Apa itu ganja?
Ganja, yang juga dikenal dengan mariyuana oleh sebagian orang, merujuk kepada daun, bunga, batang, dan biji tanaman Cannabis sativa L. Tanaman tersebut mengandung setidaknya 125 jenis kanabinoid yang berbeda, termasuk delta-9 tetrahydrocannabinol (THC). Delta-9 THC merupakan bentuk THC yang paling banyak ditemukan pada tanaman ganja. Senyawa ini memiliki efek memabukkan, yang berarti senyawa tersebut dapat mengubah suasana hati, pikiran, dan persepsi seseorang.
Tanaman Cannabis sativa L juga mengandung senyawa kanabinoid yang tidak memabukkan seperti kanabidiol (CBD). Produk yang mengandung CBD dijual untuk berbagai kegunaan. Tanaman Cannabis sativa L yang mengandung delta-9 THC yang tidak memabukkan dalam jumlah yang sangat kecil, yang disebut rami, banyak digunakan untuk serat tekstil dan minyak dari bijinya yang dapat dimakan. Kecuali disebutkan sebaliknya, informasi yang diberikan dalam website ini adalah tentang produk ganja dengan THC.
Bagaimana cara orang mengonsumsi ganja?
Pada umumnya, orang mengonsumsi ganja dengan cara merokok bahan tanaman kering (“kuncup” atau “herba”) dalam bentuk lintingan seperti rokok, dalam bentuk blunt – cerutu atau bungkus cerutu yang sebagian atau seluruhnya diisi ulang dengan ganja – atau dalam pipa atau bong (pipa air). Ganja kering juga dapat diuapkan menggunakan perangkat penguap elektronik seperti vaporizer herba kering dan pena vape.
Namun selain bunga tanaman ganja, banyak produk yang terbuat dari tanaman ganja dan produk-produk bar uterus dikembangkan dan dijual. Produk-produk tersebut meliputi:
Minyak dan konsentrat. Senyawa dalam ganja juga dapat diekstraksi untuk menghasilkan minyak dan konsentrat yang dapat diuapkan dan dihirup menggunakan perangkat seperti rokok elektrik. Merokok atau menguapkan minyak atau ekstrak konsentrasi tinggi, juga disebut wax atau shatter, dari tanaman ganja dikenal sebagai dabbing. Dengan cepat, dabbing mengantarkan THC dalam jumlah besar ke tubuh, yang meningkatkan risiko dari efek samping senyawa tersebut.
Produk yang dapat dimakan. Ganja juga dapat dicampur atau ditambahkan ke dalam makanan, seperti makanan yang dipanggang, permen, gummies, dan minuman. Produk ganja yang dapat dimakan, umumnya, memerlukan waktu lebih lama untuk menampakkan efeknya. Oleh karenanya, orang mungkin mengonsumsi satu produk tersebut dalam jumlah lebih banyak, meningkatkan kecenderungan munculnya efek negatif yang serius bagi kesehatan.
Tingtur. Tingtur adalah alkohol atau minyak yang diinfusi dengan ganja dan dikonsumsi dalam jumlah kecil dengan menempatkannya di bawah lidah atau dengan menambahkannya ke makanan atau minuman. Bentuk ganja ini juga dapat mengantarkan THC dalam jumlah besar ke tubuh.
Losion dan balsem. Produk-produk ini dioleskan langsung ke kulit.
Apakah produk ganja menjadi semakin kuat?
Ya. Antara tahun 1995 dan 2022, potensi (kekuatan) delta-9 THC dalam produk ganja ilegal yang disita oleh aparat penegak hukum meningkat empat kali lipat dari 3,96% menjadi 16,14%. Bunga dan konsentrat ganja di apotek dapat mengandung konsentrasi THC lebih dari 40%. Konsentrasi THC yang lebih tinggi dikaitkan dengan kecenderungan lebih besar terhadap penggunaan ganja yang akan berkembang menjadi gangguan penyalahgunaan ganja, selain masalah kesehatan lainnya.
Apa itu delta-8 THC?
Delta-8 THC merupakan jenis kanabinoid memabukkan lainnya yang ditemukan dalam tanaman ganja. produk yang mengandung delta-8 THC tidak mendapatkan izin edar dari FDA untuk penggunaan yang aman. Mengonsumsi produk yang mengandung delta-8 THC dalam jumlah besar menyebabkan kondisi darurat medis, termasuk masalah pernapasan. Penelitian mengenai efek kesehatan delta-8 THC, kanabinoid memabukkan lainnya, serta senyawa terkait masih terbatas, termasuk elta-10-THC, THC-O-asetat, THCV, THCP, HHC, HHC-O-asetat, HHCP, dan CBN.
Apa itu CBD?
Kanabidiol (CBD) merupakan senyawa yang ditemukan dalam tanaman ganja. CBD dijual sebagai bahan dalam berbagai produk konsumen, seperti suplemen, makanan, minyak, dan losion. CBD tidak memabukkan seperti THC. Namun, senyawa ini memiliki efek samping seperti rasa kantuk, nasu makan berkurang, muntah, dan diare. Produk-produk CBD, di pasaran yang diperiksa, menunjukkan jumlah kandungan CBD yang berbeda dari jumlah yang tertera di label. Dan, sejumlah produk yang dijual sebagai CBD ternyata ditemukan mengandung THC. Baca selengkapnya mengenai CBD di laman CDC: https://www.cdc.gov/cannabis/about/about-cbd.html
Apa yang dimaksud dengan kanabinoid sintetik?
Kanabinoid sintetik, yang merupakan zat yang dibuat di laboratorium dan, secara kimiwawi, serupa dengan senyawa yang ditemukan dalam tanaman ganja, dapat mengakibatkan efek negatif yang serius bagi kesehatan. Produk-produk tersebut, yang juga dikenal dengan sebutan Spice atau K2, memiliki konsentrasi THC jauh lebih tinggi dan jauh lebih kuat. Penggunaan kanabinoid sintetik dikaitkan dengan efek berat bagi kesehatan serta berpotensi mengancam jiwa.
Ganja memiliki beragam efek yang luas
Ganja dapat mempengaruhi orang dengan cara yang berbeda, bergantung pada:
> Jumlah yang digunakan
> Kekuatan (konsentrasi THC)
> Kandungan produk
> Cara mengonsumsinya
> Narkoba lain yang dikonsumsi seseorang
> Kondisi medis seseorang
> Usia, jenis kelamin, dan perbedaan genetic
> Pengalaman seseorang dalam penggunaan ganja
Apa saja efek kesehatan jangka pendek dari penggunaan ganja?
Intoksikasi
Banyak orang mengonsumsi ganja untuk mabuk atau mendapat efek “high”. Ganja dapat membuat orang merasa lebih bahagia dan rileks. Ganja dapat menyebabkan perubahan akan persepsi waktu, gangguan berpikir, ingatan, dan gerakan tubuh. Ganja juga dapat membuat orang lebih mudah tersinggung atau gelisah.
Rasa cemas, takut, tidak percaya, panik, atau halusinasi
Efek-efek ini lebih umum terjadi ketika seseorang mengonsumsi ganja dalam jumlah besar, produk ganja yang digunakan sangat kuat (memiliki kandungan THC yang tinggi), atau orang tersebut memiliki sedikit pengalaman dalam penggunaan ganja.
Efek samping secara fisik
Gejala yang umum dilaporkan terkait penggunaan ganja adalah peningkatan nafsu makan. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja dapat mengatasi gejala-gejala seperti mual atau muntah, efek samping yang umum dari kemoterapi. Namun demikian, efek samping lainnya mencakup peningkatan denyut jantung dan gangguan pernapasan.
Anak-anak yang mengonsumsi makanan yang mengandung ganja, seperti gummies, menjadi isu kesehatan yang makin berkembang. Hal ini biasanya terjadi secara tidak sengaja dan mengakibatkan rawat inap dan penyakit serius. Mengonsumsi produk yang mengandung delta-8 THC dalam jumlah besar telah menyebabkan kondisi darurat medis, termasuk di kalangan anak-anak.
Apa saja risiko kesehatan jangka panjang dari penggunaan ganja?
Berbahaya bagi kesehatan paru-paru
Asap dari produk ganja mengandung banyak racun, iritan, dan karsinogen yang sama seperti asap tembakau, dan merokok ganja dapat membahayakan jaringan paru-paru. Merokok ganja dalam jangka panjang dikaitkan dengan masalah pernapasan seperti radang saluran napas besar, peningkatan resistensi saluran napas, hiperinflasi paru-paru, dan bronkitis kronis. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan karena tingginya angka penggunaan tembakau pada orang yang juga mengonsumsi ganja sehingga sulit untuk membedakan efek ganja saja.
Efek kesehatan jiwa
Penggunaan ganja terkait dengan sejumlah kondisi kesehatan jiwa tertentu. Baca lebih lanjut mengenai penggunaan ganja dan kesehatan jiwa (apa hubungan antara penggunaan ganja dan kesehatan jiwa)
Efek kardiovaskular
Ganja dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah segera setelah dikonsumsi. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan ganja jangka panjang dan peningkatan risiko stroke, serangan jantung, dan aritmia. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah ada hubungan langsung antara penggunaan ganja dan penyakit kardiovaskular, atau jika ada faktor lain yang terlibat.
Gangguan pencernaan
Gangguan pencernaan akibat penggunaan ganja mencakup cannabinoid hyperemesis syndrome (CHS), yaitu ketika seseorang merasa mual, muntah, dan mengalami nyeri perut setelah penggunaan ganja dalam jangka panjang dan berat. Potensi gangguan pencernaan lainnya meliputi refluks asam, pankreatitis, dan penyakit tukak lambung.
Peningkatan risiko kanker
Penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan produk ganja dengan peningkatan kecenderungan perkembangan kanker tenggorokan, kepala, atau leher, khususnya pada orang yang merokok ganja.
Apa hubungan antara penggunaan ganja dan kesehatan jiwa
Penggunaan ganja yang sering atau berat dikaitkan dengan masalah pada fungsi kognitif seperti belajar dan memori, atensi, kecepatan pemrosesan, fungsi motor persepsi, dan bahasa.
Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja dikaitkan dengan onset psikosis dini pada orang dengan faktor risiko genetik untuk gangguan psikotik, seperti skizofrenia, serta gejala berat pada orang yang sudah memiliki kondisi ini. Hubungan antara penggunaan ganja yang berat dan skizofrenia ditemukan sangat kuat pada pria muda dibandingkan dengan wanita. Intoksikasi ganja juga dapat memicu episode psikotik temporer pada sejumlah orang, terutama pada dosis tinggi. Mengalami episode tersebut dihubungkan dengan perkembangan gangguan psikotik di kemudian hari.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan risiko depresi pada orang yang menggunakan ganja selama masa remaja. Penelitian juga menemukan kaitan antara penggunaan ganja dengan pikiran dan perilaku bunuh diri di kalangan remaja dan veteran militer di Amerika Serikat.
Sementara orang dengan gangguan kesehatan jiwa dan gejala terkait lebih mungkin menggunakan ganja, banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa – seperti gen, trauma, dan stres – juga mempengaruhi seberapa besar kemungkinan seseorang menggunakan narkoba, seperti ganja. Mempertimbangkan kerentanan genetik dan lingkungan terkait, diperlukan data tambahan dari penelitian longitudinal prospektif (penelitian yang mengukur kesehatan partisipan dalam jangka waktu yang lama) untuk menentukan apakah, sejauh mana, dan kepada siapa ganja dapat mengakibatkan atau berkontribusi terhadap hasil kesehatan jiwa yang buruk.
Apa yang dimaksud dengan cannabinoid hyperemesis syndrome (CHS)?
CHS merupakan kondisi ketika seseorang mengalami rasa mual, muntah, dan nyeri perut akibat penggunaan ganja jangka panjang dan berat. CHS dapat kambuh dan seringkali memerlukan perhatian medis. Terkadang, orang mencoba meredakan gejalanya dengan mandi atau berendam air panas. Akan tetapi, CHS hanya sembuh ketika seseorang berhenti menggunakan ganja sepenuhnya.
Apa efek dari paparan secondhand dari asap atau uap ganja?
Asap pasif dari produk ganja mengandung racun, iritan, dan karsinogen seperti asap pasif dari produk tembakau. Dalam sejumlah lingkungan, asap ganja pasif dapat menghasilkan hasil tes narkoba positif untuk ganja. Sebuah penelitian pada sebuah kafe yang tertutup menemukan kadar THC dalam darah pada pengunjung kafe yang tidak merokok.
Paparan pasif juga dapat memberikan hasil tes urin positif. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak. Hasil tes urin positif ditemukan pada anak-anak yang terpapar dengan asap ganja pasif di rumah mereka atau di rumah yang berdekatan, yang dapat mengakibatkan infeksi pernapasan.
Apakah konsumsi ganja selama kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan janin?
Konsumsi ganja selama kehamilan memiliki efek yang berbahaya bagi kesehatan bayi pasca persalinan. Penelitian membuktikan adanya hubungan antara konsumsi ganja selama kehamilan dengan berat bayi lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, rawat inap, kematian dalam waktu setahun setelah kelahiran, dan dampak negatif lainnya. Mempertimbangkan potensi ganja dalam mempengaruhi perkembangan otak secara negatif, the American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan dokter spesialis kandungan dan ginekologi memberikan konseling pada para ibu hamil agar tidak mengonsumsi ganja saat mencoba untuk hamil, selama kehamilan, dan saat menyusui.
NIDA mendukung the HEALthy Brain and Child Development (HBCD) Study, yang akan mengamati sejumlah besar ibu dan bayi mereka mulai dari periode prenatal hingga usia 10 tahun. Studi ini bertujuan untuk memahami lebih baik perkembangan yang sehat serta menjelaskan bagaimana paparan dini ganja dan narkoba lainnya, pemicu stres, dan trauma mempengaruhi perkembangan otak dan kesehatan jiwa, serta cara mengurangi dampak buruknya.
Apakah ganja bersifat adiktif?
Penggunaan ganja yang mengandung THC secara kronis dan berat – setiap hari atau hampir setiap hari – dikaitkan dengan perkembangan gangguan penyalahgunaan ganja, jenis gangguan penyalahgunaan narkoba. Penelitian memperkirakan bahwa 20 – 30% pengguna ganja mengalami gangguan tersebut. Prediktor terkuat dari gangguan penyalagunaan ganja adalah seberapa sering seseorang mengonsumsinya, namun faktor lainnya seperti riwayat penyalahgunaan narkoba dalam keluarga dan berapa lama seseorang telah mengonsumsi ganja, juga berperan.
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) – sebuah teks referensi yang diterbitkan oleh the American Psychiatric Association yang digunakan oleh tenaga kesehatan untuk mendiagnosis gangguan penyalahgunaan narkoba serta gangguan psikiatrik lainnya – mendefinisikan gangguan penyalahgunaan ganja sebagai pola penggunaan yang mengarah kepada gangguan atau penderitaan signifikan secara klinis. Artinya, seseorang mengalami dua atau lebih gejala berikut dalam periode 12 bulan:
– Menggunakan ganja dalam jumlah yang lebih banyak atau dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang dimaksudkan.
– Keinginan yang terus-menerus atau upaya yang tidak berhasil untuk mengurangi atau mengendalikan penggunaan ganja.
– Menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan, atau memulihkan diri dari efek ganja.
– Keinginan, atau keinginan atau desakan yang kuat untuk menggunakan ganja.
– Menggunakan ganja meskipun menimbulkan masalah di tempat kerja, sekolah, atau rumah.
– Terus menggunakan ganja meskipun ada masalah sosial atau hubungan.
