Skrining dengan bantuan AI untuk gangguan penggunaan opioid berkaitan dengan berkurangnya angka rawat inap berulang di rumah sakit
AI screening for opioid use disorder associated with fewer hospital readmissions
Alat skrining yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence; AI), yang dikembangkan oleh tim peneliti dan didanai oleh NIH berhasil mengidentifikasi pasien dewasa yang menjalani rawat inap yang berisiko mengalami gangguan penggunaan opioid dan merekomendasikan rujukan ke spesialis adiksi rawat inap. Metode berbasis AI tersebut sama efektifnya dengan pendekatan yang dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan dalam menginisiasi konsultasi spesialis adiksi serta merekomendasikan monitoring putus obat.
Dibandingkan dengan pasien yang menerima konsultasi yang diinisiasi oleh penyedia layanan kesehatan, pasien dengan skrining AI berpeluang 47% lebih rendah untuk dirawat kembali di rumah sakit dalam kurun waktu 30 hari setelah pemulangan awal. Pengurangan dalam perawatan kembali (readmission) ini menghemat biaya perawatan kesehatan hampir sebanyak USD 109.000 selama periode penelitian.
Penelitian tersebut, yang hasilnya dipublikasi di Nature Medicine, melaporkan hasil dari uji klinis yang telah rangkum. Penelitian tersebut menunjukkan potensi AI dalam mempengaruhi hasil layanan terhadap pasien pada setting layanan kesehatan di dunia nyata. Penelitian ini menunjukkan bahwa investasi AI dapat menjadi strategi yang menjanjikan bagi sistem layanan kesehatan dalam meningkatkan akses ke layanan adiksi, memperbaiki efisiensi, dan menghemat biaya.
Tautan ke berita lengkap: AI screening for opioid use disorder associated with fewer hospital readmissions
Tautan ke artikel terkait: Clinical implementation of AI-based screening for risk for opioid use disorder in hospitalized adults

