Heather Burrell Ward, Adam Beermann Jing Xie, Gulcan Yildiz, Karlos Manzanarez Felix, Jean Addington, Carrie E Bearden, Kristin Cadenhead, Tyrone D Cannon, Barbara Cornblatt, Matcheri Keshavan, Daniel Mathalon, Diana O Perkins, Larry Seidman, William S Stone, Ming T Tsuang, Elaine F Walker, Scott Woods, Michael J Coleman, Sylvain Bouix, Daphne J Holt, Dost Öngür, Alan Breier, Martha E Shenton, Stephan Heckers, Mark A Halko, Kathryn E Lewandowski, Roscoe O Brady Jr

Abstrak
Latar Belakang: Gangguan neurokognitif merupakan fenomena yang paling dikenal pada kasus skizofrenia yang terjadi sebelum onset psikosis. Studi asosiasi konektom secara tidak konsisten menghubungkan performa kognitif dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional keadaan istirahat. Kami berhipotesis bahwa instrumen kognitif yang dipilih dengan cermat serta populasi yang disempurnakan akan memungkinkan identifikasi hubungan otak perilaku yang andal dengan studi asosiasi konektom secara luas. Untuk menguji hipotesis ini, kami pertama-tama mengidentifikasi korelasi otak-kognisi melalui studi asosiasi konektom secara luas pada psikosis dini. Kami kemudian bertanya, dalam dataset independen, apakah hubungan otak-kognisi dapat digeneralisasi pada individu yang akan mengalami psikosis di kemudian hari.
Metode Penelitian: The Seidman Auditory Continuous Performance Task (ACPT) secara efektif membedakan partisipan yang sehat dari mereka yang mengalami psikosis. Studi asosiasi konektom kami menggunakan HCP-EP (Human Connectome Project for Early Psychosis) (n = 183) untuk mengidentifikasi hubungan antara konektivitas da performa ACPT. Kemudian, kami menganalisis data dari the NAPLS2 (North American Prodrome Longitudinal Study 2) (n = 345), studi prospektif multisite pada individu yang berisiko mengalami psikosis. Kami menguji studi asosiasi konektom yang luas yang mengidentifikasi hubungan konektivitas-kognisi, baik pada partisipan yang berisiko mengalami psikosis dan pada partisipan kontrol.
Hasil Penelitian: Studi asosiasi konektom kami pada psikosis tahap awal mengidentifikasi hubungan yang kokoh antara performa ACPT yang lebih baik dengan konektivitas prefrontal-somatomotor yang lebih tinggi (p < .005). Konektivitas prefrontal-somatomotor juga terkait dengan performa ACPT pada individual yang berisiko mengalami psikosis (n = 17). Hasil penelitian ini tidak terlihat pada nonconverterI (n = 196) atau partisipan kontrol (n = 132).
Kesimpulan: Studi asosiasi konektom ini mengidentifikasi hubungan yang dapat direproduksi antara konektivitas dan kognisi dalam sampel terpisah dari individu dengan psikosis dan individu yang berisiko mengembangkan psikosis di kemudian hari. Tugas dan populasi yang dipilih dengan cermat meningkatkan kemampuan studi asosiasi konektom untuk mengidentifikasi hubungan otak-fenotipe yang andal.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39032726/
Kalimat Kutipan: Ward HB, Beermann A, Xie J, Yildiz G, Felix KM, Addington J, Bearden CE, Cadenhead K, Cannon TD, Cornblatt B, Keshavan M, Mathalon D, Perkins DO, Seidman L, Stone WS, Tsuang MT, Walker EF, Woods S, Coleman MJ, Bouix S, Holt DJ, Öngür D, Breier A, Shenton ME, Heckers S, Halko MA, Lewandowski KE, Brady RO Jr. Robust Brain Correlates of Cognitive Performance in Psychosis and Its Prodrome. Biol Psychiatry. 2025 Jan 15;97(2):139-147. doi: 10.1016/j.biopsych.2024.07.012. Epub 2024 Jul 18. PMID: 39032726; PMCID: PMC11634655.

