Steroid Anabolik dan Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs) Lainnya (Seri 1: Definisi dan Cakupan)

Apa yang dimaksud steroid anabolik dan APEDs?

Steroid anabolik-androgenik, sering disingkat sebagai “steroid anabolic”, “steroid”, atau “androgens” merupakan APED yang paling sering disalahgunakan. Obat-obatan ini adalah senyawa sintetik yang menyerupai hormone testosteron pada laki-laki. Obat-obatan tersebut memicu pertumbuhan otot rangka (efek anabolik) dan perkembangan karakteristik laki-laki (efek androgenik) baik pada pria maupun wanita.

Senyawa ini terkadang digunakan secara medis untuk mengobati pubertas tertunda dan hilangnya massa otot akibat penyakit. Obat-obat ini juga digunakan untuk mengobatai kadar testosteron yang rendah akibat kondisi medis tertentu pada pria. Steroid anabolik-androgenik dapat meningkatkan rasa bahagia dan memperkuat tulang, namun penggunaan untuk alasan ini tidak diperbolehkan. Akan tetapi, terapi suplementasi testosteron merupakan pengobatan yang makin populer untuk mengobati masalah suasana hati dan performa seksual yang terkait dengan proses penuaan pada pria. Meskipun dilarang, obat ini juga diresepkan untuk tujuan yang sama bagi pria usia muda.

Perhatikan bahwa dalam konteks artikel ini, steroid anabolik hanya merujuk ke penggunaan tanpa resep (penyalahgunaan) dari senyawa testosteron, baik oleh atlit maupun binaragawan yang bukan atlit. Laporan penelitian ini tidak mencakup produk penyempurna penampilan, seperti “derma filter”, botox, atau skin tanner melanotan.

Anabolik non-steroid termasuk insulin, hormone pertumbuhan seperti insulin (insulin-like growth hormone; IGF), dan hormone pertumbuhan manusia (HGH) – merupakan senyawa  yang dihasilkan oleh tubuh manusia dan diresepkan  untuk penggunaan medis yang sah. Namun, obat ini terkadang masih disalahgunakan untuk tujuan peningkatan performa.

Ergo/termogenik merupakan senyawa  yang digunakan untuk mengurangi lemak tubuh atau membentuk kerampingan dibandingkan massa otot pada atlit ketahanan. Terdapat 3 kategori  ergo/termogenik:

  1. Xanthenes: senyawa yang meningkatkan atensi dan kesadaran serta menekan nafsu makan. Contoh: kafein, obat asma theophylline, dan theobromine – senyawa yang ditemukan dalam coklat, kopi, dan teh.
  2. Sympathomimetics: obat-obatan yang struktur dan aksinya menyerupai epinefrin dan norepinefrin – senyawa kimia alami yang terdapat dalam tubuh manusia dengan fungsi meningkatkan detak jantung, memompa pembuluh darah, dan meningkatkan tekanan darah. Contoh: efedrin, yang berasal dari tanaman efedra. Efedrin/efedra biasanya digunakan dalam suplemen makanan yang bertujuan menurunkan berat badan, meningkatkan energi serta memperkuat performa atletik. Pada tahun 2004, FDA melarang penjualan suplemen makananyang mengandung efedrin/efedra di AS karena beragam risiko kesehatan yang bisa ditimbulkannya seperti dampak pada kardiovaskular dan sistem saraf.
  3. Hormon tiroid: senyawa yang mengatur metabolisme dengan mengubah fungsi tiroid. Contoh: cytomel.

Suplemen makanan/gizi merupakan senyawa  yang dapat dibeli secara legal dari apotik atau toko suplemen makanan atau via internet dan biasanya digunakan bersama dengan APED lainnya. Creatine, yang bertujuan meningkatkan kapasitas olahraga, merupakan salah satu contohnya.

Di AS, suplemen makanan yang mengandung prekursor steroid seperti tetrahydrogestrinone (THG) dan androstenedione sebelumnya bisa dibeli secara legal tanpa resep. Para atlit mengonsumsi prekursor steroid dengan tujuan untuk meningkatkan kadar testosteron. Meskipun masih sedikit yang diketahui mengenai efek samping prekursor steroid, namun jika dikonsumsi dalah jumlah besar yang dapat meningkatkan kadar testosterone dalam tubuh, maka obat-obatan ini juga dapat menghasilkan efek samping yang sama dengan steroid anabolik. Pembelian suplemen-suplemen tersebut, dengan pengecualian pada dehydroepiandrosterone (DHEA), menjadi ilegal setelah “the Anabolic Steroid Control Act of 2004” disahkan, yang menggantikan “the Controlled Substances Act”.

Bagaimana dengan cakupan steroid anabolik di AS?

Seluruh data yang ditampilkan dalam laporan penelitian ini mewakilkan populasi AS.

Prevalensi penyalahgunaan steroid di AS sulit untuk diestimasi karena banyak survei nasional mengenai penggunaan obat/narkotika yang tidak mencakup pertanyaan mengenai steroid. Namun demikian, data mengenai penyalahgunaan steroid pada siswa remaja tersedia di Monitoring The Future Survey (https://nida.nih.gov/research-topics/trends-statistics/monitoring-future) yang didukung oleh NIDA.

Berapa banyak siswa yang menggunakan steroid?

Pada tahun 2022, sekitar 0.8% siswa kelas 8, 0,5% siswa kelas 10, dan 1,3% siswa kelas 12 melaporkan penyalahgunaan steroid dalam satu tahun terakhir.

Sumber: 2022 Monitoring The Future Survey (https://monitoringthefuture.org/results/annual-reports/)

Tautan ke materi lengkap:

NIDA. 2024, July 11. Anabolic Steroids and Other Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/anabolic-steroids on 2026, June 24

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *