Berapa banyak orang dewasa yang merokok?
Kebanyakan perokok mulai merokok di masa remaja, dan mereka yang mulai merokok lebih awal cenderung mengalami ketergantungan nikotin dan kesulitan untuk berhenti. Berdasarkan the 2022 Monitoring the Future Survey, 4% siswa kelas 12, 1,7% siswa kelas 10, dan 0,8% siswa kelas 8 merokok dalam sebulan terakhir. Analisis the 2022 National Youth Tobacco Survey (NYTS) menemukan bahwa 11,3% siswa sekolah menengah pertama dan atas melaporkan penggunaan produk tembakau dalam 30 hari terakhir, dengan angka lebih tinggi pada anak muda yang mengalami tekanan psikologis yang tinggi. Anak muda dengan wali yang berpenghasilan rendah serta yang berasal dari komunitas marjinal melaporkan angka merokok yang tinggi. Penelitian lain menemukan bahwa merokok ringan dan disertai jeda pada remaja dikaitkan dengan tingkat kesulitan yang sama pada perokok rutin harian untuk berhenti merokok.
Paparan nikotin pada remaja telah mejadi kekhawatiran karena otak remaja masih berkembang, sedangkan nikotin mempengaruhi sistem penghargaan di otak dan wilayah otak yang terkait dengan fungsi emosional dan kognitif. Penelitian juga menunjukkan bahwa perubahan yang berkaitan dengan nikotin pada area tersebut di masa remaja dapat menyebabkan penggunaan tembakau yang terus berlanjut hingga usia dewasa. Perubahan tersebut berkontribusi terhadap tingginya angka penyalahgunaan narkoba pada orang yang mulai merokok di masa remaja, yang terkadang disebut dengan efek “gateway”.
Kesehatan jiwa, keyakinan terkait merokok, persepsi teman sekolah tentang rokok, dan penggunaan zat lainnya merupakan faktor tambahan yang dapat mempengaruhi risiko remaja untuk mulai merokok serta mengalami ketergantungan nikotin. Masalah emosional – seperti depresi – dan kejadian negatif terkini dalam kehidupan individu – dikaitkan dengan inisiasi merokok di masa remaja. Merokok di antara teman sebaya dan dalam kelompok sosial merupakan faktor lingkungan utama yang mempengaruhi seorang remaja untuk mulai merokok; merokok sosial merupakan motivator penting bagi remaja dibandingkan dengan perokok dewasa. Merokok di usia remaja mengikuti pola antargenerasi, dengan pengaruh genetik, epigenetik, dan lingkungan. Data dari orangtua dan remaja menunjukkan bahwa ketergantungan nikotin parental terkini sangat berhubungan dengan kebiasaan merokok dan ketergantungan pada remaja. Faktor-faktor lainnya – seperti pendidikan orangtua, status pernikahan, dan perilaku parental juga mempengaruhi kebiasaan merokok pada remaja.
Apa yang dimaksud dengan rokok elektrik?
Rokok elektrik (sistem penghantaran nikotin secara elektronik) muncul di pasar AS pada tahun 2007 dan menjadi populer dengan sangat cepat. Rokok elektrik, atau uap elektrik, merupakan perangkat yang memanaskan cairan yang mengandung pelarut, perasa, dan seringkali nikotin. Penggunanya menghirup uap yang dihasilkan. Rokok elektrik tersedia dalam berbagai macam disain, beberapa meniru tampilan rokok tradisional. Rokok ini juga tersedia dalam lebih dari 7.000 rasa, beberapa diantaranya sangat menarik bagi kaum muda. Banyak toko serba ada, toko obat, toko kelontong, serta gerai ritel fisik dan online menjual rokok elektrik, meskipun pada pertengahan tahun 2019, muncul larangan untuk menjual nikotin atau produk tembakau lainnya pada orang di bawah usia 21 tahun. Sejumlah toko obat dan jaringan toko obat juga telah berhenti menjual rokok elektrik untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.
Pada tahun 2013, lebih dari sepertiga perokok menyatakan bahwa mereka tidak pernah menggunakan rokok elektrik. Berdasarkan data dari the 2014 Tobacco Products and Risk Perceptions Survey, perokok saat ini lebih cenderung untuk menggunakan rokok elektrik. Hasil analisis tersebut menemukan bahwa setengah dari jumlah perokok pernah menggunakan rokok elektrik dan 20.7% saat ini menggunakan rokok elektrik. Namun, sekitar 10% orang dewasa yang merokok elektrik belum pernah merokok sebelumnya. Data dari the 2014 National Health Interview Survey mengindikasikan bahwa 0,4 persen orang dewasa yang belum pernah merokok dan 0,8% mantan perokok (abstinens selama 4 tahun atau lebih) saat ini menggunakan rokok elektrik. Survei tersebut juga menemukan bahwa 13% perokok elektrik harian merupakan mantan perokok yang berhenti merokok tahun lalu.
Sama halnya dengan penggunaan rokok, penggunaan rokok elektrik cukup tinggi pada orang dengan kondisi kesehatan jiwa – dengan 3,1% saat ini merokok dibandingkan dengan 1,1% perokok tanpa kondisi tersebut. Hal lain yang memprihatinkan adalah wanita hamil yang merokok elektrik, karena paparan nikotin selama periode rentan perkembangan (termasuk perkembangan prenatal) dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang tidak diinginkan.
Para perokok elektrik menyatakan keyakinan mereka bahwa produk rokok elektrik tidak seberbahaya rokok tradisional, dan banyak dari mereka yang melaporkan bahwa mereka merokok elektrik untuk membantu berhenti merokok tradisional. Meskipun masih belum jelas apakah rokok elektrik merupakan alat bantu berhenti merokok yang efektif, terkadang perangkat tersebut diiklankan untuk tujuan tersebut (lihat “Apakah rokok elektrik membantu individu berhenti merokok?” dalam “Apa yang dimaksud dengan rokok elektrik”). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang lansia menggunakan perangkat ini sebagai pengganti tembakau, meskipun tidak selalu digunakan sebagai untuk metode berhenti merokok. Perokok elektrik juga meyebutkan kemudahan dan kepedulian terhadap orang lain sebagai alasan untuk menggunakan perangkat ini.
Laporan Kematian Akibat Vaping
FDA telah memperingatkan masyarakat tentang ribuan laporan penyakit paru-paru serius yang dikaitkan dengan vaping, termasuk puluhan kematian. FDA bekerja sama dengan CDC untuk menyelidiki penyebab kematian tersebut. Kebanyakan produk yang dicurigai diuji oleh negara bagian atau badan kesehatan federal teridentifikasi sebagai produk vaping yang mengandung THC, zat psikotropik utama dalam ganja. Sejumlah pasien melaporkan vaping menggunakan campuran THC dan nikotin; yang lainnya melaporkan hanya menggunakan vaping nikotin. Meskipun CDC dan FDA masih terus menyelidiki zat campuran lainnya, CDC telah mengidentifikasi satu zat pengental – vitamin E asetat – sebagai senyawa yang perlu diwaspadai pada orang dengan cedera paru-paru terkait rokok elektrik atau vaping. FDA dan CDC merekomendasikan agar masyarakat tidak menggunakan produk yang mengandung vitamin E asetat, atau produk vape lainnya yang mengandung THC, khususnya dari sumber informal seperti teman, keluarga, atau penjual langsung maupun online. Kedua badan tersebut juga memperingatkan agar tidak memodifikasi produk apapun yang dibeli di toko, atau menggunakan produk vaping lainnya yang dibeli di jalanan. Masyarakat, termasuk tenaga kesehatan, harus melaporkan efek samping produk vape. CDC telah menerbitkan halaman informasi bagi konsumen.
Bagaimana cara pemerintah federal mengatur rokok elektrik?
FDA, yang mengatur rokok, tembakau, dan tembakau tanpa asap, memperoleh otoritas pada tahun 2016 untuk mengatur sistem penghantaran nikotin elektronik (seperti rokok elektrik dan pena vape), cerutu, tembakau hookah (pipa air), tembakau pipa, dan gel nikotin, diantara produk tembakau lainnya. Di bawah peraturan baru tersebut, penghasil rokok elektrik harus mencantumkan bahan-bahan yang digunakan dalam produknya. Pada tahun 2019, pemerintah federal menaikkan batas usia minimal terkait penjualan produk tembakau dari 18 tahun menjadi 21 tahun, dan pada bulan Januari 2020, FDA mengeluarkan kebijakan tentang penjualan kartrid vaping beraroma.
Apakah benar bahwa rokok elektrik lebih aman dari rokok tradisional?
Kemungkinan besar, secara keseluruhan, rokok elektrik lebih aman dari rokok tradisional dari sudut pandang kesehatan fisik. Namun, seperti yang telah dibahas sebelumnya, nikotin dalam rokok elektrik dapat menyebabkan kecanduan dan gangguan neurokognitif.
Meskipun untuk tujuan regulasi, rokok elektrik dikategorikan sebagai “produk tembakau”, rokok elektrik tidak mengandung tembakau atau menghasilkan produk pembakaran beracun yang sama, seperti tar, yang dapat menyebabkan kanker paru-paru dan penyakit lainnya pada perokok dan perokok sekunder. Akan tetapi, uap dari rokok elektrik biasanya mengandung nikotin dan berbagai bahan kimia lainnya. Karena rokok elektrik tergolong produk baru, bukti mengenai efek jangka pendek dari paparan terhadap aerosol rokok elektrik masih sangat terbatas, dan hanya sedikit yang diketahui mengenai efek kesehatan jangka panjang dari paparan tersebut.
Tinjauan literatur terkini menemukan bahwa sejumlah senyawa kimia dalam cairan rokok elektrik, propilen glikol dan gliserol, menyebabkan iritasi tenggorakan dan batuk. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa paparan uap rokok elektrik dapat dikaitkan dengan gangguan fungsi paru-paru. Analisis kimia yang membandingkan profil rokok elektrik dan rokok tradisional telah menunjukkan bahwa rokok elektrik memiliki profil karsinogenik yang lebih rendah dan memiliki potensi yang rendah untuk menyebabkan penyakit. Akan tetapi, zat-zat beracun, karsinogen, dan partikel logam terdeteksi dalam cairan dan aerosol rokok elektrik, dan saat ini, belum jelas risiko apa yang ditimbulkan dari penggunaan rokok elektrik berulang kali. Seperti halnya rokok tradisional, penggunaan rokok elektrik yang pasif memaparkan orang yang bukan perokok terhadap aerosol sekunder dan tersier.
Penelitian mengenai paparan sekunder terhadap aerosol rokok elektrik masih terbatas, namun satu penelitian menemukan bahwa konsentrasi partikel halus selama acara indoor di ruangan yang besar dengan keberadaan para perokok elektrik lebih tinggi dari laporan sebelumnya dalam acara yang dihadiri oleh perokok tradisional. Sebuah studi in-vitro menunjukkan bahwa paparan cairan rokok eletrik terhadap jaringan dan sel paru-paru memicu peningkatan respon inflamasi dan penanda stress oksidatif. Penelitian lainnya yang menganalisa zat perasa pada rokok elektrik menemukan bahwa 39 dari 51 perasa yang diuji terbukti positif mengandung diasetil, senyawa kimia yang dikaitkan dengan penyakit paru obstruktif ireversibel yang disebut dengan bronkiolitis obliterans. Senyawa kimia lainnya, 2,3-pentanedione dan acetoin, berkaitan dengan penyakit pernapasan parah pada orang yang terpapar, juga ditemukan dalam banyak perasa rokok elektrik.
Jumlah nikotin dalam cairan rokok elektrik sangat bervariasi. Sejumlah penelitian menemukan bahwa rokok elektrik, rata-rata, menghantarkan lebih sedikit nikotin dibandingkan rokok tradisional, namun perokok elektrik dapat mengubah pola hisapan untuk mengimbanginya. Perokok elektrik yang tidak berpengalaman mengonsumsi konsentrasi nikotin yang sedang, namun perokok elektrik yang merokok secara teratur menggunakan perangkat ini menyesuaikan hisapan mereka agar dapat mengonsumsi konsentrasi zat yang serupa dengan konsentrasi dari rokok tradisional. Perangkat rokok elektrik terbaru dapat menghantarkan nikotin dalam jumlah yang cukup besar, dan sejumlah perokok elektrik dapat memperoleh nikotin pada kadar yang mirip dengan atau bahkan lebih tinggi dari rokok tradisional. Sebuah penelitian menemukan kadar yang sama dari metabolit utama nikotin dalam darah perokok yang menggunakan rokok tradisional dan elektrik. Sehingga, semua kekhawatiran terkait nikotin pada rokok tradisional – kecanduan, efek terhadap fungsi kognitif, dan efek bagi perkembangan prenatal – juga berlaku untuk rokok elektrik.
Risiko rokok elektrik terhadap anak-anak
Anak kecil mungkin secara tidak sengaja menelan nikotin pekat (yang seringkali mengandung perasa) dalam cairan rokok elektrik. CDC baru-baru ini membandingkan panggilan ke pusat penanganan keracunan di AS yang berhubungan dengan paparan manusia terhadap rokok elektrik dan rokok tradisional. Peneltian tersebut menemukan bahwa dari bulan September 2010 hingga bulan Februari 2014, proporsi panggilan terkait rokok elektrik dari semua panggilan yang terkait dengan rokok meningkat dari 0,3% menjadi 41,7%. Kebanyakan dari kasus paparan tersebut terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun (51,1%) dan orang berusia di atas 20 tahun (42%), dimana hampir seluruh panggilan terkait paparan terhadap rokok tradisional melibatkan anak kecil. Data mengindikasikan bahwa proporsi paparan rokok elektrik yang lebih besar (57,8%) mengakibatkan dampak kesehatan yang merugikan dibandingkan paparan rokok tradisional (36%). Dampak kesehatan yang merugikan ini meliputi muntah, mual, dan iritasi mata.
Apakah rokok elektrik membantu individu berhenti merokok?
Sejumlah penelitian menunjukkan rokok elektrik dapat membantu orang berhenti merokok, sementara data lainnya menunjukkan bahwa rokok elektrik dapat menunda berhenti merokok dan dapat menjadi jalan pembuka bagi penggunaan rokok tradisional pada orang yang tidak pernah menggunakannya. Sehingga, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menjawab pertanyaan ini.
Sebuah tinjauan terhadap sejumlah penelitian terkini menunjukkan bahwa kecenderungan untuk berhenti merokok pada perokok elektrik 28% lebih rendah dibandingkan pada orang yang tidak menggunakan perangkat ini, tanpa memperhitungkan apakah perokok tersebut ingin berhenti merokok. Penelitian dari UK menunjukkan bahwa pada perokok yang terus menggunakan rokok tradisional, penggunaan rokok elektrik harian dikaitkan dengan peningkatan upaya untuk berhenti merokok dan mengurangi kebiasaan merokok, namun tidak berhasil. Namun, analisis lainnya mengestimasi bahwa, di Inggris, 16.000 perokok berhasil berhenti merokok pada tahun 2014, padahal mereka tidak akan berhenti merokok jika rokok elektronik tidak tersedia. Sebuah tinjauan dan meta-analisis menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik selama minimal 6 bulan dikaitkan dengan penghentian merokok atau pengurangan jumlah rokok yang dikonsumsi.
Rokok elektrik dan remaja
Data survei nasional menunjukkan bahwa rokok elektrik merupakan produk penghantar nikotin yang paling banyak digunakan oleh remaja. Sebuah tinjauan literatur menemukan bahwa hingga 20% remaja yang saat ini menggunakan rokok elektrik tidak pernah menggunakan rokok tradisional.
Yang menjadi kekhawatiran utama adalah rasa, disain, dan pemasaran rokok elektrik sangat menarik bagi kaum muda, dan dengan memperkenalkan nikotin kepada kaum muda dan glamorisasi perilaku merokok, rokok elektrik dapat membuka pintu bagi penggunaan rokok pada populasi yang rentan terhadap kecanduan dan yang telah mengalami penurunan bersejarah dalam merokok.
Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat mengarah ke penggunaan rokok tradisional pada remaja dan orang dewasa muda. Berdasarkan data dari the 2012 NYTS, remaja yang hanya menggunakan rokok elektrik melaporkan peningkatan keinginan untuk merokok tradisional dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak pernah menggunakan perangkat ini. Survei tersebut menemukan tidak ada hubungan antara penggunaan rokok elektrik dengan niat untuk berhenti merokok pada kaum muda yang merupakan perokok saat ini, mengindikasikan bahwa kelompok usia tersebut tidak melihat perangkat ini terutama sebagai alat bantu berhenti merokok. Sebuah penelitian kohort longitudinal pada orang berusia 16 – 26 tahun yang belum pernah merokok tradisional menemukan bahwa 2,3% (16 partisipan) menggunakan rokok elektrik pada awal penelitian. Setelah satu tahun follow-up, sekitar 69% (11 dari 16 partisipan) beralih ke rokok tradisional dibandingkan dengan 18,9% (128 dari 678 partisipan) yang tidak pernah menggunakan rokok elektrik. Penelitian lainnya menemukan bahwa penggunaan rokok elektrik sebulan yang lalu dapat memprediksi penggunaan rokok di masa mendatang, tetapi penggunaan rokok tradisional sebulan yang lalu tidak dapat memprediksi penggunaan rokok elektrik di masa mendatang.
Banyak orang muda melaporkan bahwa mereka bereksperimen dengan rokok elektrik karena rasa penasaran, karena rasanya yang disukai, atau karena pengaruh teman sebaya. Dalam sebuah penelitian, mayoritas kaum muda yang melaporkan penggunaan rokok elektrik memiliki teman yang juga menggunakan perangkat tersebut. Hampir separuh dari remaja yang menggunakan rokok elektrik mengatakan bahwa mereka tidak percaya perangkat tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan. Mereka merasa bahwa rokok elektrik lebih mudah diperoleh, “keren”, dan merupakan alternatif yang lebih baik dari rokok tradisional karena mereka berpikir bahwa perangkat tersebut lebih sehat dan dapat digunakan dimana saja. Pada kaum muda yang berhenti merokok elektrik, alasan utama yang mendasarinya adalah masalah kesehatan, hilangnya minat, biaya yang tinggi, rasa yang tidak enak, dan pandangan bahwa rokok elektrik kurang memuaskan dibandingkan dengan rokok tradisional.
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

