HIV drug resistance in persons who inject drugs enrolled in an HIV prevention trial in Indonesia, Ukraine, and Vietnam: HPTN 074
Philip J Palumbo, Yinfeng Zhang, Jessica M Fogel, Xu Guo, William Clarke, Autumn Breaud, Paul Richardson, Estelle Piwowar-Manning, Stephen Hart, Erica L Hamilton, Ngo T K Hoa, Mariya Liulchuk, Latifah Anandari, Tran Viet Ha, Kostyantyn Dumchev, Zubairi Djoerban, Irving Hoffman, Brett Hanscom, William C Miller, Susan H Eshleman
Abstrak
Latar Belakang: Pengguna narkoba suntik (penasun) memiliki insidens dan prevalensi HIV yang tinggi serta memiliki akses terbatas terhadap terapi antiretroviral di sejumlah tempat kami mengevaluasi resistensi obat HIV pada penasun yang berpartisipasi dalam uji klinik acak (HPTN 074). Intervensi penelitian ini mencakup ART yang segera dimulai tanpa melihat angka CD4 serta diperkuat dengan dukungan untuk mengakses layanan ART dan pengobatan penyalahgunaan narkoba.
Metode Penelitian: HPTN 074 melibatkan penasun yang terinfeksi HIV (partisipan indeks) dengan viral load ≥1.000 kopi/mL dan pasangan menyuntik mereka yang HIV negatif di Indonesia, Ukraina, dan Vietnam; penelitian ini membatasi partisipasi penasun HIV positif yang sudah berada dalam pengobatan. Tes resistensi obat HIV dan tes antiretroviral dilakukan menggunakan sampel darah yang dikumpulkan dari partisipan indeks pada saat enrolmen.
Hasil Penelitian: Sebanyak 54 (12%) dari 449 partisipan memiliki resistensi obat HIV; 29 (53,7%) dari 54 peserta memiliki resistansi multikelas. Prevalensi resistensi bervariasi berdasarkan site penelitian dan berhubungan dengan laporan individu mengenai penggunaan ART sebelumnya atau terkini, deteksi obat ARV, dan riwayat penahanan. Resistensi terdeteksi pada 10 (5,6%) dari 177 partisipan yang baru terdiagnosis. Partisipan dengan resistensi pada saat enrolmen cenderung tidak mengalami supresi virus setelah ditindaklanjuti di minggu ke-52, terlepas dari kelompok penelitian.

Kesimpulan: Dalam HPTN 074, banyak partisipan indeks yang terlibat dalam penelitian ini memiliki resistensi obat dan lebih dari separuhnya memiliki resistensi multi-kelas. Sejumlah partisipan yang baru terdiagnosa juga memiliki resistensi, yang menunjukkan bahwa mereka terinfeksi dengan jenis HIV yang resisten terhadap obat HIV. Faktor perilaku dan geografis dikaitkan dengan resistensi pada fase baseline penelitian. Resistensi tersebut dikaitkan dengan penurunan supresi virus selama fase tindak-lanjut penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawatan HIV yang ditingkatkan perlu disediakan bagi populasi berisiko tinggi untuk mencapai supresi virus yang berkelanjutan pada ART.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31600343/
Kalimat Kutipan:
Palumbo PJ, Zhang Y, Fogel JM, Guo X, Clarke W, Breaud A, Richardson P, Piwowar-Manning E, Hart S, Hamilton EL, Hoa NTK, Liulchuk M, Anandari L, Ha TV, Dumchev K, Djoerban Z, Hoffman I, Hanscom B, Miller WC, Eshleman SH. HIV drug resistance in persons who inject drugs enrolled in an HIV prevention trial in Indonesia, Ukraine, and Vietnam: HPTN 074. PLoS One. 2019 Oct 10;14(10):e0223829. doi: 10.1371/journal.pone.0223829. PMID: 31600343; PMCID: PMC6786608.

