Media Sosial Meningkatkan Risiko Depresi pada Kelompok Pra-Remaja

Social Media Increases Depression Risk in Pre-Teens

Media sosial tampaknya memang dapat mengakibatkan anak-anak lebih rentan mengalami depresi, hasil dari sebuah penelitian. Pra-remaja (anak usia 9 – 12 tahun) lebih cenderung mengalami gejala depresi ketika mereka lebih sering menggunakan media sosial, laporan para peneliti yang diterbitkan di jurnal JAMA Network Open.

Gejala depresi meningkat sebesar 35% ketika rata-rata penggunaan media sosial anak-anak meningkat dari 7 menit menjadi 73 menit dalam sehari selama periode 3-tahun. Namun demikian, kebalikannya tidak benar: anak yang depresi tidak selalu membanjiri media sosial, hasil penelitian tersebut menunjukkan.

Para peneliti menganalisis data dari hampir 12.000 anak-anak yang berpartisipasi dalam penelitian The Adolescent Brain Cognitive Study, penelitian yang didanai oleh dana federal AS dan merupakan penelitian terbesar jangka panjang yang meneliti perkembangan otak dan kesehatan anak di AS.

Para peneliti memeriksa gejala depresi pada anak-anak dan penggunaan media sosial pada usia 9 dan 10 tahun, dan tiga tahun setelahnya, pada usia 12 dan 13 tahun.

Tim peneliti menyatakan bahwa masih belum jelas mengapa media sosial dapat meningkatkan risiko depresi pada anak-anak, namun hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cyberbullying dan pola tidur yang terganggu sebagai kemungkinan penyebabnya.

Tautan ke berita lengkap: Social Media Increases Depression Risk In Pre-Teens   

Tautan ke artikel terkait: Social Media Use and Depressive Symptoms During Early Adolescence 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *