Populasi penjara di Amerika Serikat cukup besar dan terkait dengan pelanggaran terkait narkoba. Meskipun angka pasti narapidan dengan gangguan penyalahgunaan narkoba (substance use disorders; SUDs) sulit diukur, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 65% populasi penjara di Amerika Serikat merupakan pengguna narkoba aktif. Sebanyak 20% tidak memenuhi kriteria resmi SUD, namun berada dibawah pengaruh narkoba atau alkohol pada saat mereka melakukan kejahatan.
Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa menyediakan pengobatan bagi penyalahgunaan narkoba secara komprehensif bagi para pelaku tindak pidana saat dipenjara dapat berhasil, mengurangi angka penyalahgunaan narkoba dan kejahatan setelah narapidana kembali ke komunitas.
Pengobatan selama di penjara merupakan hal penting untuk mengurangi kejahatan dan bebas social terkait narkoba lainnya secara keseluruhan – seperti hilangnya produktivitas kerja, disintegrasi keluarga dan kembalinya narapidana secara terus menerus ke penjara, yang dikenal sebagai residivisme. Pengobatan yang tidak memadai selama dipenjara juga berkontribusi terhadap overdosis dan kematian ketika narapidana meninggalkan system penjara.
Apa saja tantangan dalam menangani gangguan penyalahgunaan narkoba di populasi ini?
Agar efektif bagi populasi ini, perawatan harus dimulai di dalam penjara dan dilanjutkan setelah bebas melalui partisipasi dalam program perawatan komunitas. Dengan terlibat dalam proses terapi berkelanjutan, orang dapat belajar cara menghindari relaps dan menarik diri dari kehidupan criminal. Namun demikian, hanya sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan perawatan di balik penara benar-benar menerimanya, dan terkadang perawatan yang tersedia tidak memadai.
Narapidana dengan gangguan penyalahgunaan opioid khususnya menimbulkan tantangan tersendiri, selama waktu mereka di penjara, banyak narapidana yang tidak mendapatkan perawatan akan mengalami penurunan toleransi terhadap opioid karena mereka berhenti menggunakan narkoba ketika dipenjara. Saat bebas, banyak yang kembali menggunakan narkoba dengan jumlah yang sama dengan yang mereka gunakan sebelum dipenjara, tanpa menyadari bahwa tubuh mereka tidak dapat mentoleransi dosis yang sama, meningkatkan risiko mereka mengalami overdosis dan kematian. Sebuah penelitian menemukan bahwa 14,8% kematian pada mantan narapidana dari tahun 1999 – 2009 dilaporkan terkait dengan opioid. Konseling pra-pembebasan yang tidak mencukupi dan/atau tindak lanjut pasca pembebasan bertanggung jawab sebagian atas peningkatan angka kematian tersebut.
Mengapa perawatan sangat penting bagi populasi ini?
Penelitian ilmiah sejak pertengahan tahun 1970-an menunjukkan bahwa perawatan bagi pengguna narkoba dalam sistem peradilan pidana dapat merubah sikap, keyakinan, dan perilaku terhadap penyalahgunaan narkoba; menghindari relaps; dan berhasil memisahkan diri mereka dari kehidupan dengan narkoba dan tindak criminal. Contohnya, penelitian membuktikan bahwa penggunaan obat-obatan bagi gangguan penyalahgunaan opioid di dalam sistem peradilan pidana menurunkan penggunaan opioid, tindak criminal pasca pembebasan, dan menurunkan penularan penyakit menular. Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa kematian akibat overdosis setelah penahanan lebih rendah ketika narapidana menerima pengobatan untuk adiksinya.
Bagaimana gangguan penyalahgunaan narkoba ditangania dalam sistem peradilan pidana?
Laporan terkini dari National Academy of Sciences mengenai “Medications for Opioid Use Disorder” menyatakan bahwa hanya 5% dari pengguna opioid di dalam penjara menerima perawatan dengan obat. Sebuah survei terhadap direktur medis penjara menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka tidak menyadari manfaat dari penggunaan obat-obatan dengan perawatan, dan ketika perawatan diberikan, biasanya hanya terdiri dari konseling perilaku, dan/atau detoksifikasi tanpa perawatan lanjutan.
Perawatan efektif untuk gangguan penyalahgunaan narkoba bagi narapidana membutuhkan pendekatan komprehensif yang terdiri dari hal-hal berikut:
> Terapi perilaku, yaitu:
- Cognitive-behavioral therapy, yang membantu mengubah harapan dan perilaku pasien terhadap penggunaan narkoba, dan secara efektif mengelola pemicu serta stres
> Contingency management therapy, yang memberikan insentif motivasi dalam bentuk voucher atau uang tunai sebagai penghargaan atas perilaku positif.
> Obat-obatan, seperti metadon, buprenorfin, dan naltrekson
> Layanan tambahan setelah dibebaskan dari sistem peradilan pidana, mencakup bantuan untuk perumahan dan pekerjaan
> Edukasi mengenai overdosis dan distribusi nalokson (obat reversal opioid) saat menjalani program perawatan pengalihan atau setelah dibebaskan.
Bagaimana dengan biaya perawatan?
Kegagalan dalam menangani gangguan penyalahgunaan narkoba di dalam sistem peradilan pidana tidak hanya memiliki implikasi sosial yang negatif, namun juga terbukti lebih mahal. Sebuah penelitian mengenai narapidana di dalam sistem peradilan pidana California menunjukkan bahwa keterlibatan dalam perawatan dikaitkan dengan rendahnya biaya kejahatan dalam komunitas dalam waktu 6 bulan setelah perawatan. Selain itu, manfaat ekonomis jauh lebih besar bagi individu yang menerima perawatan tanpa batas waktu.
Sebuah laporan dari The National Drug Intelligence Center memperkirakan bahwa biaya yang ditanggung masyarakat atas penyalahgunaan narkoba sebesar $193 miliar di tahun 2007, sebagian besarnya ($113 miliar), dikaitkan dengan kejahatan yang terkait dengan penggunaan narkoba, serta biaya sistem peradilan pidana dan biaya yang ditanggung oleh korban kejahatan. Laporan yang sama menunjukkan bahwa biaya perawatan penyalahgunaan naroba (termasuk biaya kesehatan, rawat inap, dan perawatan khusus pemerintah) diperkirakan sebesar $14,6 miliar, sebagian kecil dari keseluruhan biaya sosial. Diperkirakan bahwa biaya yang ditanggung oleh masyarakat meningkat secara signifikan sejak laporan tahun 2007 tersebut, mengingat meningkatnya biaya penyalahgunaan obat resep.
Ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa bahkan mereka yang pada awalnya tidak termotivasi untuk berubah, pada akhirnya terlibat dalam proses perawatan berkelanjutan, yang menunjukkan bahwa perawatan harus bersifat sukarela agar dapat berhasil. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di Principles of Drug Abuse Treatment for Criminal Justice Populations: A Research-Based Guide.
Para ilmuwan NIDA secara aktif mencari solusi melalui NIH HEAL (Helping to End Addiction Long-Term) initiative. Sebagai tambahan, untuk mendukung mereka yang bekerja dengan remaja dan orang dewasa dalam sistem peradilan, termasuk hakim, konselor, pekerja sosial, petugas kasus, dan lainnya, NIDA telah membuat materi dan telah mengidentifikasi sumber bermanfaat lainnya yang dapat digunakan untuk mengedukasi para pelanggar dan mereka yang bekerja dengan para pelanggar tersebut mengenai ilmu pengetahuan terkait penggunaan dan penyalahgunaan narkoba serta adiksi.
Sumber informasi lainnya yang terkait:
- The Science of Drug Use – Discussion Points
- NIDA Research Dissemination Center
- NIDA Justice System Research Initiatives
- Family Resource Center
Poin-poin untuk diingat :
> Terdapat tingkat penyalahgunaan narkoba yang tinggi di dalam sistem peradilan pidana.
> 85% dari narapidana memiliki gangguan penyalahgunaan narkoba atau dipenjara karena kejahatan yang melibatkan narkoba atau penggunaan narkoba.
> Narapidada dengan gangguan penyalahgunaan narkoba berisiko tinggi mengalami overdosis setelah dibebaskan dari penjara.
> Perawatan selama dan setelah penjara adalah tindakan efektif dan mencakup perawatan komprehensif (termasuk obat-obatan, terapi perilaku, kesempatan untuk perumahan dan pekerjaan, dan lain-lainnya).
> Meskipun mahal, perawatan dalam sistem peradilan pidana menghemat uang dalam jangka panjang.
> Penelitian sedang berjalan untuk menemukan solusi terbaik.

