Mendalami Sains Mengenai Penggunaan Narkoba: Rujukan Bagi Sektor Peradilan
Mengapa orang menggunakan narkoba?
Orang menggunakan narkoba untuk banyak alasan: merasa lebih baik, berhenti merasa tidak baik (buruk), atau meningkatkan performa di sekolah atau tempat kerja, atau penasaran karena orang lain menggunakan narkoba dan mereka ingin merasa diterima di lingkungan pergaulan tersebut. Alasan terakhir adalah yang paling sering dialami oleh remaja.
Narkoba merangsang bagian otak yang membuat orang merasa senang. Namun setelah penggunaan narkoba selama beberapa waktu, bagian otak tersebut menjadi terbiasa dengannya sehingga mereka harus meningkatkan jumlah narkoba yang dikonsumsi untuk mendapatkan efek yang sama. Tidak lama kemudian, otak dan tubuh mereka harus mendapatkan narkoba agar dapat merasa normal. Mereka merasa sakit, sangat tidak enak badan, cemas, dan mudah tersinggung tanpa narkoba. Pengguna narkoba tidak dapat lagi merasa senang seperti ketika pertama kali menggunakannya. Hal ini benar terjadi ketika Anda menggunakan obat terlarang atau menyalahgunakan obat resep. Penyalahgunaan meliputi penggunaan obat secara berbeda dari yang diresepkan oleh dokter (mengonsumsi dalam jumlah yang tidak sesuai atau menghancurkan pil untuk “shoot up” atau untuk dihirup), menggunakan resep orang lain, atau menggunakannya untuk mendapatkan efek “high”.
Penggunaan narkoba dapat bermula dari niat untuk menghindari beban hidup – namun narkoba dengan cepat merubah hidup menjadi jauh lebih buruk. Selain membuat pengguna narkoba merasa tidak baik, jenis narkoba yang berbeda dapat mempengaruhi tubuh dan otak secara berbeda. Berikut ini adalah beberapa contoh:
- Alkohol: Anda mungkin mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, memecahkan masalah, mengingat, dan belajar.
- Ganja: Anda mungkin melupakan hal-hal yang baru saja dipelajari atau kesulitan untuk fokus.
- Obat pereda nyeri resep (opioid) atau obat penenang (sedatif): Detak jantung dan pernapasan bisa melambat hingga tingkat yang berbahaya, yang dapat menyebabkan koma atau kematian.
- Heroin: Mirip dengan obat pereda nyeri opioid, detak jantung dan pernapasan Anda bisa melambat hingga tingkat yang berbahaya, yang dapat menyebabkan koma atau kematian.
- Obat stimulan resep (misalnya, obat ADHD): Suhu tubuh Anda bisa meningkat hingga tingkat yang berbahaya, atau Anda mungkin mengalami detak jantung tidak teratur, gagal jantung, atau kejang.
- Kokain dan metamfetamin: Anda mungkin menjadi agresif, mengalami serangan panik atau merasa paranoid, atau mengalami serangan jantung.
- MDMA (Ekstasi atau Molly): Anda mungkin merasa bingung dalam waktu lama setelah mengonsumsinya serta mengalami masalah pada daya perhatian, ingatan, dan tidur.
- LSD: Emosi Anda bisa berubah dengan cepat dan Anda mungkin tidak dapat mengenali kenyataan; kilas balik yang menakutkan bisa terjadi jauh setelah penggunaan.
- Inhalan: Jantung, ginjal, paru-paru, dan otak Anda bisa mengalami kerusakan; bahkan orang yang sehat pun bisa mengalami gagal jantung dan kematian dalam hitungan menit setelah menghirup inhalan dalam jumlah banyak.
Orang yang sedang berada di bawah pengaruh narkoba tidak aman untuk mengemudi. Ganja dapat menurunkan waktu respons, membuat penggunanya tidak dapat mengukur waktu dan jarak, serta menurunkan koordinasi (cara Anda menggerakkan tubuh). Kokain dan metamfetamin dapat membuat pengemudi menjadi agresif dan ceroboh. Jenis sedative tertentu, yaitu benzodiazepine, dapat membuat penggunanya merasa pusing atau mengantuk. Efek-efek tersebut dapat menurunkan kemampuan mengemudi seseoranhg sehingga menyebabkan kecelakaan yang bisa mengakibatkan cedera maupun kematian.
Tautan ke artikel lengkap: https://nida.nih.gov/research-topics/criminal-justice/science-drug-use-resource-justice-sector

