Opini Pakar: Kesehatan Jiwa dan HIV/AIDS

Expert Opinion: Mental Health & HIV/AIDS

Penyakit jiwa sering terjadi pada orang dengan HIV (ODHIV). Angka kasusnya pun terus meningkat seiring dengan peningkatan angka harapan hidup ODHIV dalam pengobatan HIV.

Mental illness is common among PWHIV, People With HIV, and rates are rising as this population lives longer on treatment.

Seberapa sering angka penyakit jiwa pada ODHIV?

Depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang paling umum dialami. Analisis-meta terkini menunjukkan angka sebanyak 31% depresi dan 29% kecemasan pada ODHIV. Data multisite AS menunjukkan bahwa 36% mengalami depresi berat, 15,8% mengalami gangguan kecemasan umum, dan 10,5% mengalami gangguan panik; tiga kali lebih tinggi dibandingkan kasusnya di populasi umum. Angka tersebut lebih tinggi 2 – 3 kali dibandingkan kontrol yang HIV negatif, dengan laporan yang beragam dari 16% hingga 72% mengalami depresi, bergantung pada setting dan alat ukur yang digunakan. Di sub-sahara Afrika, depresi berat sebanyak 17% mengalami gejala depresi sebanyak 26% dengan gejala depresi. Beban mutlak bertambah seiring dengan perluasan akses ke obat HIV, dan tekanan tetap ada meskipun telah mencapai status “viral suppression”[i]

How frequent?

Depression is the most common mental health problem. A recent meta-analysis found pooled prevalence of 31% for depression and 29% for anxiety among PWHIV. US multisite data showed 36% had severe depression, 15.8% generalized anxiety disorder, and 10.5% panic disorder, three times the general population. Rates are two to three times higher than HIV-negative controls, with wide ranges reported from 16% to 72% for depression depending on setting and tool. In Sub-Saharan Africa, major depression is about 17% and depressive symptoms 26%. Trend: absolute burden grows as antiretroviral therapy expands, and distress persists despite viral suppression.i

Apakah penyakit mental pada ODHIV mudah dikenali?

Tidak mudah. Sekitar 50% hingga 60% kasus kesehatan mental pada ODHIV tidak terdiagnosis di klinik HIV. Gejalanya tumpang tindih dengan gejala HIV, seperti lelah, hilang berat badan, dan stigma mengakibatkan rendahnya angka pelaporan. Skrining rutin dengan alat ukur seperti PH!-9 sering terlewatkan.[ii]

Easy to recognize?

No. About 50 to 60% of cases go undiagnosed in HIV clinics. Symptoms overlap with HIV itself, fatigue, weight loss, and stigma leads to underreporting. Routine screening with tools like PHQ-9 is often missing.ii

Efek samping efavirenz (EFV)?

EFV, obat NNRTI lama, memiliki toksisitas neuropsikiatrik yang tinggi dimana insidens neuropsikiatrik melebihi 50% pada kebanyakan kasus saat inisiasi, yang mencakup mimpi yang tidak normal, gangguan tiidur, kecemasan, depresi, dan rasa pusing. Gejala-gejala tersebut mencapai puncaknya pada dua minggu pertama, dengan angka yang dilaporkan berkisar dari 25% hingga 70%. Risiko kecemasan atau depresi meningkat sebanyak 1.6 kali pada EFV. Sebagian besar kasus sembuh dengan sendirinya dalam waktu 2 – 4 minggu, namun sebagian kecil ODHIV tetap mengalami efek samping tersebut.[iii]

Side effect of efavirenz, EFV?

EFV, an older non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor, has high neuropsychiatric toxicity. Incidence of neuropsychiatric adverse events exceeds 50% in most studies at initiation, including abnormal dreams, sleep disturbance, anxiety, depression, dizziness. Symptoms usually peak in first 2 weeks, with reported rates 25 to 70%. Risk of anxiety or depression increases about 1.6 fold on EFV. Most resolve in 2 to 4 weeks, but persist in a minority.iii

Sekuel dari infeksi sistem saraf pusat (SSP)?

HIV bersifat neurotopik. Infeksi oportunistik pada SSP, seperti toksoplasmosis, meningitis kriptokokus, meningitis TB, dan gangguan neurokognitif terkait HIV meninggalkan sekuel panjang berupa gangguan suasana hati, kecemasan, dan masalah kognitif, bahkan setelah infeksi teratasi.

Sequelae of CNS infection?

HIV is neurotropic. Opportunistic CNS infections, toxoplasmosis, cryptococcal meningitis, TB meningitis, and HIV-associated neurocognitive disorder leave lasting mood, anxiety, and cognitive sequelae even after infection clears.

Masalah-masalah sosial

Pengangguran, orangtua tunggal, disabilitas (kecacatan), dan stigma meningkatkan risiko kasus terkait. Ketidakamanan ekonomi dan beban pengasuhan menurunkan kepatuhan terhadap pengobatan, yang pada akhirnya memperburuk kondisi HIV dan kesehatan mental. Layanan kesehatan mental dan HIV yang terintegrasi  dengan manajemen kasus serta dukungan pekerjaan meningkatkan hasil perawatan dan telah direkomendasikan sebagai standar perawatan.

Social issues

Unemployment, single parenthood, disability, and stigma amplify risk. Economic insecurity and caregiving burden reduce treatment adherence, which worsens both mental and HIV outcomes. Integrated HIV and mental health care with case management and employment support improves outcomes and is now recommended as standard.


Referensi:

[i] https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39504439/

[ii] https://link.springer.com/article/10.1186/s12888-022-04205-6

[iii] https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29945900/

ivhttps://yayasanabhipraya.com/2024/07/19/hiv-aids-and-mental-health/

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *