Apa yang dimaksud dengan rejimen pengobatan HIV?
Rejimen pengobatan HIV merupakan kombinasi obat HIV yang digunakan untuk mengobati infeksi HIV. Pengobatan HIV (juga disebut dengan terapi antiretroviral (antiretroviral therapy; ART) dimulai dengan memilih sebuah rejimen. ODHIV yang berada dalam pengobatan HIV minum obat HIV setiap hari. ART membantu ODHIV hidup lebih lama, lebih sehat, dan mengurangi risiko penularan HIV.
The U.S. Food and Drug Administration (FDA) (Badan POM Amerika Serikat) telah menyetujui lebih dari 30 jenis obat HIV untuk mengobati infeksi tersebut. Sejumlah obat HIV tersedia dalam bentuk kombinasi (dengan kata lain, 2 jenis atau lebih obat HIV yang berbeda digabungkan dalam 1 pil).
Obat HIV dikelompokkan ke dalam tujuh golongan obat berdasarkan cara obat tersebut bekerja melawan infeksi HIV.
Apa saja golongan obat HIV yang ada?
Tujuh golongan obat HIV adalah:
• Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs)1
• Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs)2
• Protease inhibitors (PIs)3
• Fusion inhibitors4
• CCR5 antagonists5
• Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs)6
• Post-attachment inhibitors7
Pilihan obat HIV dalam rejimen pengobatan HIV tergantung pada kebutuhan individual ODHIV. Klik tautan berikut untuk melihat HIVinfo Fact Sheet yang mencantumkan obat-obat HIV yang disetujui oleh FDA berdasarkan golongan obat: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/fda-approved-hiv-medicines
Faktor-faktor apa yang perlu dipertimbangkan ketika memilih rejimen pengobatan HIV?
Ketika memilih rejimen pengobatan HIV , ODHIV dan dokter perlu mempertimbangkan sejumlah faktor berikut:
• Kondisi atau penyakit lain yang dimiliki oleh ODHIV, seperti penyakit jantung atau kehamilan.
• Kemungkinan efek samping obat HIV.
• Potensi interaksi antara obat-obat HIV atau antara obat HIV dan obat lainnya yang diminum oleh ODHIV.
• Hasil tes resistensi obat (dan tes lainnya). Tes resistensi obat mengidentifikasi obat HIV mana, jika ada, yang tidak akan bekerja efektif melawan infeksi HIV di tubuh seseorang.
• Kenyamanan rejimen pengobatan. Rejimen yang mencakup dua atau lebih jenis obat HIV yang dikombinasikan dalam 1 pil lebih mudah untuk diminum.
• Isu lainnya yang membuat sulit untuk patuh dalam rejimen pengobatan HIV. Contoh, ketiadaan asuransi kesehatan atau ketidakmampuan membeli obat HIV dapat menjadi tantangan dalam upaya minum obat HIV secara konsisten setiap hari.
Rejimen pengobatan HIV terbaik bagi seseorang bergantung pada kebutuhan individualnya.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar obat HIV bekerja?
Viral load adalah jumlah HIV dalam darah orang yang terinfeksi HIV. Tujuan utama dari pengobatan HIV adalah mengurangi jumlah virus menjadi “tidak terdeteksi”. Viral load yang tidak terdeteksi menandakan jumlah HIV dalam darah terlalu rendah untuk dapat dideteksi oleh tes viral load.
Setelah pengobatan HIV dimulai, biasanya dibutuhkan waktu 3 – 6 bulan agar viral load seseorang mencapai tingkat “tidak terdeteksi”. Meskipun obat HIV tidak dapat menyembuhkan HIV, memiliki viral load yang tidak terdeteksi menunjukkan bahwa obat-obat tersebut dapat mengendalikan infeksi HIV seseorang. Mempertahankan tingkat viral load “tidak terdeteksi” dapat membantu ODHIV hidup lebih lama dan lebih sehat. Selain itu, ODHIV yang menjaga tingkat viral loadnya “tidak terdeteksi” secara efektif tidak berisiko menularkank HIV ke pasangannya yang HIV negatif melalui hubungan seks.
Poin-Poin Penting:
– Penggunaan obat HIV untuk mengobati infeksi HIV disebut dengan terapi antiretroviral (antiretroviral therapy; ART). ODHIV yang berada dalam pengobatan HIV menggunakan kombinasi obat-obat HIV (yang disebut dengan rejimen pengobatan HIV) setiap hari.
– The U.S. Food and Drug Administration (FDA) (Badan POM Amerika Serikat) telah menyetujui lebih dari 30 jenis obat HIV untuk pengobatan infeksi tersebut.
– Pilihan obat HIV dalam rejimen pengobatan HIV tergantung pada kebutuhan individual ODHIV. Ketika memilih rejimen pengobatan HIV, ODHIV dan dokter perlu mempertimbangkan banyak faktor, seperti kemungkinan efek samping dari obat HIV dan potensi interaksi obat.
Catatan:
1. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NNRTIs) mengikat dan memblokir HIV reverse transcriptase (enzim HIV). HIV menggunakan reverse transcriptase untuk mengubah materi RNA-nya menjadi DNA (transkripsi balik). Memblokir reverse transcriptase dan transkripsi balik mencegah HIV bereplikasi.
2. Nucleoside reverse transcriptase inhibitors (NRTIs) memblokir reverse transcriptase (enzim HIV). HIV menggunakan reverse transcriptase untuk mengubah materi RNA-nya menjadi DNA (transkripsi balik). Memblokir reverse transcriptase dan transkripsi balik mencegah HIV bereplikasi.
3. Protease inhibitors (PIs) memblokir protease (enzim HIV). Dengan memblokir protease, obat HIV golongan PI mencegah HIV muda (yang belum matang) menjadi virus matang yang akan menginfeksi sel CD4.
4. Fusion inhibitor memblokir selubung HIV menyatu dengan membran sel CD4 inang (fusi). Hal ini mencegah HIV memasuki sel CD4.
5. CCR5 antagonist memblokir koreseptor CCR5 pada permukaan sel imun tertentu, seperti limfosit T CD4 (sel CD4). Hal ini mencegah HIV memasuki virus tersebut.
6. Integrase strand transfer inhibitors (INSTIs) memblokir integrase (enzim HIV). HIV menggunakan integrase untuk memasukkan (mengintegrasikan) DNA virusnya ke dalam DNA sel CD4 inang. Memblokir integrase mencegah HIV bereplikasi.
7. Postattachment inhibitors merupakan golongan obat antiretroviral yang mengikat reseptor CD4 pada sel CD4 inang. Hal ini mencegah HIV menempel pada koreseptor CCR5 dan CXCR4 serta memasuki sel. Postattachment inhibitors merupakan bagian dari kelompok besar obat HIV yang disebut dengan entry inhibitors.
—————————-
Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/what-start-choosing-hiv-treatment-regimen

