Sejarah Penelitian Vaksin HIV

1984

HIV diidentifikasi sebagai penyebab AIDS. Margaret Heckler, US HHS Secretary, mengumumkan bahwa vaksin AIDS akan siap untuk diuji dalam dua tahun.

1987

Uji klinis pertama mengenai vaksin HIV dibuka di Pusat Klinis NIH di Bethesda, Maryland. Uji fase 1 tersebut melibatkan 138 sukarelawan yang tidak terinfeksi HIV. Sub-unit vaksin gp160 menunjukkan tidak ada efek negatif yang membahayakan.

1988

NIAID AIDS Vaccine Evaluation Group (AVEG), grup uji klinis vaksin HIV kooperatif pertama di AS, mulai merekrut partisipan untuk uji klinis pertamanya.

1992

NIAID meluncurkan uji klinis vaksin HIV fase 2. Uji klinis tersebut melibatkan partisipan yang tidak terinfeksi HIV dengan riwayat perilaku berisiko tinggi – penggunaan narkoba suntik, memiliki banyak pasangan seksual, atau pernah terkena IMS. Partisipan menjalani konseling berulang kali untuk menghindari perilaku berisiko yang membuat mereka dapat terinfeksi HIV.

1998

Hari Kesadaran Vaksin HIV yang pertama untuk menghormati para sukarelawan yang terlibat dalam penelitian vaksin HIV.

Uji klinis vaksin HIV skala besar pertama dimulai. VaxGen memulai uji klinis fase 3 dari AIDSVAX (VAX004) di Amerika Utara serta Belanda yang melibatkan lebih dari 5.400 partisipan.

1999

NIAID memulai uji klinis vaksin pencegahan HIV pertama di Afrika, tepatnya di Uganda.

Uji vaksin HIV berskala besar yang pertama kali dilaksanakan di negara berkembang. VAXGEN melaksanakan uji klinis fase 3 dari AIDSVAX (VAX003) yang melibatkan lebih dari 2.500 partisipan di Thailand.

Vaccine Research Center (VRC) yang baru didirikan dan dipersembahkan bagi advokat imunisasi, Dale dan Betty Bumpers.

2000

NIAID membentuk HIV Vaccine Trials Network (HVTN), sebuah jejaring pusat penelitian di AS dan luar negeri yang didedikasikan untuk mengembangkan vaksin pencegahan HIV dengan menguji dan mengevaluasi kandidat vaksin di seluruh fase uji klinis. Jejaring ini melibatkan lebih dari 25 pusat penelitian di AS, Afrika, Asia, Amerika Selatan, dan Karibia.

Uji klinis vaksin HIV pertama di Afrika telah selesai dilakukan di Uganda.

2003

Pemerintah AS dan Royal Thai bekerja sama dalam melaksanakan uji klinis fase 3 dari RV144 untuk menguji strategi vaksin baru yang umumnya disebut dengan “prime-boost”.

Pembentukan Global HIV Vaccine Enterprise diusulkan dalam the Journal Science.

2004

Kedua kandidat VaxGen gagal dalam memberikan perlindungan terhadap HIV dalam uji klinis fase 3.

2007

NIAID menunda studi Phase 2 Step dan studi Phambili karena isu keamanan.

2009

Studi HVTN 505 fase 2 dilakukan untuk mengevaluasi rejimen vaksin “prime-boost” yang dikembangkan oleh VRC.

Hasil dari Thai Trial fase 3 (RV144) menunjukkan bahwa kombinasi vaksin mendemonstrasikan efek pencegahan yang moderat pada manusia. Uji tersebut, yang melibatkan lebih dari 16.000 partisipan, merupakan uji klinis skala besar yang pertama – dan hingga kini, satu-satunya – yang menunjukkan efikasi sebuah vaksin HIV eksperimental.

2010

Para ilmuwan VRC mengidentifikasi 2 antibodi potensial dalam menetralisasi sebagian besar strain HIV di laboratorium (VRC01 dan VRC02).

The Pox-Protein Public-Private Partnership (P5), merupakan tim kolaboratif internasional, berkomitmen untuk mengembangkan keberhasilan RV144 dibentuk.

2011

HVTN 505 diperluas untuk mencakup perlindungan dari HIV sebagai hasil akhir utama.

2012

Analisis tambahan terhadap sampel RV144 memberikan masukan terkait jenis respon imunitas yang diperlukan bagi sebuah vaksin yang efektif.

2013

Imunisasi HVTN 505 dihentikan akibat kurangnya efikasi.

2015

Studi HVTN 100 fase 1/2, bagian dari upaya penelitian di P5, dilaksanakan untuk menguji keamanan dari rejimen vaksin HIV eksperimental berdasarkan hasil temuan pada RV144, serta kemampuannya dalam menghasilkan respon imun.

2016

NIAID meluncurkan studi AMP untuk menguji apakah infusi intravena dari antibodi VRC01 aman, dapat ditoleransi, dan efektif dalam mencegah infeksi HIV. Uji klinis tersebut juga didisain untuk menjawab pertanyaan ilmiah yang mendasar mengenai penelitian vaksin dan pencegahan HIV.

HVTN 702, bagian dari upaya penelitian P5, dilaksanakan untuk menguji apakah versi baru dari kandidat vaksin HIV RV144 secara aman mencegah infeksi HIV pada orang dewasa di Afrika Selatan.

2017

NIAID dan mitra kerja melaksanakan Imbokodo atau HVTN 705/HPX2008, , sebuah studi *proof-of-concept* Fase 2b yang mengevaluasi keamanan dan efikasi regimen eksperimental berbasis vaksin “mosaik” yang dirancang untuk memicu respons imun terhadap beragam jenis strain HIV global.

Tautan ke artikel asli: https://www.niaid.nih.gov/diseases-conditions/hiv-vaccine-research-history

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *