HIV, Nutrisi, dan Keamanan Pangan (Seri-6)

Keamanan Pangan Bagi Lansia dan Orang dengan Kanker, Diabetes, HIV/AIDS, Transplantasi Organ, dan Penyakit Autoimun

Keamanan pangan penting bagi setiap orang – namun hal tersebut sangat penting bagi individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, yang membuat mereka sangat rentan terhadap penyakit melalui makanan. Panduan ini disusun untuk membantu orang lanjut usia (lansia) dan orang dengan kanker, diabetes, HIV/AIDS, transplantasi organ, atau penyakit autoimun untuk menghindari infeksi melalui makanan.

Selain informasi yang tersedia dalam artikel ini, konsultasikan dengan dokter Anda mengenai makanan atau produk lainnya yang harus dihindari karena kebutuhan kesehatan khusus yang Anda miliki.

Pentingnya sistem kekebalan tubuh

Sistem kekebalan tubuh Anda penting bagi kesehatan Anda karena sistem tersebut melindungi tubuh Anda dari organisme yang infeksius serta zat asing lainnya. Tersebar di seluruh tubuh Anda, sistem kekebalan tubuh terbentuk dari kumpulan sel, jaringan, dan organ yang bekerja sama untuk melindungi Anda. Ketika sistem kekebalan tubuh Anda mendeteksi kehadiran organisme penyebab penyakit dan zat lainnya yang menginvasi tubuh, sistem kekebalan tubuh merespon dengan melawannya.

Ketika orang menua, kerja sistem kekebalan tubuh menurun. Penyakit seperti kanker dan diabetes melemahkan sistem tersebut. Selain itu, obat-obatan untuk HIV/AIDS, penyakit autoimun (lupus dan arthritis rematoid), dan transplantasi organ juga melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Mengapa keamanan pangan penting bagi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah

Ketika bakteri, virus, atau parasit (kuman) mengontaminasi makanan, kuman tersebut dapat menyebabkan penyakit melalui makanan; kondisi tersebut sering disebut dengan keracunan makanan. Meskipun suplai makanan di US merupakan salah satu yang teraman di dunia, suplai makanan tetap menjadi sumber infeksi.

Menurut CDC, sebanyak 48 juta orang – atau 1 dari tiap 6 orang mengalami penyakit melalui makanan setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 128.000 orang dirawat di rumah sakit, dan 3.000 orang meninggal akibat penyakit tersebut. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah berisiko tinggi mengalami keracunan makanan. Mereka cenderung menjalani rawat inap, durasi penyakit yang lebih lama, atau bahkan meninggal akibat penyakit melalui makanan.

  • Orang lanjut usia (lansia) – orang berusia 65 tahun ke atas berisiko tinggi menjalani rawat inap dan kematian akibat penyakit melalui makanan. Peningkatan risiko tersebut disebabkan oleh perubahan pada sistem dan organ tubuh yang mengalami penuaan.
    • Sistem pencernaan menahan makanan lebih lama, memungkinkan bakteri untuk tumbuh, sementara lambung tidak menghasilkan cukup asam untuk membatasi jumlah bakteri usus.
    • Hati dan ginjal tidak dapat membersihkan tubuh dari bakteri dan racun asing dengan baik.
    • Antara usia 50 dan 60 tahun, sistem kekebalan tubuh pada sebagian besar orang mulai menurun. Setelah usia 75 tahun, banyak orang dewasa memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah sehingga risiko mereka terkena penyakit melalui makanan meningkat, sementara kemampuan tubuh mereka untuk melawan infeksi menurun.
  • Orang dengan kanker – jika kanker menyebar ke sumsum tulang, kanker dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Selain itu, sebagian besar pasien kanker menjalani terapi seperti radiasi, kemoterapi, dan/atau obat-obatan untuk melawan kanker. Efek samping dari hal-hal tersebut adalah melemahnya sistem kekebalan tubuh sehingga pasien menjadi lebih rentan terhadap infeksi, seperti infeksi melalui makanan.
  • Orang dengan diabetes – sistem kekebalan tubuh dari jutaan pasien diabetes di AS tidak dapat mengenali bakteri dan virus yang menyebabkan kondisi keracunan makanan. Respon lamban tersebut menempatkan pasien diabetes berisiko tinggi mengalami infeksi. Selain itu, diabetes juga merusak sel yang menghasilkan asam lambung dan saraf yang membantu lambung  dan usus menggerakkan makanan melalui proses pencernaan normal. Hasilnya, saluran pencernaan menahan makanan lebih lama yang menyebabkan bakteri dan virus berbahaya menggandakan diri. Dan, diabetes merusak ginjal yang bekerja membersihkan tubuh, menahan bakteri, racun, dan patogen berbahaya lainnya.
  • Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) – ketika HIV merusak atau menghancurkan sistem kekebalan tubuh, ODHIV menjadi lebih rentan mengalami infeksi, termasuk infeksi melalui makanan.
  • Orang dengan transplantasi organ – sistem kekebalan tubuh yang sehat akan menolak atau menghancurkan organ atau sumsum tulang transplant – dengan cara yang sama sistem kekebalan tubuh bekerja untuk membersihkan tubuh dari infeksi. Oleh karenanya, penerima transplan umumnya mengonsumsi obat-obatan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Obat-obatan tersebut disebut imunosupresan karena mereka menekan sistem kekebalan tubuh dari menyerang atau menolak organ atau sumsum tulang transplan. Efek samping imunosupresan adalah obat-obatan ini membuat pasien sangat rentan mengalami infeksi – seperti infeksi yang dapat disebabkan oleh bakteri dan virus penyebab penyakit melalui makanan.
  • Orang dengan penyakit autoimun – penyakit autoimun, seperti sklerosis multipel, inflammatory bowel disease, dan lupus merupakan kondisi dimana sistem kekebalan tubuh keliru menyerang tubuh sendiri.    Orang dengan penyakit autoimun seringkali diobati dengan imunosupresan sehingga membuat mereka rentan terhadap infeksi, termasuk infeksi melalui makanan karena sistem kekebalan tubuh mereka tidak dapat memerangi infeksi secara efektif.

Tautan ke artikel asli: https://www.fda.gov/food/people-risk-foodborne-illness/food-safety-older-adults-and-people-cancer-diabetes-hivaids-organ-transplants-and-autoimmune

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *