Tembakau dan alat vaping mengandung nikotin, senyawa yang dapat menyebabkan adiksi, yang menjadi alasan mengapa banyak orang yang merokok atau menggunakan vape sulit untuk berhenti. Baik tembakau dan alat vaping mengandung senyawa berbahaya lainnya; membakar tembakau dapat menghasilkan senyawa berbahaya tersebut dan alat vaping mengubah senyawa dan perasa menjadi kabut yang bercampur dengan nikotin sintetik.
Efek Kesehatan Tembakau/Nikotin dan Vaping
Tembakau merupakan tanaman yang ditanam untuk diambil daunnya, yang dikeringkan dan difermentasi sebelum digunakan. Tembakau mengandung nikotin, sebuah senyawa adiktif. Nikotin terkadang diekstraksi dari tanaman tembakau dan digunakan dalam alat vaping. Untuk informasi lebih lanjut, baca “Laporan Penelitian: Tembakau/Nikotin dan Vaping”.
| Nama Komersil | Bentuk Umum | Cara Umum Penggunaan | DEA Schedule |
| Beragam merek dagang | Rokok, alat vaping, rokok elektrik, cerutu, bidis, hookah, kretek Tembakau tanpa asap: tembakau sedot, tembakau kunyah | Hisap, hirup, kunyah, uap | Tidak terjadwal |
| Efek Kesehatan | |
| Jangka pendek | Meningkatkan tekanan darah, pernapasan, dan denyut jantung. Memaparkan paru-paru terhadap berbagai zat kimia. Vaping juga memaparkan paru-paru terhadap uap logam yang dihasilkan dari pemanasan kumparan alat vaping. |
| Jangka panjang | Risiko kanker meningkat tajam, terutama kanker paru-paru ketika dihisap dan kanker mulut ketika dikunyah; bronkitis kronis; emfisema; penyakit jantung; leukemia; katarak; pneumonia |
| Masalah kesehatan lainnya | Nikotin: pada remaja, dapat mempengaruhi perkembangan sirkuit otak yang mengendalikan atensi dan proses belajar. Produk tembakau: penggunaan ketika hamil dapat mengakibatkan keguguran, berat lahir rendah, kelahiran mati, masalah perilaku dan belajar. Produk vaping: sejumlah produk dicampur dengan vitamin E asetat dan bahan kimia lainnya, yang dapat menimbulkan penyakit paru-paru yang serius dan kematian. |
| Kombinasi dengan alkohol | Tidak diketahui |
| Gejala putus obat | Iritabilitas, gangguan tidur dan atensi, depresi, peningkatan nafsu makan. |
| Pilihan pengobatan | |
| Obat-obatan | Bupropion (Zyban®)Varenicline (Chantix®)Pengganti nikotin (permen karet, koyo, permen pelega tenggorokan) |
| Terapi perilaku | Cognitive-behavioral therapy (CBT)Materi untuk membantu diri sendiriSumber untuk berhenti merokok: surat, telepon, dan internet |
Laporan Penelitian: Tembakau, Nikotin, dan Rokok Elektrik
1. Gambaran umum
Pada tahun 2014, AS menandai perayaan ke-50 dari The Surgeon General’s Report pertama tentang Merokok dan Kesehatan. Pada tahun 1964, lebih dari 40% populasi dewasa merokok. Ketika hubungan antara merokok dan dampaknya pada kesehatan – termasuk kanker, penyakit jantung, dan paru-paru – menjadi bagian dari kesadaran umum, upaya edukasi dan perubahan kebijakan publik diberlakukan untuk mengurangi jumlah perokok. Upaya-upaya tersebut menghasilkan penurunan jumlah perokok yang substansial di AS – hingga setengahnya dari jumlah di tahun 1964.
Namun demikian, angka merokok tembakau dan penggunaan tembakau lainnya masih tetap tinggi, dan sejumlah populasi terdampak secara disproporsional oleh akibat kesehatan yang disebabkan oleh tembakau. Perlu dicatat, orang dengan gangguan jiwa – termasuk gangguan penggunaan narkoba – lebih cenderung merokok dibandingkan dengan populasi umum. Selain itu, orang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan mereka dengan tingkat edukasi rendah cenderung untuk merokok dibandingkan populasi umum. Karena penggunaan tembakau merupakan penyebab kematian utama yang dapat dicegah di AS, perbedaan tingkat merokok dan penggunaan produk lainnya dari tembakau merupakan faktor signifikan terhadap kesenjangan kesehatan pada sebagian orang yang rentan di masyarakat.
2. Seberapa luas cakupan penggunaan tembakau, nikotin, dan rokok eletrik di AS?
Semua data yang ditampilkan merujuk pada populasi AS.
Berapa banyak orang yang mengunakan produk tembakau atau alat vaping?
Pada orang berusia 12 tahun ke atas di tahun 2021:
- 22% (atau sekitar 61,6 juta orang) dilaporkan menggunakan produk tembakau atau alat vaping dalam 30 hari terakhir (2021 DT 2.1).
- 15,6% (atau sekitar 43,6 juta orang) melaporkan merokok dalam 30 hari terakhir (2021 DT 2.1).
- 4,7% (atau sekitar 13,2 juta orang) melaporkan menggunakan vape nikotin dalam 30 hari terakhir (2021 DT 2.1).
Sumber: 2021 National Survey on Drug Use and Health*
Berapa banyak siswa muda yang mengunakan produk tembakau atau alat vaping?
Pada anak muda di tahun 2022:
- Diperkirakan 8,7% siswa kelas 8 dan 15,1% siswa kelas 10, dan 24,8% siswa kelas 12 melaporkan penggunaan nikotin dalam 30 hari terakhir.
- Diperkirakan 0,8% siswa kelas 8, 1,7% siswa kelas 10, dan 4% siswa kelas 12 melaporkan penggunaan rokok dalam 30 hari terakhir.
- Diperkirakan 7,1% siswa kelas 8, 14,2% siswa kelas 10, dan 20,7% siswa kelas 12 melaporkan penggunaan nikotin dalam 30 hari terakhir.
Sumber: 2022 Monitoring the Future Survey
- Berapa banyak orang yang mengalami ketergantungan nikotin?
- Pada orang berusia 12 tahun ke atas di tahun 2020, 8,5% (sekitar 23,6 juta orang) mengalami ketergantungan nikotin dalam 30 hari terakhir.
Sumber: 2021 National Survey on Drug Use and Health*
* Pandemik COVID-19 berdampak pada pengumpulan data the 2021 National Survey on Drug Use and Health (NSDUH). Untuk informasi lebih lanjut, lihat National Survey on Drug Use and Health (NSDUH) dari SAMHSA.
3. Bagaimana cara tembakau menghantarkan efeknya?
Asap dari produk tembakau yang dibakar mengandung lebih dari 7.000 senyawa kimia. Nikotin merupakan komponen utama dari tembakau; senyawa tersebut menyebabkan kecanduan tembakau. Ratusan senyawa ditambahkan ke tembakau untuk meningkatkan rasa dan penyerapan nikotin. Rokok merupakan metode penggunaan tembakau yang paling populer; namun demikian, banyak orang juga menggunakan produk tembakau tanpa asap, seperti tembakau sedot dan tembakau kunyah, yang juga mengandung nikotin (lihat “Produk Tembakau Lainnya”). Rokok elektrik, yang menghantarkan nikotin tanpa kehadiran senyawa lainnya dalam tembakau menjadi populer dalam beberapa tahun terakhir (lihat “Apa yang dimaksud dengan rokok elektrik?).
Rokok merupakan sistem penghantaran zat yang sangat efisien dan direkayasa dengan sangat canggih. Dengan menghirup asap tembakau, perokok rata-rata menghirup 1 – 2 mg nikotin per batang rokok. Ketika tembakau dihisap, nikotin dengan cepat mencapai kadar tertinggi dalam aliran darah dan memasuki otak. Seorang perokok biasa akan menghisap sebanyak 10 kali untuk 1 rokok selama sekitar 5 menit sejak rokok dinyalakan. Jadi, seorang perokok yang merokok sekitar 1 bungkus (20 batang rokok) per hari mendapat 200 kali “hit” nikotin ke otaknya setiap hari. Diantara mereka yang tidak menghirup asap tembakau – seperti perokok cerutu dan pipa serta pengguna tembakau tanpa asap – nikotin diserap melalui membrane mukus dalam mulut dan mencapai kadar tertinggi di darah dan otak dengan lebih lambat.
Segera setelah paparan nikotin, seorang perokok akan merasakan “kick” yang sebagian disebabkan oleh stimulasi zat pada kelenjar adrenal dan pelepasan epinefrin (adrenalin) yang dihasilkan. Aliran adrenalin menstimulasi tubuh sehingga meningkatkan tekanan darah, pernapasan, dan detak jantung. Seperti narkoba lainnya, nikotin juga mengaktivasi jalur penghargaan di otak – sirkuit yang mengatur penguatan dan perasaan senang.
4. Apakah nikotin bersifat adiktif?
Ya. Sebagian besar perokok mengonsumsi tembakau secara rutin karena mereka kecanduan nikotin. Adiksi ditandai dengan penggunaan dan pencarian zat yang kompulsif, meski mereka mengetahui dampak kesehatan negatif dari penggunaan tembakau. Sebagian besar perokok ingin berhenti merokok, dan setiap tahun, sekitar 50% perokok mencoba untuk berhenti merokok secara permanen. Akan tetapi, hanya sekitar 6 per sen yang dapat berhenti pada tahun tersebut. Sebagian besar perokok akan melakukan upaya berhenti merokok berulang kali sebelum mereka dapat berhenti merokok secara permanen. Obat-obatan seperti varenicline, dan sejumlah antidepresan (mis. bupropion), dan terapi pengganti nikotin, dapat membantu upaya tersebut di banyak kasus. (lihat “Apa saja pengobatan untuk ketergantungan tembakau?”)
Lonjakan sementara endorfin pada sirkuit penghargaan di otak menyebabkan euforia singkat yang ringan ketika nikotin dikonsumsi. Lonjakan tersebut lebih singkat dibandingkan dengan rasa “high” yang dikaitkan dengan narkoba lainnya. Akan tetapi, sama seperti zat lainnya yang disalahgunakan, nikotin meningkatkan kadar neurotransmiter dopamin pada sirkuit penghargaan tersebut sehingga memperkuat perilaku penggunaan nikotin. Paparan berulang kali akan merubah sensitivitas sirkuit tersebut terhadap dopamine dan mengarah ke perubahan pada sirkuit lainnya di otak yang melibatkan pembelajaran, stres, dan kendali diri. Bagi sebagian besar pengguna tembakau, perubahan jangka panjang di otak terinduksi oleh paparan nikotin yang berulang yang dapat mengakibatkan kecanduan, yang menimbulkan gejala putus obat ketika tidak merokok, dan kesulitan untuk menepati resolusi untuk berhenti merokok.
Sifat farmakokinetik nikotin, atau cara nikotin diproses oleh tubuh, berkontribusi terhadap sifat adiktif zat tersebut. Ketika asap rokok masuk ke paru-paru, nikotin diserap dengan cepat dalam darah dan dihantarkan dengan cepat ke otak sehingga kadar nikotin mencapai puncak hanya dalam waktu 10 detik sejak asap mulai dihirup. Namun efek akut nikotin juga menghilang dengan cepat, bersamaan dengan rasa senang yang menyertainya; siklus cepat tersebut menyebabkan perokok terus mengonsumsi rokok untuk mempertahankan efek menyenangkan tersebut dan mencegah munculnya gejala putus obat.
Putus obat terjadi sebagai hasil dari ketergantungan, ketika tubuh menjadi terbiasa dengan keberadaan zat terkait dalam sistem. Abstinens dari nikotin untuk waktu yang terlalu lama dapat menyebabkan perokok rutin mengalami iritabilitas, craving, depresi, kecemasan, gangguan atensi dan kognitif, gangguan tidur, dan peningkatan nafsu makan. Gejala putus obat tersebut dapat terjadi dalam kurun waktu beberapa jam setelah rokok terakhir dikonsumsi, yang mengakibatkan perokok kembali menggunakan tembakau.
Ketika seseorang berhenti merokok, gejala putus obat mencapai puncaknya dalam kurun waktu beberapa hari setelah merokok terakhir dan biasanya mereda dalam beberapa minggu. Namun bagi sebagian orang, gejala tersebut dapat bertahan selama berbulan-bulan, dan tingkat keparahan gejala putus obat tampaknya dipengaruhi oleh gen individu.
Selain efek menyenangkan yang ditimbulkannya, nikotin juga secara singkat meningkatkan kemampuan kognisi, seperti kemampuan untuk mempertahankan atensi dan menyimpan informasi dalam memori. Akan tetapi, merokok jangka panjang dikaitkan dengan penurunan kemampuan kognitif dan risiko mengalami penyakit Alzheimer, menunjukkan bahwa manfaat jangka pendek yang disebabkan oleh penggunaan nikotin tidak lebih baik dari akibat jangka panjang penggunaan nikotin pada fungsi kognitif. Selain itu, orang yang mengalami gejala putus obat akibat nikotin mengalami penurunan fungsi neurokognitif, seperti masalah dengan atensi atau memori. Gejala putus obat neurokognitif tersebut semakin dikenali sebagai kontributor terhadap penggunaan rokok yang berkelanjutan. Sebuah penelitian berskala kecil juga menunjukkan bahwa penghentian penggunaan nikotin dapat mengganggu tidur bagi perokok yang sangat kecanduan, dan hal ini juga dapat menyebabkan kambuhnya kecanduan.
Selain dampak nikotin terhadap berbagai neurotransmiter dan reseptornya, berbagai faktor perilaku mempengaruhi tingkat keparahan gejala putus obat. Bagi sebagian besar perokok, sentuhan, bau, dan penampakan rokok, serta ritual memperoleh, menangani, menyalakan, dan menghisap rokok semuanya terkait dengan efek menyenangkan dari merokok dan dapat memperburuk gejala putus obat atau pun craving. Proses pembelajaran di otak mengaitkan isyarat-isyarat ini dengan lonjakan dopamine yang ditimbulkan oleh penggunaan nikotin dalam sistem penghargaan – mirip dengan hal yang terjadi pada adiksi narkoba. Terapi pengganti nikotin seperti permen karet, koyo, dan inhaler, dan obat-obatan lainnya yang disetujui untuk pengobatan adiksi nikotin dapat membantu meringankan aspek fisiologis gejala putus obat (lihat “Apa saja pengobatan untuk ketergantungan tembakau?”); akan tetapi, craving terkadang tetap muncul karena kekuatan israyat-isyarat tersebut. Terapi perilaku dapat membantu perokok mengidentifikasi pemicu lingkungan dari craving sehingga mereka dapat menggunakan strategi untuk menghindari pemicu tersebut dan mengelola perasaan yang muncul ketika pemicu tidak dapat dihindari.
Apakah ada zat kimia lainnya yang dapat berkontribusi terhadap ketergantungan tembakau?
Penelitian menunjukkan bahwa nikotin bukan satu-satunya senyawa dalam tembakau yang mempengaruhi potensi adiktif tembakau.
Merokok dikaitkan dengan penurunan tajam kadar monoamine oxidase (MAO), enzim penting yang bertanggung jawab dalam pemecahan dopamine, serta penurunan tempat pengikatan MAO di otak. Perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh sejumlah zat yang belum teridentifikasi dalam asap tembakau, selain nikotin, karena kita tahu bahwa nikotin sendiri tidak merubah kadar MAO secara drastis. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa penghambatan MAO membuat nikotin lebih kuat, namun diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah penghambatan MAO mempengaruhi ketergantungan manusia akan tembakau.
Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa asetaldehid, senyawa lain dalam asap tembakau yang diciptakan melalui pembakaran gula yang ditambahkan sebagai pemanis, secara dramatis meningkatkan penguatan sifat nikotin dan dapat berkontribusi terhadap ketergantungan tembakau.
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

