Seri 2: Perbedaan Jenis Kelamin dalam Penyalahgunaan Narkoba
Pria lebih cenderung menyalahgunakan hampir segala jenis narkoba terlarang dibandingkan wanita, dan penggunaan narkoba terlarang lebih mungkin mengakibatkan kunjungan ke IGD atau kematian akibat overdosis pada pria dibandingkan pada wanita. Kata “terlarang” merujuk pada penggunaan narkoba ilegal, termasuk ganja (menurut hukum federal) serta penyalahgunaan obat resep. Untuk sebagian besar kelompok umur, pria memiliki tingkat penggunaan atau ketergantungan narkoba terlarang atau alkohol yang lebih tinggi dibandingkan wanita. Namun demikian, wanita memiliki kecenderungan yang sama untuk mengalami gangguan penyalahgunaan narkoba. Selain itu, wanita lebih rentan mengalami craving (keinginan) dan relaps (kekambuhan) yang merupakan fase-fase kunci dari siklus adiksi.
Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita sering menggunakan narkoba secara berbeda, merespon narkoba secara berbeda, dan memiliki hambatan unik dalam mengakses pengobatan efektif sesederhana seperti tidak dapat menemukan tempat penitipan anak atau diresepkan pengobatan yang belum diuji secara memadai pada wanita.
Narkoba Terlarang
- Ganja
Serupa dengan zat adiktif lainnya, hanya sedikit wanita yang menggunakan ganja dibandingkan pria. Namun, efek ganja pada pengguna wanita berbeda dibandingkan pada pengguna pria. Penelitian mengindikasikan bahwa ganja merusak memori spasial pada pengguna wanita dibandingkan efek yang sama pada pengguna pria, sementara pengguna pria menunjukkan efek high yang diinduksi oleh ganja lebih besar.
Pada sebuah penelitian pada remaja, siswa sekolah menengah yang merokok ganja dilaporkan memiliki hubungan keluarga yang buruk dan masalah di sekolah lebih sering dibandingkan siswi sekolah menengah yang merokok ganja. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan yang menggunakan ganja berisiko lebih tinggi abnormalitas pada struktur otak yang dikaitkan dengan paparan terhadap ganja yang rutin dibandingkan pada remaja laki-laki.
Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa tikus betina lebih sensitif terhadap efek penghargaan, pereda nyeri, dan pengubah aktivasi dari senyawa aktif ganja delta-9-tetrahidrokanabinol (THC). Kebanyakan perbedaan ini dikaitkan dengan efek hormon berdasarkan jenis kelamin, meskipun penelitian pada hewan pengerat juga menunjukkan kemungkinan adanya perbedaan jenis kelamin dalam fungsi sistem endokanabinoid, sistem sinyal di otak dimana THC dan kanabinoid lainnya bekerja.
| Pria | Wanita |
| Kesamaan | |
| Perbedaan | |
| Setidaknya satu gangguan kesehatan mental lainnyaRendahnya tingkat pencarian pengobatan | |
| Gangguan penyalahgunaan narkoba lainyaGangguan kepribadian antisosialKeparahan gangguan | Serangan panikGangguan kecemasanGangguan berkembang lebih cepat |
Untuk kedua jenis kelamin, gangguan penyalahgunaan ganja dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk setidaknya satu kondisi kesehatan mental lainnya, seperti depresi atau kecemasan. Namun demikian, pria yang kecanduan ganja angka yang lebih tinggi untuk masalah penyalahgunaan narkoba lainnya dan gangguan kepribadian antisosial. Sebaliknya, wanita yang kecanduan ganja lebih cenderung mengalami serangan panik dan gangguan kecemasan. Meskipun tingkat keparahan gangguan penggunaan ganja umumnya lebih tinggi pada pria, wanita cenderung mengalami gangguan-gangguan tersebut lebih cepat setelah penggunaan ganja pertama. Angka pencarian pengobatan rendah untuk gangguan penggunaan ganja pada kedua jenis kelamin.
- Stimulan (kokain dan metamfetamin)
Penelitian pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih rentan terhadap efek penguatan (penghargaan) dari stimulan, dengan estrogen sebagai satu faktor yang mungkin menyebabkan peningkatan sensitivitas tersebut. Pada penelitian terhadap hewan, hewan betina lebih cepat dalam memulai menggunakan kokain – dan menggunakannya dalam jumlah besar – dibandingkan hewan jantan. Wanita mungkin juga lebih sensitif dibandingkan pria terhadap efek kokain pada jantung dan pembuluh darah. Sebaliknya, pengguna kokain, baik wanita maupun pria, menunjukkan penurunan yang serupa dalam hal pembelajaran, konsentrasi, dan pencapaian akademik, bahkan jika wanita telah menggunakannya untuk waktu yang lama. Pengguna kokain wanita juga lebih kecil kemungkinannya mengalami abnormalitas aliran darah di wilayah frontal otak dibandingkan pengguna pria. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya mekanisme yang terkait dengan jenis kelamin yang mungkin melindungi wanita dari sejumlah efek merusak kokain pada otak.
Untuk metamfetamin, para pengguna wanita melaporkan bahwa mereka menggunakan narkoba tersebut karena mereka percaya metamfetamin akan meningkatkan energi dan menurunkan rasa lelah akibat pekerjaan, perawatan rumah, pengasuhan anak, dan tanggung jawab keluarga. penurunan berat badan menjadi insentif lainnya yang disebutkan oleh pengguna wanita yang berkaitan dengan penggunaan metamfetamin – dan penurunan berat badan ini lebih signifikan terjadi pada pengguna wanita dibandingkan pada pengguna pria. Wanita juga melaporkan menggunakan metamfetamin karena mereka percaya zat tersebut dapat meningkatkan energi dan mengurangi kelelahan yang berkaitan dengan pekerjaan, perawatan rumah, pengasuhan anak, dan tanggung jawab keluarga. Wanita yang menggunakan metamfetamin juga memiliki tingkat depresi yang tinggi.

Wanita cenderung mulai menggunakan metamfetamin di usia dini dibandingkan pria, dengan pengguna wanita umumnya lebih bergantung pada metamfetamin dibandingkan pengguna pria. Wanita juga cenderung tidak beralih ke zat lainnya ketika mereka tidak memiliki akses ke metamfetamin. Selain itu, seperti narkoba lainnya, wanita cenderung lebih reseptif dibandingkan dengan pria terhadap pengobatan bagi metamfetamin.
- MDMA (ekstasi, molly)
Penelitian menunjukkan bahwa MDMA menghasilkan efek halusinasi yang kuat pada wanita dibandingkan pada laki-laki, meskipun pria menunjukkan peningkatan tekanan darah yang signifikan yang dipicu oleh MDMA. Terdapat bukti bahwa, pada pengguna yang tidak rutin, wanita lebih rentan mengalami depresi beberapa hari setelah penggunaan MDMA terakhir dibandingkan pria. Baik pria dan wanita menunjukkan peningkatan agresi yang serupa beberapa hari setelah mereka berhenti menggunakan MDMA.
MDMA menganggu kemampuan tubuh membuang air dan menurunkan kadar natrium dalam darah yang menyebabkan seseorang minum lebih banyak. Pada kasus yang jarang terjadi, hal ini dapat menyebabkan peningkatan kadar air dalam ruang antar sel, yang pada akhirnya menyebabkan pembengkakan otak hingga kematian. Wanita muda lebih mungkin meninggal akibat reaksi ini dibandingkan pria, dengan hampir seluruh kematian yang dilaporkan terjadi pada wanita muda berusia antara 15 dan 30 tahun. MDMA juga dapat menganggu pengaturan suhu tubuh dan menyebabkan hipertermia akut yang dapat mengakibatkan efek neurotoksik hingga kematian.
- Heroin
Penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung menggunakan heroin dalam jumlah kecil dan dalam waktu lebih sedikit, dan cenderung untuk tidak menyuntik heroin dibandingkan pria. Sebagian besar wanita yang menyuntik heroin menunjukkan adanya tekanan sosial dan dukungan dari pasangan seksual sebagai faktor risiko. Sebuah penelitian mengindikasikan bahwa wanita lebih berisiko mengalami kematian akibat overdosis dibandingkan pria selama tahun-tahun pertama menyuntikkan heroin, namun masih belum penyebabnya. Salah satu kemungkinannya adalah wanita yang menyuntikkan heroin lebih cenderung juga menggunakan obat resep – sebuah kombinasi yang berbahaya – dibandingkan pria yang menyuntikkan heroin. Wanita yang tidak mengalami overdosis dalam beberapa tahun pertama lebih mungkin bertahan hidup dalam jangka panjang dibandingkan pria. Hal ini dapat disebabkan perbedaan dalam pengobatan dan faktor lingkungan yang mempengaruhi penggunaan heroin.
Dibandingkan dengan pria, wanita yang menggunakan heroin cenderung:
- Lebih muda
- Mengonsumsi dalam jumlah kecil dan untuk waktu singkat
- Tidak menyuntik heroin
- Lebih dipengaruhi oleh pasangan seksual
Obat Resep
Penyalahgunaan obat resep adalah penggunaan obat-obatan tanpa resep, dengan cara yang tidak diresepkan, atau untuk mendapatkan pengalaman atau perasaan yang ditimbulkannya. Penyalahgunaan obat resep dapat berbahaya jika dicampur bersama tanpa arahan dokter, atau dicampur dengan narkoba lainnya atau alkohol.
- Opioid resep
Sejumlah penelitian mengindikasikan bahwa wanita lebih sensitive terhadap nyeri dibandingkan pria dan lebih cenderung mengalami nyeri kronis, yang berkontribusi terhadap tingginya angka resep opioid pada wanita usia reproduktif. Selain itu, wanita juga cenderung menggunakan opioid resep tanpa resep dokter untuk mengatasi nyeri, bahkan ketika pria dan wanita melaporkan tingkat nyeri yang serupa. Penelitian juga menunjukkan bahwa wanita cenderung menyalahgunakan opioid resep untuk mengobati dirinya untuk masalah lain seperti ketegangan atau kecemasan.
Akibat yang mungkin muncul akibat penyalahgunaan opioid resep adalah kematian akibat overdosis, yang dapat terjadi karena opioid menekan pernapasan. Pada tahun 2016, 7.109 wanita dan 9.978 pria meninggal akibat overdosis opioid resep (total 17.087 kematian)* dimana sekitar 19 wanita per hari, dibandingkan 27 pria per hari, meninggal akibat overdosis opioid resep. Namun demikian, dari tahun 1999 hingga tahun 2016, kematian akibat overdosis opioid resep meningkat secara signifikan pada wanita (596% atau tujuh kali lipat kenaikannya) dibandingkan pada pria (312% atau empat kali lipat). Wanita pada kelompok umur 45 – 54 tahun cenderung meninggal akibat overdosis opioid resep dibandingkan wanita pada kelompok umur lainnya.
*Catatan bahwa pada contoh ini, “opioid resep” mencakup opioid lainnya dan metadon (ICD-10 kode T40.2 – T40.3).
- Obat anti-cemas dan obat tidur
Wanita lebih cenderung mencari pengobatan untuk penyalahgunaan depresan sistem saraf pusat, yang mencakup sedative yang terkadang diresepkan untuk menangani kejang-kejang, gangguan tidur, dan kecemasan, serta untuk membius pasien sebelum menjalani operasi. Wanita juga lebih cenderung meninggal akibat overdosis akibat obat-obatan untuk kondisi kesehatan mental, seperti antidepresan. Antidepresan dan benzodiazepin (obat anti-cemas atau obat tidur) menyebabkan wanita lebih sering mengunjungi IGD dibandingkan pria. Karena wanita lebih berisiko mengalami kecemasan dan insomnia dibandingkan pria, hal tersebut memungkinkan wanita lebih sering diresepkan obat-obatan tersebut; akses yang lebih luas dapat meningkatkan risiko penyalahgunaan dan mengarah ke gangguan penyalahgunaan narkoba atau overdosis.
Zat Lainnya
- Alkohol
Secara umum, pria memiliki tingkat konsumsi alkohol yang lebih tinggi, termasuk minum yang berlebihan. Namun demikian, kelompok dewasa muda menjadi pengecualian: remaja perempuan usia 12 – 20 tahun memiliki tingkat penyalahgunaan alkohol dan minum berlebihan yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja laki-laki pada kelompok umur yang sama.
Konsumsi alkohol jangka panjang cenderung merusak kesehatan wanita dibandingkan pada pria, bahkan jika wanita hanya mengonsumsi alkohol dalam jumlah kecil atau dalam jangka waktu yang pendek. Perbandingan pada orang yang mengalami gangguan konsumsi alkohol menunjukkan bahwa angka kematian pada wanita berkisar 50% – 100% lebih tinggi dibandingkan pada pria, termasuk kematian akibat bunuh diri, kecelakaan karena konsumsi alkohol, penyakit jantung, stroke, dan penyakit liver. Selain itu, terdapat sejumlah risiko kesehatan yang hanya dialami oleh wanita yang mengonsumsi alkohol. Contoh, minum berat (heavy drinking) dikaitkan dengan peningkatan risiko melakukan hubungan seksual yang tidak aman, menyebabkan kehamilan atau terkena penyakit, dan peningkatan risiko menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual. Dan, minum dalam jumlah kecil seperti satu kali minum sehari dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara pada sejumlah wanita, khususnya pada mereka yang berada di fase pasca-menopause atau memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara.
Sebagai tambahan, pria dan wanita memetabolisasi alkohol secara berbeda karena perbedaan dalam aktivitas jaringan lambung. Faktanya, setelah mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang sama, wanita memiliki konsentrasi etanol dalam darah yang lebih tinggi. Akibatnya, wanita lebih mudah mabuk meskipun hanya mengonsumsi alkohol dalam jumlah kecil dibandingkan pria.
Informasi lebih lanjut mengenai perbedaan jenis kelamin dalam konsumsi alkohol tersedia di laman the National Institute of Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA): https://www.niaaa.nih.gov/publications/brochures-and-fact-sheets/women-and-alcohol
- Nikotin (Tembakau)
Penelitian mengindikasikan bahwa pria dan wanita berbeda dalam perilaku merokok. Contohnya, wanita hanya merokok beberapa batang per hari, cenderung merokok dengan kadar nikotin rendah, dan tidak menghirup asap rokok sedalam yang dilakukan pria. Wanita juga merokok untuk berbagai macam alasan yang berbeda dari pria, seperti regulasi suasana hati dan stres. Masih belum jelas diketahui apakah perbedaan yang ada dalam perilaku merokok karena wanita lebih sensitive terhadap nikotin, karena wanita merasa bahwa sensasi ketika merokok kurang menyenangkan, atau karena faktor sosial yang menyebabkan perbedaan tersebut; sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa wanita mengalami lebih banyak stres dan kecemasan sebagai akibat gejala putus nikotin dibandingkan pria.
Risiko kematian akibat kanker paru-paru karena merokok, penyakit paru-paru obstruktif kronis, penyakit jantung, dan stroke terus meningkat pada wanita – mendekati angka kasus pada pria. Menurut data yang dikumpulkan dari tahun 2005 hingga tahun 2009, sebanyak 201.000 wanita meninggal setiap tahun karena faktor-faktor yang berkaitan dengan merokok – dibandingkan dengan 278.000 pria. Sejumlah bahaya juga dikaitkan dengan merokok – seperti penggumpalan darah, serangan jantung, atau stroke – meningkat pada wanita merokok yang menggunakan alat kontraseptif.
Jumlah perokok di AS menurun pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an, cenderung stabil sepanjang tahun 1990-an, dan terus menurun hingga awal tahun 2000-an. Karena penurunan tersebut lebih banyak terjadi pada pria dibandingkan pada wanita, prevalensi merokok hanya sedikit lebih tinggi pada pria dibandingkan pada wanita, saat ini. Sejumlah faktor tampaknya berkontribusi terhadap kesenjangan gender yang semakin menyempit ini, termasuk perempuan cenderung lebih sulit untuk berhenti merokok dibandingkan laki-laki dan lebih mungkin untuk mengalami relaps jika mereka berhenti merokok.

Tautan ke artikel asli: https://nida.nih.gov/publications/research-reports/substance-use-in-women/sex-differences-in-substance-use

