“Take The Rights Path: Mencapai Sehat, Sejahtera, dan Produktif”
Dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2024, Yayasan Abhipraya bersama para pakar untuk menyelenggarakan webinar untuk mengeksplorasi cara menjaga kesehatan dan produktivitas di tengah tantangan HIV/AIDS.
Webinar dimulai tepat pukul 13:00 WIB oleh moderator (Dr. Dyah Agustina Waluyo), yang diikuti dengan kata sambutan dari Ketua Harian Yayasan Abhipraya (Drs. Yuki Ruchimat, M.Si) dan Direktur P2PM Kemenkes RI (dr. Ina Agustina Isturini, MKM). Masing-masing narasumber menghantarkan materi selama kurang lebih 20 menit yang diikuti dengan sesi Tanya-Jawab yang berlangsung selama 20 menit. Webinar seri I HAS 2024 selesai pada pukul 15:30 WIB.
Jumlah peserta yang hadir melalui tautan Zoom Abhipraya adalah 106 orang. Dan, jumlah peserta yang mengikuti webinar melalui Plataran Sehat adalah 2.115 orang.
Berikut ini adalah pertanyaan/pernyataan dari tiga peserta aktif dalam webinar tersebut.
Peserta aktif I
Pertanyaan:
Selamat siang prof, dokter dan bapak ibu sekalian. Perkenalkan saya ____________ dari Puskesmas ________, Pontianak. Izin bertanya kepada Prof. Zubairi. Apabila menemukan pasien baru laki laki usia 20 tahun dengan HIV reaktif dan HbsAg yang juga positif dengan hasil profil SGOT dan SGPT yang meningkat tanpa gejala klinis, kira kira kapan dapat dilakukan inisisasi ARV, Prof? Apakah harus menunggu SGOT dan SGPT normal terlebih dulu dengan diberikan hepatoprotektor atau bisa langsung dimulai untuk ARV, Prof? Dan untuk regimen ARV yang dapat digunakan bagaimana, Prof? Mengingat di puskesmas kami hanya tersedia regimen TLD dan TLE. Untuk pasien sendiri merupakan pasien umum dan belum berkenan apabila dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam di RS karena kendala biaya.
Jawaban:
Prof Zubairi: Obatnya harus segera dimulai, itu yang pertama. Antiretroviral segera dimulai. Antiretroviral yang mana? Kalau ginjalnya baik, TLD (dolutegravir, lamifudin, dan tenofovir). Tenofovir diperlukan untuk liver-nya. Sedangkan dolutegravir, karena ada HbsAg-nya positif tergantung dari fungsi liver berikutnya. Jadi, sementara mulai saja langsung kemudian nanti dosisnya disesuaikan setelah ada hasil pemeriksaan yang lain. Jadi, misalnya ada sirosis hati, kolinestrase-nya rendah. Kemudian apakah livernya mulai mengecil atau tidak, dalam hal itu dosisnya perlu dikurangi. Artinya, dolutegravir-nya tetap diperlukan, lamifudin-nya diperlukan dan tenofovir-nya diperlukan karena ada Hepatitis B. teno, iya; lami, iya; dolutegravir kalau kasusnya lanjut berikan saja dosisnya dikurangi sesuai dengan fungsi ginjal. Kalau berat banget, ya separuh dosis saja, dolutegravir-nya.
(moderator): maaf, Prof ini SGOT/PT-nya meningkat.
Oh, gak apa-apa. Itu tergantung dari kriteria Child: bagaimana albumin, bilirubin, bagaimana kolinestrase-nya, ada asitas tidak, jadi kalau yang lainnya masih compensated, bisa lanjut pakai TLD saja.
(moderator): Prof Samsuridjal ada tanggapan?
Prof Samsu: Saya rasa cukup, namun ini menggambarkan bahwa persediaan obat kita meskipun sebagian besar mungkin homogeny. Jadi, bisa pakai TLD atau TLE terus, tapi yang 20% barangkali harus tetap menyediakan kesempatan bagi mereka yang problem seperti ini.
Peserta aktif II
Pernyataan:
Selamat siang, dr. Dyah, Prof, dan dokter semua yang saya hormati. Memang hari ini kita membicarakan tentang kasus-kasus AHD ya, tapi saya pikir kasus AHD yang demikian kompleks makin lama akan menyulitkan dan memberatkan para nakes dan layanan kesehatan yang ada saat ini. Jadi kalau menurut saya, Kemenkes sudah saatnya mulai memikirkan lagi apa saja program-program di hulu, pencegahan, promosi, kita advokasi. Itu harus ditingkatkan karena kalau tidak banjir akan terus datang; kasus-kasus baru akan datang. Sebagai contoh di propinsi Banten, dalam Januari sampai Oktober tahun ini, 10 bulan, ditemukan 2.100 pasien baru atau orang dengan HIV yang baru; berarti setiap bulannya itu ada sekitar 210 pasien baru. Nah, ini baru dalam 10 bulan, tahun ini. Bisa kita bayangkan kalau kita tidak mengerjakan program-program di hulu, akan semakin banyak. Padahal isu-isu terakhir ini sudah semakin mengkhawatirkan, munculnya young gay population, anak-anak muda yang berani menawarkan diri sebagai wanita pekerja seks, sebagai homoseksual, dan sebagainya, itu semakin meningkat. Dan juga dampak negative dari sosmed dan dating app, sudah semakin memprihatinkan.
Jadi kalau menurut saya, kita perlu melindungi remaja kita dengan pengetahuan dan pemahaman sehingga akhirnya mereka bisa melindungi dirinya sendiri sekaligus bisa menghormati badan orang lain; tidak sembarangan main colek, main usap dan sebagainya. Jadi kalau menurut saya, ini perlu dapat perhatian karena kita masih punya orang yang sehat lebih banyak daripada orang yang sakit. Orang yang sakit saja sudah memberatkan kita. Apalagi kalau besok-besok ini bertambah banyak orang sakit itu akan semakin memberatkan. Akhirnya, layanan kesehatan akan give-up mungkin ya karena sudah demikian beratnya. Dan kita punya tenaga yang menatalaksanakan hal itu terbatas juga. Jadi kalau gak dipikirkan dari sekarang itu bisa terjadi ledakan yang luar biasa. Jadi menurut saya, melalui acara ini, saya menghimbau semua pihak termasuk timker HIV/AIDS, mari kita bicara lagi, kita pikir lagi 5 tahun 6 tahun ke depan untuk sampai 2030 apa yang mau kita lakukan? Kita harus bekerja cepat di 511 kabupaten/kota. Karena sekarang sudah 511 dari 514 kab/kota yang telah melaporkan ada kasus. Jadi bukan pekerjaan ringan itu. Jadi kalau menurut saya itu harus benar-benar diperhatikan dengan sangat serius karena mengancam generasi penerus bangsa. Terima kasih.
(moderator): Terima kasih. Jadi ini untuk mengingatkan kita bahwa prefentif dan promotif harus tetap kita perhatikan bahkan penting dilakukan agar kita tidak selalu menjadi nyapone kasus saja begitu. Dr. Darma ada tanggapan? Apakah bisa dicegah di hulu?
Dr. Darma: Saya kira sangat penting mencegah di hulu dan tentu itu sangat efektif. Tetapi tadi, sebagian kecil subset-nya itu memang dengan pencegahan mati-matian di hulu tetap dia sudah datang dalam keadaan sakit. Nah, tentu saja pencegahan di hulu mungkin masih banyak orang lain yang berkompete di situ; lebih ke arah public health approach. Tapi kalau untuk yang sudah datang dalam keadaan sakit berat, itu sebetulnya masih juga bisa diselamatkan tidak begitu saja kita terima bahwa “yah, sudah tidak bisa diapa-apakan.” Karena mungkin saja mereka membutuhkan perawatan singkat tetapi berkualitas setelah itu mereka sembuh dan bisa menggunakan ARV dan merasakan manfaat ARV untuk kehidupannya untuk bertahun-tahun ke depan dengan perawatan singkat yang berkualitas, ya bisa didiagnosis TB-nya, atau kita diagnosis infeksi lain mungkin dia dirawat 2 minggu, 1 bulan bahkan 3 bulan (dan) kembali ke rumah tapi setelah itu dia bisa hidup mungkin 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun dengan ARV. Seperti itu maksud saya, dr. Dyah.
(moderator): Artinya, kita perlu menguatkan semua lini ya, dok, baik itu pencegahan di masyarakat, baik itu melalui jalur pendidikan generasi muda, pendidikan formal dan sampai penguatan di layanan kesehatan, tentu sejalan dengan penguatan layanan primer. Jadi, perlu dikuatkan, termasuk penguatan di hilir.
Prof. Samsu: Saya tertarik dengan (pernyataan) dr. S tadi. Apakah ada tool karena sekarang kita punya informasi teknologi yang sebenarnya bisa dimanfaatkan. Dulu 10 tahun yang lalu saya tahu kita punya alat ukur survey sederhana “berapa % remaja yang tahu tentang HIV/AIDS?” cara penularan gitu. Tapi sekarang sebenarnya kan banyak tool baru dari informasi teknologi ini yang kita bisa ukur remaja kita itu sudah sejauh apa mereka tahu tentang HIV/AIDS ini, terutama sekali cara penularan ya. Kalau kita bisa buatkan alat ukurnya oleh Kemenkes RI dan bisa dilaksanakan di masing-masing kab/kota lalu kita bisa mengukur minimal pengetahuan mereka tentang cara penularan ini sudah berapa % begitu. Dan itu harusnya bisa karena pada umumnya remaja punya handphone. Jadi bagaimana caranya agar kemajuan informasi teknologi ini juga bisa mempermudah kita untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS. Tentu kalau hanya sekedar pengetahuan bisa, tapi tentu kita juga ingin “sikap” ya. Dan, itu lebih sulit untuk diukur dengan survey. Terima kasih.
Peserta aktif III
Pernyataan:
Mengatasi Tantangan HIV di Tahun 2024 dan Seterusnya:
- Edukasi HIV: Terus mengedukasi masyarakat melalui berbagai media tentang pencegahan dan pengobatan HIV.
- Transparansi: Menuntut keterbukaan dari pihak berwenang terkait kebijakan dan program penanganan HIV.
- Promosi TPT dan PrEP: Mendorong masyarakat mengenal dan mengakses program pencegahan TBC dan HIV.
- Dukungan MMD: Menyebarkan kebijakan MMD dan memastikan akses yang konsisten dalam komunitas.
- Advokasi HIV: Menjadi advokat bagi orang yang hidup dengan HIV untuk memperjuangkan hak-hak mereka.
- Suara U=U: Menyuarakan bahwa viral load yang tidak terdeteksi tidak dapat menularkan HIV.
- Kerja Sama Lintas Sektor: Melibatkan berbagai sektor untuk upaya pencegahan dan pengendalian HIV.
- Penelitian HIV: Mendukung penelitian untuk menemukan metode pencegahan dan pengobatan HIV yang efektif.
- Kepedulian Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap HIV untuk mendukung upaya pencegahan.
- Mengurangi LTFU: Menekan jumlah orang dengan HIV yang hilang kontak dengan layanan kesehatan.