– Meninggalkan hobi penting, atau kegiatan dengan teman dan keluarga, atau di tempat kerja untuk menggunakan ganja.
– Menggunakan ganja dalam situasi yang berisiko cedera.
– Terus menggunakan meskipun mengetahui bahwa masalah fisik atau psikologis yang sedang berlangsung telah disebabkan atau diperburuk oleh penggunaan ganja.
– Toleransi terhadap ganja, yang merupakan kebutuhan untuk meningkatkan jumlah ganja untuk mencapai efek yang diinginkan.
– Gejala putus zat setelah menghentikan penggunaan ganja.
– Gangguan penyalahgunaan ganja didiagnosa ke dalam 3 kategori: ringan (ketika seseorang mengalami dua atau tiga gejala tersebut di atas), sedang (empat atau lima gejala), dan berat (6 atau lebih gejala tersebut di atas).
Apakah seseorang dapat mengalami gejala putus obat ganja?
Seseorang dapat mengalami gejala putus obat setelah berhenti atau secara signifikan mengurangi penggunaan ganja yang berat atau jangka panjang, meskipun mereka tidak memiliki gangguan penyalahgunaan ganja. Sebuah penelitian memperkirakan bahwa 12,1% orang yang sering mengonsumsi ganja mengalami gejala putus obat ganja. Gejala tersebut meliputi kemarahan, mudah tersinggung, agresi, perasaan gugup atau cemas, gelisah, nafsu makan atau berat badan menurun, depresi, insomnia, mengalami mimpi aneh atau meresahkan, sakit kepala, berkeringat, nyeri perut, dan tremor.
Apakah ada pengobatan bagi gangguan penyalahgunaan ganja?
Penelitian menunjukkan bahwa intervensi perilaku seperti cognitive behavioural therapy (CBT), motivational enhancement therapy (MET), dan contingency management (CM) efektif dalam mengobati gangguan penyalahgunaan ganja. Baca lebih lanjut mengenai behavioural treatments for substance use disorders di laman NIMH: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/substance-use-and-mental-health (terjemahan lengkap di: https://yayasanabhipraya.com/2024/07/27/substance-use-and-co-occuring-mental-disorders/). Belum ada obat yang disetujui peredarannya oleh FDA untuk pengobatan gangguan penyalahgunaan ganja atau untuk mengobati gejala putus obat dengan bantuan medis, namun penelitian mengenai hal ini masih terus berlangsung.
Apakah ganja merupakan zat “penghantar” (gateway)?
Produk ganja merupakan salah satu zat pertama, selain alkohol dan tembakau, yang dihadapi seseorang dalam hidupnya (MTF, 2023), dan pengguna narkoba biasanya menggunakan zat ini sebelum mencoba zat lainnya. Namun, sebagian besar orang yang menggunakan atau pernah menggunakan ganja tidak menggunakan zat lain di kemudian hari.
Akan tetapi, faktor risiko penggunaan ganja serupa dengan faktor risiko penggunaan zat lainnya yang berpotensi adiktif, dan banyak penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan ganja dengan perkembangan gangguan penyalahgunaan ganja. Penggunaan produk ganja di usia muda, khususnya, meningkatkan kecenderungan perkembangan gangguan penyalahgunaan ganja di kemudian hari. Selain itu, penggunaan ganja dapat menyebabkan perubahan di otak yang dapat membuat seseorang cenderung untuk mengembangkan kecanduan terhadap zat lainnya.
Apakah penggunaan ganja mempengaruhi cara mengemudi?
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja dapat mempengaruhi kemampuan seseorang mengemudi. Ganja merupakan zat yang paling sering ditemukan dalam darah pengemudi yang terlibat dalam kecelakaan kendaraan bermotor, termasuk yang berakibat fatal. Sejumlah analisa penelitian menemukan bahwa risiko terlibat dalam kecelakaan meningkat setelah penggunaan ganja. Namun, sebuah penelitian yang dilakukan oleh the National Highway Traffic Safety Administration menemukan tidak ada peningkatan signifikan risiko kecelakaan yang disebabkan oleh penggunaan ganja.
