Adiksi Teknologi

Apa itu adiksi teknologi?

Teknologi merupakan bagian penting yang terus berkembang dalam hidup manusia. Teknologi merupakan kunci bagi fungsi efisien dalam berbagai aspek kehidupan dan vital bagi hubungan sosial bagi banyak orang. Ponsel pintar (smartphones) merupakan teman setia bagi kebanyakan orang. Akan tetapi, penggunaan berbagai jenis teknologi yang berlebihan, kompulsif, atau tidak terkendali semakin mengkhawatirkan.

Penggunaan internet atau aktivitas internet yang kompulsif dan berlebihan dapat menimbulkan konsekuensi negatif dalam berbagai aspek dalam kehidupan seseorang. Adiksi teknologi berpotensi melibatkan aktivitas online seperti media sosial, game, judi, pornografi online, dan lainnya.

  • Adiksi media sosial: melibatkan penggunaan kompulsif dan problematik dari media sosial, kebutuhan obsesif untuk memeriksa dan memperbaharui platform media sosial, seringkali menimbulkan masalah dalam kerja dan menganggu hubungan di dunia nyata.
  • Gangguan game internet:merujuk kepada penggunaan game video atau online yang berlebihan, yang dapat mengarah ke pengabaian akan tanggung jawab dan kesehatan fisik.
  • Judi online:merupakan masalah baru yang muncul serta menimbulkan keresahan. Beragam aplikasi judi game dan olahraga semakin tersedia dengan mudah. Judi juga dimasukkan ke dalam aktivitas online lainnya seperti dalam akitivitas game online. Meskipun gangguan judi (gambling disorder) bukan merupakan hal yang baru, ketersediaannya yang semakin banyak dan akses yang mudah melalui telepon genggam atau computer menimbulkan keresahan.
  • Belanja online atau adiksi lelang: melibatkan impuls, dorongan, atau godaan untuk belanja online dan berulangkali bertindak berdasarkan impuls tersebut yang membahayakan dan menimbulkan gangguan di berbagai aspek dalam kehidupan seseorang.
  • Pornografi online: melibatkan penggunaan kompulsif dari konten seksual yang tersedia online, mempengaruhi hubungan pribadi dan kesejahteraan mental.

Sejumlah orang secara khusus rentan, terutama mereka dengan penggunaan internet tingkat tinggi untuk sosialisasi, edukasi, dan hiburan. Akan tetapi, adiksi teknologi tidak terbatas pada kelompok demografis tertentu, dan hal ini terus meningkat di beragam populasi.

Anak-anak dan remaja terutama rentan terhadap adiksi teknologi karena otak mereka masih terus berkembang. Bagi anak dan remaja, media sosial dan game video memainkan peranan penting dalam hubungan dan pengalaman sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan jiwa mereka, menurut the American Academy of Pediatrics’ Center of Excellence on Social Media and Youth Mental Health. Penggunaan problematik sosial media dan game video yang berlebihan pada anak dan remaja “berpotensi untuk berkembang menjadi adiksi perilaku. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif pada aspek psikologis, fisik, sosial, dan kesejahteraan perkembangan mereka. Hal tersebut dapat mengarah ke tekanan signifikan dan berkontribusi terhadap kondisi kesehatan jiwa lainnya, seperti kecemasan, depresi, dan insomnia.

Gejala adiksi teknologi

Gejala gangguan penggunaan internet beragam sesuai dengan teknologi yang digunakan, namun umumnya mencakup ketidakmampuan mengendalikan penggunaan teknologi, kesulitan dalam melaksanakan tanggung jawab pribadi dan profesional, dan terus menggunakan teknologi meskipun mengetahui akan adanya dampak negatif dari penggunaan tersebut, dan masalah yang berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama.

Seperti halnya dengan gangguan penggunaan narkotika, orang dengan adiksi teknologi berpikir obsesif tentang perilaku tersebut dan dapat mengalami gejala putus teknologi jika akses ke tekonologi tersebut dihentikan. Orang tersebut juga mungkin memerlukan waktu atau intensitas yang lebih lama terkait perilaku penggunaan teknologi untuk mendapatkan efek yang sama. Dalam sejumlah keadaan, gejala fisik mungkin muncul seperti mata lelah, sakit kepala, dan tidur yang terganggu. Penting untuk diingat bahwa jumlah waktu yang dihabiskan dalam menggunakan teknologi saja tidak menggambarkan penggunaan kompulsif atau problematik. Penting juga untuk mempertimbangkan apakah fokus aktivitas online seseorang yang berlebihan mungkin terkait dengan kondisi kesehatan jiwa lainnya. Penggunaan problematik teknologi “bisa jadi merupakan mekanisme koping, perilaku maladaptif, atau pengobatan-oleh-diri-sendiri untuk kondisi psikiatrik yang ada.”

Sejumlah faktor dapat berkontribusi terhadap munculnya adiksi teknologi, seperti faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Individu dengan masalah kesehatan jiwa yang ada, seperti depresi atau kecemasan, lebih rentan terhadap munculnya gangguan penggunaan internet sebagai mekanisme koping. Isolasi sosial, tekanan teman sebaya, dan kurangnya hubungan sosial secara langsung dapat berkontribusi terhadap ketergantungan pada interaksi online. Selain itu, aksesibilitas dan kenyamanan penggunaan internet, khususnya penggunaan smartphone, memainkan peranan penting dalam perkembangan gangguan penggunaan internet.

Pengobatan dan pencegahan

Pengobatan dan pencegahan penggunaan teknologi problematik melibatkan serangkaian pendekatan. Langkah pertama adalah asesmen dan konseling oleh tenaga kesehatan jiwa profesional. Terapi perilaku-kognitif (cognitive behavioural therapy; CBT) umumnya digunakan untuk mengatasi faktor psikologis yang mendasari adiksi. Terapi berfokus untuk membantu individu meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap perilaku mereka dan mengembangkan mekanisme koping yang sehat serta perilaku positif. Teknik kesadaran diri (mindfulness techniques) dan motivational interviewing juga dapat membantu.

Penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah kesehatan jiwa yang muncul pada waktu bersamaan. Kelompok dukungan untuk adiksi teknologi (termasuk program 12-langka) dan terapi keluarga dapat membantu pemulihan individu. Peningkatan ketersediaan kelompok pemulihan dan kelompok dukungan sebaya online sangat membantu dalam pengobatan adiksi karena membantu menghubungkan individu dengan orang lain dan untuk mendapatkan dukungan tersedia dapat diakses dengan mudah serta tanpa nama jika diperlukan.

Strategi pencegahan bagi gangguan penggunaan internet meliputi peningkatan kesadaran, khususnya pada kaum muda, tentang potensi risiko terkait dengan penggunaan internet yang berlebihan dan penerapan strategi sehat bagi penggunaan internet dan batas waktu penggunaannya. Pada kasus berat, seorang psikiater dapat meresepkan obat-obatan termasuk antidepresan atau stimulant untuk mengobati jenis adiksi teknologi tertentu.

Penggunaan media sosial yang sehat

Media sosial memiliki potensi manfaat yang luar biasa, termasuk mendukung koneksi sosial dan kesehatan jiwa yang positif. Media sosial juga memiliki potensi dampak negatif yang signifikan, seperti potensi penggunaan berlebihan atau kompulsif. Menyadari kebiasaan media sosial Anda dan menggunakan waktu serta interaksi Anda secara bertanggung jawab dapat membantu memastikan Anda mendapatkan lebih banyak dampak baik daripada dampak buruknya.

  1. Tetap positif: luangkan waktu untuk mempertimbangkan dampak perkataan Anda dan hindari interaksi yang toksik.
  2. Batasi screen time: beri jeda waktu berkala saat menggunakan media sosial dalam jangka waktu lama dan usahakan untuk membatasi diri Anda tidak lebih dari beberapa jam sehari. Keluarga dapat mempertimbangkan untuk menggunakan parental control untuk membatasi akses ke aplikasi media sosial tertentu, atau waktu yang dihabiskan di setiap aplikasi.
  3. Hindari “doomscrolling”: sadari bagaimana apa yang Anda lihat di media sosial memengaruhi suasana hati Anda. Jika konten yang Anda lihat mulai membuat Anda merasa iri, stres, atau depresi, mungkin sudah saatnya untuk mengambil jeda.
  4. Lindungi diri Anda dan orang lain: saat menggunakan media sosial, selalu perhatikan masalah privasi dan standar komunitas. Jangan pernah mengunggah informasi pribadi yang sensitif dan laporkan perilaku yang kasar.

The Center of Excellence on Social Media and Youth Mental Health menyarankan tiga pendekatan untuk mencegah penggunakan teknologi yang problematik pada anak dan remaja: keseimbangan, batasan, dan komunikasi.

  • Keseimbangan: Keluarga harus mendiskusikan keseimbangan yang tepat antara waktu online dan offline. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan batas screen time spesifik yang dapat diterapkan pada setiap anak. Namun, keluarga harus mempertimbangkan pendekatan yang memastikan anak-anak mendapatkan tidur yang cukup, aktivitas fisik harian, waktu untuk bermain, membaca, dan menemukan sesuatu, waktu bersama orang-orang yang mereka sayangi, dan waktu untuk fokus belajar tanpa harus melakukan banyak tugas sekaligus (multitasking).
  • Batasan: Batasan mengacu pada penetapan batasan tentang apa yang remaja ingin tunjukkan tentang diri mereka secara online atau di media sosial, serta menetapkan batasan di mana remaja menghabiskan waktu online atau saat menggunakan teknologi. Membahas jenis informasi pribadi yang tidak pantas untuk diposting di situs media sosial dapat membantu menghindari risiko keamanan online seperti perundungan (bullying), ajakan yang tidak diinginkan, atau rasa malu.
  • Komunikasi: Sama seperti bidang inti kesehatan anak lainnya, orang tua dan orang dewasa tepercaya lainnya harus mendiskusikan media sosial dan teknologi dengan remaja sejak dini dan sesering mungkin. Tidak masalah jika tidak mengetahui seluk-beluk setiap platform; cobalah untuk menciptakan ruang di mana anak merasa nyaman mendiskusikan kekhawatiran dan pengalaman mereka menggunakan teknologi.

(Diadaptasi dari “Preventing Problematic Technology Use”)

Program edukasi yang menargetkan orangtua, pendidik, dan tenaga kesehatan profesional dapat membantu mengidentifikasi tanda-tanda awal adiksi dan memberikan dukungan. Penerapan pedoman bagi penggunaan internet yang bertanggung jawab, baik di lingkungan rumah maupun di lembaga edukasi, dapat membantu mempertahankan hubungan yang sehat dengan teknologi.

Tantangan yang dihadapi di masa depan dalam lanskap teknologi yang terus berubah adalah “bagaimana cara terbaik mengelola teknologi dengan fokus memaksimalkan potensinya yang luar biasa untuk meraih pencapaian, kepuasan, dan kebahagiaan, sekaligus meminimalkan risiko signifikan yang dapat menyebabkan ketidakpuasan, kesengsaraan, dan keputusasaan.”

Sosial media: melindungi kesehatan jiwa kaum muda

Sejumlah laporan nasional (di AS) fokus pada masalah sekitar media sosial dan kesehatan jiwa kaum muda. Laporan-laporan tersebut mengakui bahwa media sosial membawa sejumlah potensi manfaat, seperti dukungan sosial, koneksi, dan pertemanan online, serta potensi risikonya. Laporan-laporan tersebut juga mengangkat isu seperti paparan terhadap “syberhate” dan perilaku berbahaya; dampak terhadap tidur, dampak terhadap waktu yang dihabiskan untuk berolahraga, belajar, dan bersosialisasi, serta potensi buruknya terhadap harga diri dan imej tubuh.

Laporan ini juga memberikan masukan dan rekomendasi untuk tindakan yang dapat dilakukan oleh pengambil kebijakan untuk melindungi remaja serta mengurangi risiko bahaya psikologis, pada kaum muda, orangtua dan pengasuh, sekolah, perusahaan teknologi, tenaga kesehatan profesional, pengambil kebijakan, dan peneliti.

  • Social Media and Youth Mental Health – U.S. Surgeon General Advisory, 2023
  • Social Media and Adolescent Health – National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 2023
  • Health Advisory on Social Media Use in Adolescence, American Psychological Association, 2023

The Jed Foundation juga mengeluarkan rekomendasi di awal tahun 2024 untuk tindakan di tingkat federal dalam menjaga kesejahteraan remaja di media sosial.

Sumber: https://www.psychiatry.org/patients-families/technology-addictions-social-media-and-more/what-is-technology-addiction  

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *