Louise Bradley, Rebecca Shaw, Simon Baron-Cohen, Sarah Cassidy

Abstrak
Latar Belakang: Kamuflase (yang juga disebut sebagai “masking”) adalah strategi yang umum dilaporkan oleh orang dewasa dengan autisme dalam keseharian untuk membantu mereka menghadapi situasi sosial. Orang dewasa dengan autisme melaporkan bahwa kamuflase dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi kesehatan mental dan kesejahteraan, namun masih sedikit yang diketahui mengenai pengalaman nyata dan dampak dari kamuflase.
Metode Penelitian: Kami mendisain survei online yang melibatkan orang dewasa dengan autisme, untuk mengeksplorasi pengalaman kamuflase dan dampaknya terhadap kesehatan mental. Para partisipan melaporkan sendiri pengalaman kamuflase yang mereka alami sepanjang hidup, termasuk frekuensi dan durasi waktu yang dihabiskan untuk kamuflase. Empat pertanyaan terbuka disediakan agar partisipan dapat mengelaborasi jawaban mereka terhadap pertanyaan-pertanyaan tertutup tentang frekuensi dan durasi waktu kamuflase, serta selanjutnya menjelaskan aspek negatif dan positif atas pengalaman mereka berkamuflase. Sebanyak 277 orang dewasa dengan autisme yang melaporkan sendiri bahwa mereka terdiagnosis dengan kondisi spektrum autisme (128 wanita, 78 pria) atau mengidentifikasi diri sendiri sebagai orang dengan autisme (56 wanita, 15 pria) diikutsertakan dalam analisis respon kualitatif terhadap pertanyaan-pertanyaan terbuka tersebut.
Hasil Penelitian: Kami melakukan analisis tematik terhadap jawaban partisipan atas pertanyaan-pertanyaan terbuka yang diberikan. Tiga tema utama muncul. Pertama, “bahaya kamuflase” mendeskripsikan bagaimana banyaknya waktu yang dihabiskan berkamuflase menyebabkan kelelahan, isolasi, kesehatan fisik dan mental yang memburuk, kehilangan identitas dan penerimaan diri, persepsi dan ekspektasi orang lain yang tidak realistik, serta diagnostik yang tertunda. Kedua, “aspek positif kamuflase” mencakup akses luas terhadap ruang sosial, dan perlindungan dari bahaya. Oleh karenanya, kamuflase dilihat sebagai kebutuhan untuk bertahan di dunia yang didisain untuk mayoritas neurotipikal (mayoritas populasi yang perkembangan otak, proses kognitif, dan perilakunya sesuai dengan norma dan harapan sosial). Ketiga, orang dewasa dengan autisme menjelaskan bahwa terdiagnosis dengan autisme dan diterima di lingkungan sosial sebagaimana mereka adanya menjadi alasan mengapa “saya tidak perlu kamuflase lagi seperti sebelumnya.”
Kesimpulan: Waktu yang dihabiskan untuk berkamuflase tampaknya menjadi hal yang paling merusak bagi kesehatan mental partisipan. Alasan utama berkamuflase yang mereka laporkan terkait menghabiskan banyak waktu untuk berkamuflase adalah kurangnya kesadaran dan penerimaan masyarakat akan autisme.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36601637/
Kalimat Kutipan: Bradley L, Shaw R, Baron-Cohen S, Cassidy S. Autistic Adults’ Experiences of Camouflaging and Its Perceived Impact on Mental Health. Autism Adulthood. 2021 Dec 1;3(4):320-329. doi: 10.1089/aut.2020.0071. Epub 2021 Dec 7. PMID: 36601637; PMCID: PMC8992917.

