Metamfetamin merupakan stimulan yang dibuat di lab (sintetik) dengan potensi tinggi menyebabkan adiksi. FDA telah menyetujui penggunaan metamfetamin sebagai pengobatan bagi attention deficit hyperactive disorder (ADHD) serta pengobatan jangka pendek bagi obesitas. Metamfetamin diklasifikasikan oleh DEA sebagai stimulan kategori II, yang membuat zat ini tersedia secara legal hanya melalui resep yang tidak dapat diisi ulang.
Namun demikian, sebagian besar metamfetamin yang digunakan di AS diproduksi secara ilegal, dan umumnya berbentuk bubuk atau kristal yang disebut metamfetamin Kristal (nama umum lainnya termasuk “Tina”, “ice”, dan “crystal meth”.
Metamfetamin umumnya dihirup, namun juga dapat dihisap, disuntik, atau diberikan secara oral atau rektal. Penggunaan metamfetamin menyebabkan kewaspadaan meningkat dan banyak bicara, penurunan nafsu makan, serta perasaan bahagia dan sejahtera, diantara efek langsung lainnya. Namun, penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan efek kesehatan yang serius, termasuk overdosis yang tidak disengaja. Metamfetamin juga terdapat pada banyak orang yang meninggal akibat overdosis yang melibatkan fentanil.
Apa saja efek kesehatan jangka pendek metamfetamin?
Efek metamfetamin dapat dirasakan segera atau dalam waktu 20 menit, bergantung pada cara penggunaan. Ketika dihirup atau disuntik, zat ini masuk ke dalam aliran darah dan otak dengan cepat dan menghasilkan perasaan “rush” atau euforia dengan cepat dan intens. Efek segera lainnya dari zat ini mencakup peningkatan kewaspadaan, rasa percaya diri, energi, dan gairah seks, serta penurunan nafsu makan.
Efek euforia dengan cepat hilang dan mengarah ke kondisi “crash”. Sejumlah orang berusaha menghindari kondisi ini dan memperpanjang efek euforia dengan mengonsumsi zat ini berulang-ulang dalam jumlah besar. Penggunaan berulang dengan cara ini meningkatkan risiko gangguan penyalahgunaan metamfetamin.
Penggunaan metamfetamin dapat menimbulkan efek negatif bagi kesehatan, termasuk paranoia, kecemasan, detak jantung cepat, denyut nadi tak teratur, stroke, tekanan darah meningkat, kerusakan ginjal, overdosis non-fatal (juga disebut “overamping”), atau overdosis fatal.
Apa saja risiko kesehatan jangka panjang dari penggunaan metamfetamin?
Metamfetamin mempengaruhi sistem dan organ tubuh dan dapat menyebabkan masalah kesehatan yang berat, khususnya ketika digunakan secara rutin. Masalah yang ditimbulkan seperti tersebut di bawah ini:
Gangguan penyalahgunaan narkoba
- Kandungan unik metamfetamin membuat zat ini bersifat sangat adiktif. Penggunaan metamfetamin yang berulang-ulang dapat mengarah kepada gangguan penyalahgunaan metamfetamin.
Gangguan kesehatan jiwa lainnya
- Kecemasan, kebingungan, insomnia, dan gangguan suasana hati.
- Gejala psikosis, seperti melihat dan/atau mendengar hal-hal yang tidak ada (halusinasi) dan sangat percaya pada cerita atau ide palsu (delusi), bahkan ketika sedang tidak mabuk. Minum alkohol yang berlebihan dan stres terbukti meningkatkan kemungkinan seseorang yang pernah mengalami psikosis-terkait-penggunaan-metamfetamin di masa lampau akan mengalami gejala psikosis lagi.
Dampak bagi kognisi indivisu
- Sejumlah penelitian menunjukkan penurunan fungsi kognitif yang berkaitan dengan penggunaan metamfetamin jangka panjang, termasuk kesulitan dalam pembelajaran verbal dan waktu reaksi yang melambat (penurunan kecepatan motoris). Lebih banyak penelitian diperlukan untuk mengetahui dampak penyalahgunaan metamfetamin pada tingkat kognisi seseorang.
Efek kesehatan jangka panjang lainnya
- Meningkatnya kemungkinan tertular infeksi bakteri, seperti infeksi jantung yang disebut infective endocarditis* melalui tindakan berbagi perangkat menyuntik.
- Meningkatnya kemungkinan tertular HIV atau hepatitis melalui tindakan berbagi perangkat menyuntik atau perilaku seksual yang berkaitan dengan penggunaan metamfetamin.
- Kondisi kardiovaskular seperti stroke dan gagal jantung.
- Kerusakan dan kehilangan gigi (“meth mouth”).
- Menurunnya fungsi seksual pada laki-laki.
Bagaimana penggunaan metamfetamin berkaitan dengan HIV dan hepatitis?
Penggunaan metamfetamin berkontribusi terhadap penularan virus seperti HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C dengan 2 cara:
- Berbagi peralatan menyuntik, termasuk jarum suntik, dapat menularkan HIV, Hepatitis B, dan Hepatitis C pada pengguna metamfetamin suntik.
- Karena pengaruh metamfetamin terhadap gairah seks dan keyakinan diri, penggunaan metamfetamin dapat mengarah ke perubahan perilaku seksual, seperti memiliki lebih banyak pasangan seksual dan cenderung tidak menggunakan alat pelindung. Hal ini meningkatkan risiko penularan HIV dan Hepatitis.
Penggunaan metamfetamin yang persisten merupakan faktor risiko tunggal terbesar penularan HIV pada kelompok gender minoritas yang berhubungan seksual dengan laki-laki. Pada kelompok gay dan biseksual, penggunaan metamfetamin serta hubungan seks kerap disebut dengan “partying and playing” (https://nida.nih.gov/videos/sex-meth-hiv). Penggunaan metamfetamin juga membuat pengobatan HIV menjadi kurang efektif.
Syringe-service program (https://nida.nih.gov/research-topics/syringe-services-programs) yang menyediakan perangkat menyuntik bersih bagi pengguna narkoba suntik, merupakan tindakan pengurangan-dampak-buruk yang sangat efektif, serta mengurangi penyebaran penyakit menular secara signifikan.
Apa bahaya penggunaan metamfetamin selama kehamilan?
Penggunaan metamfetamin selama kehamilan dikaitkan dengan dampak kesehatan dan perkembangan yang buruk, termasuk:
- Meningkatnya risiko placenta abruption (pemisahan lapisan plasenta dari rahim) dan kelahiran prematur.
- Meningkatnya risiko keguguran dan kematian bayi.
- Berat badan lahir rendah, lingkar kepala berkurang, dan ukuran tubuh bayi baru lahir kecil.
- Menurunnya kewaspadaan bayi, meningkatnya stres, dan buruknya kualitas gerakan bayi.
- Keterlambatan perkembangan motorik (gerakan) pada balita.
- Perubahan perkembangan otak, yang mungkin mengakibatkan kesulitan bagi anak dalam memperhatikan pelajaran di sekolah.
Penelitian menunjukkan bahwa berhenti menggunakan metamfetamin kapanpun selama kehamilan dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan perkembangan bayi yang dilahirkan.
Apakah metamfetamin dapat menyebabkan kecanduan?
Metamfetamin merupakan zat yang berpotensi tinggi menyebabkan adiksi atau kecanduan. Zat ini masuk ke dalam otak dengan cepat dan menghasilkan efek “rush” yang intens atau euforia yang juga berakhir dengan cepat. Hal tersebut membuat zat ini sangat kuat dan mengarahkan individu untuk menggunakannya berulang kali. Dalam beberapa tahun terakhir, hampir dua dari tiga orang berusia 26 tahun ke atas yang melaporkan menggunakan metamfetamin dalam setahun terakhir memenuhi kriteria gangguan penyalahgunaan narkoba.
Orang yang bermasalah dengan penggunaan metamfetamin memiliki gejala yang disebut dengan gangguan penggunaan stimulan. The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) – sebuah pedoman rujukan yang digunakan oleh tenaga profesional untuk mendiagnosis penyalahgunaan narkoba dan gangguan psikiatrik lainnya – mendefinisikan gangguan penggunaan stimulant sebagai “pola penggunaan stimulan yang menyebabkan gangguan atau tekanan yang signifikan secara klinis. Hal ini menunjukkan bahwa seseorang telah mengalami dua atau lebih gejala berikut dalam periode 12 bulan:
- Mengonsumsi narkoba dalam jumlah yang lebih banyak atau lebih lama dari yang diinginkan.
- Terus-menerus dan tidak berhasil mengurangi atau mengatur penggunaan narkoba.
- Menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan, atau memulihkan diri dari efek narkoba.
- Mengalami keinginan yang kuat untuk menggunakan narkoba (craving).
- Gagal memenuhi kewajiban utama di tempat kerja, sekolah, atau rumah karena penggunaan narkoba.
- Melanjutkan penggunaan narkoba meskipun hal tersebut menimbulkan masalah signifikan dalam hubungan sosial atau interpersonal.
- Mengurangi atau menghentikan aktivitas lain karena penggunaan narkoba.
- Menggunakan narkoba berulang kali dalam situasi yang tidak aman.
- Melanjutkan penggunaan narkoba meskipun mengetahui bahwa hal itu menyebabkan masalah fisik atau psikologis.
- Mengembangkan toleransi.
- Mengalami gejala putus zat saat menghentikan penggunaan narkoba.
Gangguan penggunaan narkoba dapat didiagnosis sebagai ringan ketika individu memiliki dua atau tiga gejala tersebut, diagnosis sedang jika mereka memiliki empat atau lima gejala tersebut, dan diagnosis berat jika memiliki enam atau lebih gejala tersebut. Gangguan penggunaan narkoba yang “berat” adalah hal yang biasa disebut dengan “kecanduan”.
Apakah pengguna metamfetamin dapat mengalami gejala putus obat?
Setelah pengguna metamfetamin berulang kali berhenti menggunakan zat tersebut, mereka akan segera mengalami gejala putus obat, meskipun jika mereka tidak mengalami gangguan penggunaan stimulan. Gejala tersebut mencapai puncaknya 2-3 hari setelah penggunaan terakhir dan dapat berlangsung selama seminggu. Gejala tersebut mencakup:
- Depresi
- Kecemasan
- Iritabilitas
- Rasa sakit dan ketidaknyamanan
- Masalah tidur
- Craving
- Kesulitan berkonsentrasi
Setelah fase akut putus obat, individu masih dapat mengalami suasana hati yang buruk, kecemasan, dan keinginan untuk mengonsumsi metamfetamin kembali; hal ini terjadi selama beberapa bulan.
Apakah ada pengobatan untuk kecanduan metamfetamin?
Belum ada pengobatan yang disetujui oleh FDA untuk gangguan penggunaan metamfetamin atau gangguan akibat penggunaan stimulan. Akan tetapi, terdapat pengobatan perilaku yang efektif. Bentuk pengobatan perilaku yang paling banyak diteliti untuk gangguan penggunaan metamfetamin, dan pengobatan perilaku yang paling sering dikaitkan dengan keberhasilan pengobatan, adalah contingency management. Contingency Management insentif nyata dalam jumlah kecil, seperti hadiah, uang tunai, voucher, atau kartu hadiah untuk melanjutkan pengobatan. Pendekatan pengobatan perilaku berbasis bukti ilmiah lainnya, termasuk cognitive behavioural therapy, group support, dan motivational interviewing.
NIDA mendukung penelitian untuk mencegah, mengobati dan mengurangi bahaya buruk yang terkait dengan penggunaan dan gangguan penggunaan metamfetamin, termasuk penelitian yang:
- Mengevaluasi obat baru untuk membantu orang mengurangi atau menghentikan penggunaan metamfetamin, termasuk obat yang membantu mengurangi risiko relaps setelah periode abstinens.
- Uji keselamatan dan efikasi dari obat yang ada untuk mengurangi penggunaan metamfetamin pada orang yang hanya mengalami gangguan penggunaan metamfetamin atau dengan gangguan penggunaan opioid.
- Mengevaluasi obat untuk mengatasi overdosis metamfetamin.
- Mengevaluasi pengobatan perilaku yang telah ada maupun yang baru untuk gangguan penggunaan metamfetamin.
NIDA juga mendukung penelitian untuk memahami dampak kesehatan penggunaan metamfetamin, termasuk bagaimana pengurangan penggunaan berdampak pada hasil kesehatan dan lainnya.
Apa peran metamfetamin dalam krisis overdosis?
Penelitian yang dilaksanakan oleh CDC menunjukkan bahwa metamfetamin merupakan narkoba kedua yang paling banyak ditemui pada orang yang mengalami overdosis fatal, setelah opioid sintetik (buatan lab). Orang mengalami overdosis karena penggunaan metamfetamin saja atau karena kombinasi metamfetamin dan narkoba lainnya, khususnya opioid seperti fentanil dan heroin. Orang-orang tersebut menggunakan kombinasi seara sengaja, atau opioid ditambahkan sebagai bahan tersembunyi dalam metamfetamin ilegal.
Karena alasan tersebut, para ahli merekomendasikan memberikan obat pembalik overdosis opioid seperti nalmefene atau naloxone (terkadang dijual dengan namaNarcan) kepada orang yang mengalami pernapasan yang melambat atau bahkan berhenti, yang merupakan tanda-tanda overdosis opioid. Penelitian juga menunjukkan bahwa pendekatan pemeriksaan narkoba, seperti strip tes fentanil, dapat membantu orang memahami apa yang terkandung dalam narkoba mereka sebelum digunakan.
Highlights Metamfetamin merupakan stimulan yang dibuat di lab (sintetik) dengan potensi tinggi menyebabkan adiksi. Ketika dijual dalam bentuk batu atau Kristal putih-kebiruan yang mengilap, zat tersebut disebut dengan “sabu Kristal”, “Tina”, atau “ice”.Efek jangka pendek metamfetamin mencakup perasaan euforia dan meningkatkan kewaspadaan serta energi. Zat tersebut juga dapat menyebabkan efek negatif bagi kesehatan, termasuk paranoia, kecemasan, denyut jantung cepat, denyut nadi tidak teratur, stroke, bahkan kematian. Penggunaan meth jangka panjang dapat menyebabkan insomnia, hilang ingatan, timbulnya gangguan penggunaan narkoba, dan masalah kesehatan lainnya.Metamfetamin, dikonsumsi tunggal ataupun dicampur dengan fentanil, berkontribusi terhadap krisis overdosis di AS.
Catatan:
* Peradangan pada bilik dan katup jantung yang mengancam jiwa, yang sulit dan mahal untuk diobati.
Link to: https://nida.nih.gov/research-topics/methamphetamine