Bagaimana penggunaan ganja mempengaruhi remaja?
Masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan otak, dan penggunaan ganja mempengaruhi otak dengan cara yang mengarah ke efek buruk jangka panjang. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja yang berat dan reguler pada remaja dikaitkan dengan efek negatif pada memori kerja, kecepatan pemrosesan, memori verbal, dan fungsi akademik. Penggunaan ganja juga dikaitkan dengan efek negatif pada pencapaian pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan di masa dewasa muda.
Penggunaan ganja di usia muda juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan jiwa lainnya, termasuk kecenderungan akan perkembangan psikosis dan gangguan penyalahgunaan ganja di kemudian hari.
Survei Monitoring The Future yang didanai oleh NIDA meneliti penggunaan alkohol dan narkoba dan sikap terkait pada siswa remaja di seluruh US. Dapatkan data survei terkini terkait penggunaan ganja di tautan tersebut. NIDA mendanai The Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) StudySM yang mengikuti sekitar 12.000 anak-anak usia 9 dan 10 tahun – sebelum penggunaan narkoba umumnya bermula – hingga masa dewasa muda.
The ABCD Study® mempelajari efek lingkungan, sosial, genetik, dan faktor biologis lainnya terhadap perkembangan otak remaja. Penelitian ini akan memberikan masukan akan faktor risiko dan ketahanan terhadap penggunaan ganja dan narkoba lainnya sebagai informasi bagi intervensi pencegahan di masa depan. Lihat hasil ABCD Study® tentang paparan ganja untuk informasi lebih lanjut.
Bagaimana penggunaan ganja mempengaruhi dewasa lanjut?
Dalam beberapa tahun terakhir, orang dewasa berusia 50 tahun ke atas mengalami peningkatan penggunaan ganja dibandingkan dengan kelompok usia lainnya, dengan peningkatan tertinggi pada orang dewasa berusia 65 tahun ke atas. Penelitian menunjukkan bahwa dewasa lanjut umumnya menggunakan ganja untuk mengobati sendiri kondisi kronis seperti nyeri dan gangguan musculoskeletal, gangguan tidur, kecemasan dan depresi, kanker, glaukoma, penyakit Parkinson, dan HIV/AIDS.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ganja memiliki efek berbeda pada otak orang dewasa dibandingkan pada remaja atau dewasa muda yang menggunakan ganja. Ganja juga berinteraksi dengan obat-obatan yang digunakan oleh dewasa lanjut, seperti warfarin, opioid, dan benzodiazepin.
Apakah sejumlah produk ganja aman dan efektif digunakan sebagai obat?
FDA belum menyetujui penggunaan produk apa pun yang mengandung seluruh bahan tanaman ganja untuk tujuan apa pun, meskipun produk ganja dan kanabinoid dipasarkan untuk berbagai tujuan terapeutik dan tersedia di apotik ganja medis di banyak negara bagian di AS.
Namun demikian, FDA telah menyetujui obat-obatan berbasis THC sintetis (dronabinol dan nabilone) untuk mengobati mual dan muntah akibat kemoterapi kanker. Dronabinol juga telah disetujui penggunaannya untuk mengobati anoreksia dan penurunan berat badan akibat HIV/AIDS. FDA juga telah menyetujui obat berbasis kanabidiol yang berasal dari tanaman untuk mengobati kejang terkait bentuk epilepsi yang langka.
Terdapat bukti bahwa ganja secara efektif mengobati sejumlah bentuk nyeri, dan ada bukti baru bahwa ganja mungkin memiliki manfaat terapeutik tambahan. Penelitian terus mengeksplorasi potensi efek terapeutik ganja untuk memberikan informasi bermanfaat untuk membuat keputusan individu maupun kesehatan masyarakat, termasuk strategi untuk meminimalisasi potensi bahaya yang terkait dengan penggunaan ganja.
Penting untuk mengonsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi produk ganja dan kanabinoid untuk mengobati kondisi medis. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa orang AS semakin menganggap penggunaan ganja berisiko rendah, ganja dapat mengakibatkan efek kesehatan negatif dan dapat berinteraksi dengan obat lain yang dikonsumsi seseorang.
Bagaimana NIDA melakukan penelitian tentang ganja?
> NIDA mendanai penelitian tentang sistem endokanabinoid, senyawa kanabinoid, dan efek ganja terhadap kesehatan untuk mendukung kesehatan individu dan kesehatan masyarakat.
> Penelitian NIDA mendukung perkembangan pengobatan baru bagi gangguan penyalahgunaan ganja, yang mencakup penelitian tentang faktor-faktor yang mendasari penggunaan narkoba dan gangguan penyalahgunaan narkoba, serta tentang pengembangan cara-cara baru untuk mencegah gangguan penyalahgunaan narkoba.
> NIDA mendukung penelitian epidemiologi, penelitian kebijakan, dan hasil kesehatan masyarakat terkait penggunaan ganja, termasuk survei the Monitoring The Future dan pendaftaran penggunaan ganja medis.
> NIDA juga mendukung the HEALthy Brain and Child Development (HBCD) Study, studi jangka panjang terbesar tentang perkembangan anak dan otak di awal kehidupan di Amerika Serikat. Studi ini akan mengumpulkan informasi tentang partisipan selama kehamilan, saat persalinan, dan sepanjang masa kanak-kanak awal. Sebagian partisipan akan mencakup bayi yang terpapar ganja selama kehamilan atau masa bayi.
> The Adolescent Brain Cognitive DevelopmentSM Study (ABCD Study®) meneliti dampak paparan ganja sepanjang rentang hidup, dari periode prenatal hingga masa remaja dan masa dewasa muda, hingga dewasa lanjut.
> NIDA juga mendanai penelitian tentang potensi penggunaan terapeutik ganja dan kanabinoid untuk mengurangi penggunaan zat lainnya, termasuk opioid.
Highlights
Ganja merujuk kepada daun, bunga, batang, dan biji tanaman ganja yang dikeringkan. Tanaman ini memiliki banyak senyawa kimia yang berbeda, termasuk tetrahidrokanabinol (THC), yang memiliki efek memabukkan – mengubah pikiran.Produk ganja yang mengandung THC dapat menyebabkan perubahan suasana hati (mood), pikiran dan persepsi mengenai realitas. Produk-produk tersebut juga dapat menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan pada otak dan bagian tubuh lainnya. Dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi peningkatan besar dalam variasi produk ganja dan kadar THC yang dikandungnya, serta lebih banyak variasi cara orang mengonsumsinya. Kecuali disebutkan sebaliknya, informasi yang diberikan dalam website ini adalah tentang produk ganja dengan THC.NIDA mendanai penelitian mengenai efek kesehatan produk ganja, termasuk dampaknya terhadap perkembangan otak dan pada kesehatan jiwa. NIDA juga mendukung penelitian mengenai pencegahan dan pengobatan bagi gangguan penyalahgunaan ganja, potensi penggunaan terapeutik ganja, dan dampak kebijakan terkait ganja bagi kesehatan masyarakat.
Catatan:
Blunt : cerutu yang telah dikeluarkan tembakaunya dan digantikan dengan ganja. Cerutu ini juga dapat digulung menggunakan pembungkus daun tembakau, (sumber: https://www.healthline.com/health/what-is-a-blunt)
Secondhand smoke; asap pasif : asap yang dihasilkan dari pembakaran produk tembakau atau ganja dan asap yang dihembuskan oleh perokok. Menghirup asap tersebut secara tidak sengaja atau pasif disebut passive or involuntary smoking; dan juga disebut dengan asap tembakau lingkungan (environmental tobacco smoke; ETS) (sumber: https://www.cancer.gov/publications/dictionaries/cancer-terms/def/secondhand-smoke)
——————————
Tautan ke artikel asli: https://nida.nih.gov/research-topics/cannabis

