Psilocybin dan Adiksi (Seri 3)

Apakah psilocybin aman dikonsumsi?

Psilocybin memiliki tingkat toksisitas yang rendah. artinya, zat tersebut memiliki potensi rendah menyebabkan kejadian fatal seperti masalah pernapasan atau serangan jantung. Namun demikian, banyak penelitian menunjukkan bahwa terdapat risiko kesehatan yang berkaitan dengan konsumsi zat ini, khususnya ketika dikonsumsi tanpa pengawasan dan di luar penelitian dan supervisi klinis. Risiko kesehatan yang ditimbulkan zat ini meliputi:

Perilaku berbahaya

Orang mungkin melakukan hal-hal yang membuat diri mereka atau orang lain berisiko mengalami luka fisik setelah mengonsumsi jamur ini dalam lingkungan tanpa supervisi – contohnya, mengemudi secara berbahaya atau berjalan di tengah lalu lintas – karena mereka tidak menyadari lingkungan sekitarnya serta mengalami gangguan dalam kemampuan berpikir jernih.

Efek samping fisik

Psilocybin umumnya meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung, yang merupakan hal berbahaya bagi orang dengan masalah jantung. Orang juga mungkin mengalami efek samping seperti agitasi, kebingungan, mual atau muntah, yang bersifat parah sehingga memerlukan pertolongan medis. Dengan meningkatkan keingintahuan publik, dan di sejumlah area, sedikitnya batasan legal terhadap penggunaan zat ini, paparan terhadap psilocybin yang dilaporkan ke pusat pengendalian keracunan AS mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Risiko lainnya adalah salah mengindentifikasi jamur beracun sebagai jamur yang mengandung psilocybin. Menurut CDC, sejumlah produk komersial seperti permen yang dipasarkan dengan informasi mengandung psilocybin juga ditemukan mengandung senyawa kimia berbahaya sehingga menimbulkan penyakit parah.

Rasa takut

Sejumlah orang yang mengonsumsi psilocybin mengalami ketakutan, kecemasan, panik, atau paranoia yang ekstrim saat mereka merasakan efek halusinogen zat tersebut, yang dikenal dengan sebutan “bad trip”.

Isu kesehatan mental

Risiko masalah kesehatan mental seperti psikosis atau kecenderungan bunuh diri dalam lingkungan klinis yang diawasi pada orang yang berpartisipasi dalam penelitian mengenai psilocybin, rendah. akan tetapi, masalah kesehatan mental yang buruk mungkin terjadi di luar lingkungan klinis. Untuk informasi lebih lanjut, baca “What is the relationship between psychedelic and dissociative drugs and mental illness?” (https://nida.nih.gov/research-topics/psychedelic-dissociative-drugs).

Apakah psilocybin bersifat adiktif? Apakah orang mengalami gejala putus obat akibat psilocybin?

Penelitian terkini menunjukkan bahwa penggunaan psilocybin umum tidak mengarah ke adiksi. Diagnosis gangguan penggunaan narkoba tegak ketika seseorang memenuhi kriteria diagnosis spesifik untuk penggunaan narkoba yang berkelanjutan tanpa mempertimbangkan konsekuensi negatif yang ditimbulkan.

The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) – merupakan teks rujukan bagi profesional untuk mendiagnosis gangguan penggunaan narkoba dan gangguan psikiatrik lainnya – tidak mencakup kriteria penggunaan narkoba yang secara khusus terkait dengan psilocybin, meskipun teks rujukan tersebut mencakup diagnosis gangguan penggunaan fenisiklidin (phencyclidine (PCP) use disorder) dan “other hallucinogen use disorder”. Untuk informasi lebih lanjut, baca “Are psychedelic and dissociative drug addictive?”. Sumber: NIDA. 2024, January 24. Psilocybin (Magic Mushrooms). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/psilocybin-magic-mushrooms on 2026, February 6

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *