang, banyak organisasi layanan kesehatan menawarkan sumber daya yang nyaman melalui portal pasien yang khususnya sangat berharga dalam kondisi pengungsian. Sumber daya tersebut dapat mencakup hal-hal berikut:
- Nama merek dan dosis semua obat HIV dalam rejimen pengobatan
- Riwayat kesehatan termasuk viral load HIV dan jumlah sel CD4 terbaru
- Alat komunikasi untuk berpindah apotek atau menghubungi penyedia layanan kesehatan jika ada pertanyaan atau masalah
Bagi ODHIV yang tidak memiliki akses ke portal pasien, mereka dapat segera menghubungi pusat layanan kesehatan terdekat dari area pengungsian.
| Poin-Poin Penting: Siapapun dapat mengungsi ketika terjadi bencana alam, seperti badai, tornado, tsunami, atau kebakaran hutan, termasuk orang dengan HIV (ODHIV).ODHIV harus siap menghadapi kemungkinan pengungsian karena akan mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengakses obat dan layanan HIV yang diperlukan untuk tetap sehat dan mempertahankan risiko penularan HIV tetap rendah.Untuk ODHIV yang mengalami pengungsian karena bencana, penting baginya untuk tetap mengonsumsi obat HIV sesuai dengan yang diresepkan, meskipun hal tersebut berarti ODHIV harus menemukan penyedia layanan kesehatan yang baru. |
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/getting-displaced-hiv

