Trauma dan Stres (Seri – 1)

Dampak trauma dan stres pada tubuh dan otak

Apa itu stress? Apa itu trauma?

Stres adalah reaksi fisik atau emosional terhadap tantangan atau tuntutan, seperti tuntutan sekolah, masalah finansial, atau mengalami penyakit. Pemicu stres dapat bersifat satu waktu atau kejadian jangka pendek, atau pemicu stres dapat terjadi berulang kali dalam jangka panjang.

Ketika seseorang berada dalam tekanan, tubuh bereaksi dengan melepaskan hormone yang menghasilkan respon “lawan atau pergi”. Detak jantung, laju napas, dan tekanan darah meningkat. Stres yang muncul sesekali merupakan mekanisme koping yang normal. Namun, stres jangka panjang (yang disebut stres kronik) berkontribusi atau memperburuk masalah kesehatan termasuk gangguan pencernaan, sakit kepala, gangguan tidur, dan gejala lainnya.

Trauma merujuk pada respon emosional yang persisten terhadap kejadian, rangkaian kejadian, atau keadaan yang dianggap individu sebagai hal yang berbahaya atau mengancam. Hal tersebut dapat mengakibatkan stres berlebihan dan dampak buruk yang berlangsung lama terhadap kesejahteraan dan fungsi individu.

Kejadian traumatis merupakan pengalaman mengejutkan, menakutkan, atau berbahaya. Pengalaman seperti bencana alam (badai, gempa bumi, dan banjir), tindak kekerasan (seperti penyerangan, pelecehan, serangan teroris, dan penembakan massal), dan kecelakaan mobil, serta kecelakaan lainnya dapat menjadikan seseorang mengalami trauma. Keadaan traumatis meliputi pengabaian, kehilangan orangtua atau pasangan, konflik keluarga, rasisme, dan diskriminasi. Dalam sejumlah kasus, respon emosional terhadap kejadian atau keadaan traumatis dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi yang disebut post-traumatic stress disorder (PTSD). Trauma dan stres berkontribusi terhadap gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan, serta penggunaan narkoba dan perkembangannya menjadi gangguan penggunaan narkoba.

Bagaimana trauma mempengaruhi tubuh dan otak seseorang?

Pengalaman seseorang sepanjang hidupnya merupakan faktor bagi fungsi dan struktur otaknya. Pengalaman akan pelecehan atau pengabaian, terpisah dari atau kehilangan orangtua atau pasangan, korban kekerasan atau perundungan, pergi berperang, atau mengalami rasisme atau diskriminasi, diantara banyak kejadian dan keadaan lainnya, dapat menyebabkan perubahan dalam otak yang membuat seseorang lebih sensitif terhadap kejadian di masa depan, bahkan tekanan hidup sehari-hari.

Akibatnya, penyintas trauma menjadi lebih sensitif dan kurang mampu mengatasi tekanan hidup sehari-hari. Kebanyakan orang akan pulih dari gejala tersebut, dan reaksinya akan berkurang seiring berjalannya waktu. Pada sejumlah kasus, respon tersebut terus berlanjut lebih lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, sebuah kondisi yang disebut dengan post-traumatic stress disorder (PTSD).

Sumber: NIDA. 2024, February 6. Trauma and Stress. Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/trauma-and-stress on 2026, January 10

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *