Laporan Penelitian Adiksi Pada Wanita:perbedaan Jenis Kelamin Dalam Pengobatan SUD (Seri 4)

Laporan Penelitian: Penyalahgunaan Narkoba pada Wanita

Seri 4: Perbedaan Jenis Kelamin dalam Pengobatan bagi Gangguan Penggunaan Narkoba

Terdapat lebih banyak pria dibandingkan wanita yang berada dalam pengobatan bagi gangguan penggunaan narkoba. Namun demikian, wanita lebih cenderung mencari pengobatan bagi ketergantungan sedatif seperti obat anti-cemas dan obat tidur. Selain itu, meskipun pria secara historis lebih cenderung untuk mencari pengobatan bagi penggunaan heroin, angka wanita yang mencari pengobatan meningkat dalam beberapa dekade terakhir.

Gangguan penggunaan narkoba berkembang secara berbeda pada wanita dibandingkan pada pria. Wanita seringkali menunjukkan riwayat singkat penggunaan narkoba tertentu, seperti kokain, opioid, ganja, atau alkohol. Namun, wanita biasanya memasuki perawatan bagi gangguan penggunaan narkoba dengan masalah medis, perilaku, psikologis, dan sosial yang lebih parah.

Banyak wanita yang hamil atau memiliki anak kecil tidak mencari perawatan atau berhenti lebih awal dari perawatan karena mereka tidak dapat merawata anak-anak mereka; mereka juga takut pihak berwenang akan mengambil hak asuh anak mereka. Gabungan beban pekerjaan, tugas rumah, pengasuhan anak, dan tanggung jawab keluarga lainnya, ditambah dengan seringnya jadwal perawatan, dapat terasa sangat berat bagi kebanyakan wanita. Perawatan yang sukses perlu memberikan dukungan yang kuat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Wanita dan Perawatan Berhenti Merokok

Penelitian menunjukkan bahwa wanita cenderung sulit untuk berhenti merokok. Dan jika mereka berhenti, mereka cenderung relaps. Pilihan pengganti-nikotin, seperti koyo atau permen kunyah nikotin, tidak bekerja efektif pada wanita dibandingkan pada pria, dan gejala putus nikotin dapat lebih intens dialami oleh wanita dibandingkan oleh pria. Gejala putus dan craving nikotin bervariasi sepanjang siklus menstruasi, yang semakin mempersulit upaya wanita untuk berhenti merokok.

“Beban pada jantung akibat merokok satu bungkus rokok per hari setara dengan kelebihan berat badan kurang lebih 40kg.”

Sejumlah wanita terus merokok karena mereka takut akan mengalami kenaikan berat badan ketika berhenti merokok. Namun, penelitian menunjukkan seseorang hanya mengalami kenaikan berat badan yang moderat setelah berhenti merokok. Rerata kenaikan seorang perokok yang berhenti merokok adalah sekitar 2 – 5 kg, namun diet dan perubahan gaya hidup dapat mengurangi risiko kenaikan berat badan. Jika seorang perokok mengalami kenaikan berat badan, orang tersebut akan mengalami penurunan berat badan ekstra tersebut dalam waktu 6 bulan. Faktanya, perokok yang berhenti merokok untuk jangka panjang, rata-rata, hanya mengalami kenaikan berat badan kurang lebih hanya 1 kg. Yang terpenting adalah manfaat kesehatan yang diperoleh ketika berhenti merokok jauh melampaui risiko kenaikan berat badan sebanyak 1 kg. Berhenti merokok juga menurunkan risiko berbagai jenis kanker, serangan jantung, dan penyakit paru-paru.

Perawatan gangguan penggunaan narkoba bagi ibu dan bayinya ketika hamil atau menyusui

Seorang wanita hamil sebaiknya mencari bantuan medis untuk menghentikan penggunaan narkobanya. Jika ia berhenti mendadak dari penggunaan narkoba adiktif dan alkohol tanpa bantuan medis, wanita tersebut dapat membahayakan janin yang dikandungnya.

Perawatan rawat jalan intensif, yang memberikan tingkat perawatan yang lebih tinggi dibandingkan program rawat jalan tradisional namun tidak memerlukan fasilitas residensial terstruktur, memberikan hasil yang lebih positif pada wanita hamil. Wanita hamil lebih cenderung untuk tetap menjalani program perawatan ini jika program tersebut juga menyediakan layanan lainnya seperti tempat penitipan anak, kelas pengasuhan anak, dan pelatihan kejuruan.

Selain itu, penting untuk memonitor bayi baru lahir dari ibu yang menggunakan narkoba untuk melihat apakah ada gejala putus obat dan memberikan perawatan yang tepat jika diperlukan. Perawatan ketergantungan narkoba pada bayi baru lahir bergantung pada tingkat keparahan gejala dan, meskipun perawatan non-farmakologis lebih diutamakan, terkadang perawatan mencakup layanan rawat inap untuk pemberian cairan infuse dan obat-obatan. Dosis obat-obatan tersebut diturunkan secara bertahap hingga bayi beradaptasi dengan kondisi bebas-narkoba.

“Undang-undang federal (AS) mewajibkan wanita hamil mendapatkan prioritas penerimaan dalam program perawatan gangguan penggunaan narkoba yang didanai publik, sehingga mereka dapat melewati daftar tunggu dan mendapatkan perawatan segera ketika tersedia tempat di program residensial. Penyedia layanan kesehatan primer harus menyediakan layanan prenatal yang aman jika wanita hamil belum mendapatkannya. Narahubung negara bagian (AS) untuk program ini dapat dilihat di website SAMHSA.”

Mengobati gangguan penggunaan opioid pada wanita hamil

Wanita hamil yang mengalami kecanduan pereda nyeri jenis opioid atau heroin menghadapi masalah serius karena bayi mereka dapat terlahir dengan kondisi ketergantungan zat tersebut.              Saat ini, FDA belum menyetujui penggunaan obat-obatan untuk mengobati gangguan penggunaan opioid pada wanita hamil, namun program terapi rumatan metadon dan buprenorfin yang dikombinasikan dengan layanan prenatal serta program perawatan narkoba yang komprehensif dapat memperbaiki hasil yang tidak diinginkan dari gangguan penggunaan opioid yang tidak diobati. Secara umum, tidak direkomendasikan atau diperlukan bagi wanita hamil untuk berhenti dari program terapi metadon atau buprenorfin. Namun, bayi baru lahir yang terpapar metadon selama kehamilan mungkin memerlukan perawatan untuk menangani gejala putus obat.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa buprenorfin (Suboxone®, Subutex®) memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan metadon dosis-tunggal sebagai perawatan untuk gangguan penggunaan opioid bagi wanita hamil. Bayi yang terlahir dari ibu yang sedang menjalani perawatan buprenorfin mengalami lebih sedikit gejala ketergantungan dan mengurangi periode rawat inap dibandingkan dengan ibu yang menjalani perawatan metadon.

Ibu hamil yang menjalani perawatan buprenorfin untuk mengobati gangguan penggunaan opioid  selama kehamilan harus menyadari bahwa kadar buprenorfin yang disalurkan melalui ASI mungkin tidak cukup untuk mencegah gejala putus opioid pada bayi mereka. Pada sejumlah kasus, perawatan bagi bayi tersebut mungkin diperlukan.

Wanita hamil yang kecanduan opioid, meskipun mereka berada dalam perawatan, harus memonitor kondisi bayinya berkaitan dengan rasa kantuk, kenaikan berat badan yang tidak mencukupi berdasarkan usia, dan tidak mencapai tonggak perkembangan – khususnya pada bayi yang lebih muda dan diberikan ASI secara eksklusif. Meskipun sangat kecil kemungkinannya, jika bayi yang disusui oleh ibu yang sedang menjalani terapi buprenorfin menunjukkan peningkatan tanda-tanda mengantuk, kesulitan dalam menyusu atau bernapas, atau pincang, segera konsultasikan ke dokter. Bayi harus diamati untuk melihat kemungkinan munculnya tanda-tanda gejala putus obat jika pemberian ASI dihentikan secara mendadak.

Untuk bayi yang terlahir dengan kondisi NAS akibat opioid, proses pemulihannya memerlukan layanan rawat inap dan kemungkinan pengobatan dengan morfin atau metadon untuk meredakan gejalanya; para peneliti juga meneliti buprenorfin untuk alasan tersebut. Terdapat sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa buprenorfin jauh lebih baik dalam mengobati bayi dengan kondisi NAS akibat opioid dibandingkan morfin. Hasil penelitian yang didanai oleh NIDA menunjukkan bahwa pengobatan buprenorfin sublingual bagi bayi dengan kondisi NAS menghasilkan durasi pengobatan yang lebih singkat dibandingkan morfin oral dan periode rawat inap yang lebih singkat, dengan tingkat efek samping yang serupa.

Tautan ke artikel asli:

  1. https://nida.nih.gov/publications/research-reports/substance-use-in-women/sex-differences-in-substance-use-disorder-treatment      

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *