ADHD drugs may target rewards centers, not attention network
Menurut CDC, sekitar 1 dari 10 anak-anak (11,4%) didiagnosis mengalami ADHD, dimana jutaan anak minum obat resep, seperti Ritalin dan Addrerall, untuk mengatasi gejala seperti kurang perhatian dan impulsivitas.
Untuk menentukan cara otak bekerja dalam merespon stimulan, para peneliti dari The Washington University School of Medicine membandingkan hasil MRI dari 5.795 anak-anak usia 8 – 11 tahun yang dikumpulkan sebagai bagian dari The Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study. Partisipan yang terlibat meliputi 337 anak-anak yang telah minum obat stimulan di pagi hari sebelum menjalani scan otak serta 76 anak-anak yang telah diresepkan namun belum meminum obat tersebut. Sisa partisipan yang terlibat tidak pernah diresepkan stimulan atau meminum obat resep sebelum scan.

Meskipun para peneliti menemukan sedikit perbedaan antara partisipan yang mengonsumsi stimulan dan partisipan yang tidak, dalam hal area otak yang terlibat dalam perhatian (seperti jaringan perhatian dorsal dan korteks prefrontal), terdapat perbedaan signifikan di area otak yang terkait dengan penghargaan dan kewaspadaan. Alih-alih meningkatkan kemampuan otak untuk fokus, obat tersebut bekerja dengan meningkatkan dorongan dan motivasi, kata para peneliti.
“Namun, kami telah menunjukkan bahwa hal itu tidak benar. Sebaliknya, peningkatan yang kami amati dalam hal perhatian adalah efek sekunder dari anak yang menjadi lebih waspada dan menganggap tugas tersebut lebih bermanfaat, yang secara alami membantu mereka untuk lebih memperhatikan tugas tersebut,” ujar Benjamin Kay, asisten profesor neurologi di Washington University School of Medicine.
Tautan ke berita lengkap: ADHD drugs may target rewards centers, not attention network
Tautan ke artikel ilmiah terkait: Stimulant medications affect arousal and reward, not attention networks

