Kathryn E Lancaster, William C Miller, Tetiana Kiriazova, Riza Sarasvita, Quynh Bui, Tran Viet Ha, Kostyantyn Dumchev, Hepa Susami, Erica L Hamilton, Scott Rose, Rebecca B Hershow, Vivian F Go, David Metzger, Irving F Hoffman, Carl A Latkin
PENDAHULUAN
Pengobatan HIV dan adiksi yang dibantu dengan obat (medication-assisted treatment; MAT) merupakan hal yang penting bagi penasun untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah terjadinya penularan. Pendekatan yang baru dibutuhkan untuk mendisain dan menerapkan intervensi yang fleksibel sehingga dapat berkesinambungan dan disesuaikan dengan kebutuhan individual penasun pada setting yang beragam dengan keterbatasan sumber daya. HIV Prevention Trials Network (HPTN) 074 didisain untuk menentukan kelayakan dan serapan dari intervensi ART dan MAT yang terintegrasi bagi penasun dengan HIV positif di 3 wilayah geografis dan seting yang berbeda: rumah sakit rujukan akademik di Indonesia, klinik spesialis penyakit menular di Ukraina, dan pusat kesehatan masyarakat tingkat distrik di Vietnam (Lancaster et al., 2018). Hasil studi HPTN 074 menunjukkan bahwa intervensi terintegrasi dalam studi ini dapat meningkatkan penggunaan obat ART dan MAT, serta mengurangi angka kematian pada penasun (Miller et al., 2018). Intervensi studi HPTN 074 memiliki potensi tinggi untuk mengurangi angka kematian dan kesakitan pada penasun secara global.
Tujuan utama dari manuskrip ini adalah untuk menjelaskan kerangka kerja dari intervensi multilevel yang fleksibel serta disesuaikan dengan kebutuhan individual bagi penasun dengan HIV positif untuk meningkatkan keterikatan dalam layanan HIV dan pengobatan adiksi di seting yang beragam. Kami menjelaskan pendekatan kami untuk mendapatkan panduan tingkat site tentang intervensi yang akan bersifat fleksibel dan cukup disesuaikan untuk menjawab hasil utama yang dapat diukur di ketiga site, tanpa terlalu spesifik untuk site.
METODE
Studi ini dilaksanakan di 3 wilayah geografis berbeda: Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraina; dan Thai Nguyen, Vietnam. Ketiga wilayah tersebut, yang memiliki pengalaman dalam melaksanakan uji klinis, dipilih berdasarkan epidemik HIV pada penasun, serta potensi dalam merekrut dan mempertahankan populasi yang sulit dijangkau ini. Saat ini di Indonesia, pemerintah fokus meningkatkan program layanan jarum suntik steril dan MAT. Layanan kesehatan di Ukraina merupakan sistem vertikal dengan klinik pararel yang menawarkan layanan spesialis dan koordinasi terbatas. Akibatnya, pengobatan HIV dan adiksi dilaksanakan di klinik berbeda oleh spesialis berbeda (Zaller et al., 2015). Sama dengan di Ukraina, sistem kesehatan di Vietnam didisain secara vertical tiga lapis yang dipantau oleh Kementerian Kesehatan (Dao, Hirsch, Giang le, 8c Parker, 2013).
Intervensi HPTN 074 didasari pada teori pemeliharaan (maintenance theory), teori kognitif sosial (social cognitive theory), dan meta-teori difusi inovasi perubahan perilaku, serta teori-teori disonansi kognitif, teori peran (role theory), norma-norma sosial, dan identitas sosial yang saling tumpang tindih dan merupakan perluasan dari meta-teori (Bandura, 1978; Festinger, 1954; Janis & Mann, 1977; Rogers, 2010; Rothman, 2001; Turner, 1975). Bingkai kerja multidimensional yang kami miliki menekankan peran psikososial, jejaring sosial, dan proses struktural terhadap perubahan dan pemeliharaan perilaku dan pemeliharaannya. Rekomendasi terbaru dalam meningkatkan akses ke dalam layanan, retensi, dan kepatuhan obat ART meliputi “pendekatan intervensi konseling dan edukasi multidisipliner”, “dukungan kepatuhan satu-satu kepada pasien melalui pendekatan konseling kepatuhan”, dan “manajemen kasus berdasarkan kekuatan yang ringkas untuk individu yang baru didiagnosa HIV” (Thompson et al., 2012).
Intervensi dalam elemen utama HPTN 074 terdiri dari navigasi sistem terintegrasi dan konseling psikososial untuk memfasilitasi entri ke dalam layanan HIV dan pengobatan adiksi, memfasilitasi inisiasi obat ARV, mempertahankan kepatuhan minum obat ART dan pengobatan adiksi. Partisipan indeks menerima sedikitinya 2 kali 1-jam-per-sesi konseling psikososial yang disesuaikan dengan kebutuhan individual setiap partisipan. Partisipan ditawarkan kesempatan untuk sedikitnya 2 sesi booster (tambahan), satu dan tiga bulan setelah enrolmen. Konselor menggunakan lembar penilaian kebutuhan yang terstandarisasi untuk menentukan tingkat kebutuhan partisipan indeks terkait konseling pengurangan risiko, entri dan retensi dalam pengobatan adiksi, layanan medis HIV, dan kepatuhan terhadap pengobatan. Berdasarkan penilaian ini, sesi individual tambahan yang bersifat opsional dilaksanakan sebagai bagian dari intervensi.
HASIL PENELITIAN
Penasun yang berpartisipasi dalam wawancara mendalam melaporkan bahwa banyak informasi yang tidak tepat mengenai inisiasi obat ART, yang membuat sebagian besar penasun tidak menyadari bahwa mereka dapat memulai pengobatan tersebut. Partisipan mengetahui bahwa banyak dari teman kelompok mereka yang memiliki kepatuhan minum obat ART yang rendah atau telah berhenti minum obat ART. Mereka mengindikasikan bahwa teman kelompok yang patuh minum obat ART umumnya memiliki dukungan sosial yang kuat, termasuk orang pendukung yang teridentifikasi untuk membantu mereka dengan manajemen pengobatan dan layanan HIV. Wawancara mendalam dengan orang pendukung penasun mengindikasikan pentingnya pemahaman mengenai infeksi HIV dan efeknya terhadap kesehatan jiwa penderita HIV.
Di Indonesia, pengobatan HIV sifatnya terdesentralisasi pada level pusat kesehatan masyarakat; namun demikian, kualitas sistem transportasi umum yang rendah menjadi penghalang utama dalam menerima pengobatan. Di Ukraina, tes dan pengobatan HIV umumnya tersedia di klinik yang berbeda, mengakibatkan keterlambatan dalam memulai pengobatan HIV setelah terdiagnosa. Sementara di Vietnam, individu dengan HIV positif diharuskan untuk mendaftar ke sistem layanan medis HIV beserta pendukungnya yang menimbulkan tantangan bagi mereka yang tidak dapat mengidentifikasi atau merekrut orang pendukung.
DISKUSI
HPTN 074 menggunakan pendekatan sistematis untuk membantu dalam memulai perawatan di sistem kesehatan pada berbagai seting yang berbeda. Kami juga mengatur dan membuat skrip sesi singkat bagi penasun yang mencakup modul-modul booster agar dapat dilaksanakan ketika diperlukan. Fleksibilitas dari modul-modul booster tersebut membuat tim intervensi dapat menjawab kebutuhan individual partisipan serta hambatan yang beragam
Selama pelaksanaan intervensi HPTN 074, kami mengidentifikasi tingginya biaya layanan HIV bagi partisipan di ketiga site. Meskipun pemerintah memberikan obat ART secara gratis, namun tes sebelum memulai obat tersebut yang sifatnya wajib tidak termasuk dalam cakupan tanggungan. Kami mengadaptasi intervensi dengan mensubsidi biaya tes sebelum memulai obat ART secara khusus. Kedepannya, evaluasi ekonomis sangat diperlukan untuk mengidentifikasi pendekatan yang berkesinambungan sehingga dapat menghapus beban financial penasun yang ingin memulai pengobatan HIV.
Di ketiga site, navigator sistem dan konselor psikososial mengumpulkan catatan rinci mengenai kebutuhan partisipan. Adaptasi terhadap intervensi dan manual pendukung dibuat sepanjang pelaksanaan penelitian berdasarkan kebutuhan partisipan. Pendekatan ini memungkinkan proses yang fleksibel dan berulang dalam menjawab hambatan dan kebutuhan partisipan.
KESIMPULAN
Intervensi kami yang sifatnya fleksibel dan terukur memberikan bingkai kerja yang fleksibel dan terukur untuk meningkatkan serapan obat ART dan MAT pada penasun di berbagai seting dengan sumber daya terbatas secara global.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30917014/
Kalimat Kutipan:
Lancaster KE, Miller WC, Kiriazova T, Sarasvita R, Bui Q, Ha TV, Dumchev K, Susami H, Hamilton EL, Rose S, Hershow RB, Go VF, Metzger D, Hoffman IF, Latkin CA. Designing an Individually Tailored Multilevel Intervention to Increase Engagement in HIV and Substance Use Treatment Among People Who Inject Drugs With HIV: HPTN 074. AIDS Educ Prev. 2019 Apr;31(2):95-110. doi: 10.1521/aeap.2019.31.2.95. PMID: 30917014; PMCID: PMC6594165.

