Air pollution, traffic noise, mental health, and cognitive development: A multi-exposure longitudinal study of London adolescents in the SCAMP cohort

Rhiannon Thompson, Gregor Stewart, Tuan Vu, Calvin Jephcote, Shanon Lim, Benjamin Barratt, Rachel B Smith, Yasmin Bou Karim, Aamirah Mussa, Ian Mudway, Helen L Fisher, Iroise Dumontheil, Michael S C Thomas, John Gulliver, Sean Beevers, Frank J Kelly, Mireille B Toledano
Abstrak
Latar Belakang: Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa polusi udara dan suara dapat memberikan dampak psikologis yang detrimental, namun hanya sedikit penelitian yang meneliti kelompok remaja, paparan ozon di permukaan tanah, model paparan ganda, ataupun metri-metrik di luar paparan outdoor pada lingkungan tempat tinggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut.
Metode penelitian: Paparan tahunan terhadap kebisingan lalu lintas (lantas) dan polusi udara di rumah dan sekolah dimodelkan untuk remaja dalam kohort Greater London SCAMP (N=7555). Lingkungan indoor, outdoor, dan campuran dimodelkan untuk polusi udara. Ukuran kognitif dan kesehatan mental dilakukan secara mandiri pada dua titik waktu (baseline pada usia 11–12 tahun dan follow-up pada usia 13–15 tahun). Hubungan yang ada dimodelkan menggunakan multi-level multivariate linear atau ordinal logistic regression.
Hasil Penelitian: Ini adalah penelitian pertama yang meneliti papara ozon di permukaan tanah dalam hubungannya dengan fungsi eksekutif remaja. Penelitian ini menemukan bahwa ebesar satu rentang antarkuartil (interquartile range) pada kadar ozon di luar ruangan berkorelasi dengan skor-z sebesar -0,06 (p < 0,001) antara periode baseline dan periode follow-up menunjukkan tingkat peningkatan 38% lebih rendah daripada rata-rata (median development + 0,16). Paparan terhadap nitrogen dioksida (NO2), kebisingan lantas 24 jam, dan partikulat < 10 µg/m3 (PM10) juga berhubungan secara signifikan dengan perkembangan fungsi eksekutif yang lebih lambat, setelah dilakukan penyesuaian terhadap kadar ozon. Dalam model dua-polutan, partikulat dan ozon dikaitkan dengan peningkatan masalah eksternalisasi. Kebisingan pada siang dan malam hari dikatikan dengan gejala kecemasan yang tinggi, dan kebisingan 24 jam dikaitkan dengan persepsi bicara di tengah kebisingan (speech-in-noise) yang buruk (pemrosesan auditori). Setelah disesuaikan dengan polutan udara, kebisingan 24 jam juga dikaitkan dengan gejala kecemasan yang tinggi serta perkembangan kecerdasan fluida yang lebih lambat.
Kesimpulan: Potensi efek detrimental ozon terhadap kognisi remaja seringkali terlewatkan dalam literatur. Hasil penelitian kami menunjukkan dampak berbahaya dari kebisingan dan polutan udara lainnya terhadap kesehatan mental. Penelitian di masa datang perlu mereplikasi hasil penelitian ini dan menggunakan penyelidikan mekanistik untuk meningkatkan inferensi kausal. Para pembuat kebijakan harus berhati-hati dalam mempertimbangkan cara mengelola dampak ozon terhadap kesehatan masyarakat karena upaya untuk mengurangi polutan udara lainnya seperti NO2 dapat meningkatkan kadar ozon, demikian pula dengan perkembangan perubahan iklim.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39241332/
Kalimat Kutipan: Thompson R, Stewart G, Vu T, Jephcote C, Lim S, Barratt B, Smith RB, Karim YB, Mussa A, Mudway I, Fisher HL, Dumontheil I, Thomas MSC, Gulliver J, Beevers S, Kelly FJ, Toledano MB. Air pollution, traffic noise, mental health, and cognitive development: A multi-exposure longitudinal study of London adolescents in the SCAMP cohort. Environ Int. 2024 Sep;191:108963. doi: 10.1016/j.envint.2024.108963. Epub 2024 Aug 18. PMID: 39241332.

