Apakah orang dengan penyakit jiwa dan gangguan penggunaan narkoba lebih sering mengonsumsi tembakau?
Proporsi dari orang yang didiagnosa dengan gangguan jiwa melaporkan konsumsi rokok lebih besar daripada orang tanpa gangguan jiwa. Pada orang dewasa di AS di tahun 2019, persentase orang yang melaporkan konsumsi rokok dalam sebulan terakhir adalah 1,8 kali lebih tinggi pada orang dengan penyakit jiwa pada tahun lalu dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki penyakit jiwa (28,2% vs. 15,8%). Angka merokok khususnya tinggi pada orang dengan penyakit jiwa yang berat (orang yang menunjukkan gangguan fungsional yang lebih besar). Meskipun estimasinya bervariasi, sebanyak 70 – 85% orang yang mengalami skizofrenia dan sebanyak 50 – 70% orang dengan gangguan bipolar merokok.
Angka merokok tertinggi pada orang dengan gangguan jiwa terdapat pada kelompok dewasa muda, tingkat pendidikan rendah, dan hidup di bawah garis kemiskinan. Data the 2005-2013 National Survey on Drug Use and Health (NSDUH) mengindikasikan bahwa merokok pada orang dewasa tanpa kondisi kronis mengalami penurunan secara signifikan, namun angka merokok tetap tinggi pada orang yang melaporkan mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan penggunaan narkoba. Hal yang serupa ditemukan dalam penelitian terkini yang didasarkan pada data NSDUH 2006 – 2019 yang menunjukkan angka merokok tertinggi terdapat pada kelompok orang dewasa dengan gangguan psikiatrik dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki gangguan tersebut; namun yang paling penting, angka merokok pada orang dewasa dengan depresi mayor dan/atau gangguan penggunaan narkoba menurun secara signifikan selama periode 2006 – 2019 di setiap usia, jenis kelamin, dan subkelompok ras dan etnis yang diperiksa, kecuali untuk orang dewasa Indian Amerika non-Hispanik atau Penduduk Asli Alaska. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penghentian penggunaan tembakau dapat dicapai pada orang dewasa dengan gangguan psikiatrik dan penggunaan tembakau.
Merokok diyakini lebih sering dilakukan oleh orang dengan depresi dan skizofrenia karena nikotin, bersifat sementara, dapat mengurangi gejala penyakit tersebut, seperti konsentrasi yang rendah, suasana hati yang buruk, dan stres. Namun perlu dicatat bahwa berhenti merokok dikaitkan dengan perbaikan kesehatan jiwa – termasuk depresi, kecemasan, dan stres yang berkurang, serta peningkatan suasana hati dan kualitas hidup.
Selain merokok, terdapat prevalensi tinggi penggunaan tembakau tanpa asap pada orang dengan kecemasan atau gangguan penggunaan narkoba. Penelitian yang menarik data dari the National Epidemiologic Survey on Alcohol and Related Conditions (NESARC) menemukan bahwa semua jenis ketergantungan narkoba berkaitan dengan ketergantungan nikotin. Merokok juga paling sering dilakukan oleh orang yang berada dalam perawatan untuk gangguan penggunaan narkoba, dengan sebagian besar penelitian menemukan angka merokok di kisaran 65 – 85% pada orang yang berada dalam perawatan adiksi.
Selain itu, orang yang merokok dan memiliki gangguan kesehatan jiwa cenderung untuk merokok sigaret dibandingkan dengan populasi umum. Rata-rata jumlah batang rokok yang dihisap selama satu bulan terakhir lebih tinggi pada orang dengan penyakit jiwa dibandingkan dengan orang tanpa penyakit tersebut – 331 vs. 310 batang rokok. Konsumsi rokok yang tinggi menjadi masalah khusus bagi orang dengan penyakit jiwa berat. Meskipun orang dewasa dengan adiksi tembakau serta gangguan jiwa, diluar dari gangguan penggunaan narkoba, hanya sebanyak 7,1% dari total populasi AS, mereka mengonsumsi 34,2% dari jumlah rokok yang dikonsumsi di AS, menurut data dari the 2001 – 2002 NESARC.
Prevalensi tinggi merokok pada orang dengan skizofrenia
Para peneliti berusaha mengidentifikasi sirkuit otak yang berkontribusi pada prevalensi tinggi merokok pada orang dengan skizofrenia. Skizofrenia dikaitkan dengan reduksi luas dari konektivitas fungsional antara korteks cingulate anterior dorsal dan berbagai bagian dari sistem limbik. Sebuah laporan mengidentifikasi 15 sirkuit yang penurunan konektivitas fungsionalnya berkaitan dengan tingkat keparahan adiksi nikotin.
Orang dengan gangguan penggunaan narkoba dan penyakit jiwa lainnya, tidak berhenti merokok pada tingkat yang sama seperti pada populasi umum. Jawaban survei dari orang yang pernah merokok pada satu waktu dalam hidup mereka mengindikasikan bahwa sejumlah kecil perokok dengan penyakit jiwa berhenti merokok dibandingkan dengan orang tanpa gangguan psikiatrik: 47,4% perokok seumur hidup tanpa gangguan jiwa merokok dalam satu bulan terakhir dibandingkan dengan 66% perokok seumur hidup dengan penyakit jiwa. Penelitian terkini menemukan bahwa pada orang dewasa AS di tahun 2019, persentase orang yang melaporkan merokok sigaret di bulan lalu lebih tinggi pada orang dengan episode depresi berat di tahun lalu dibandingkan dengan orang yang tidak mengalami episode tersebut (24,2% vs. 17,6%) dan pada orang dengan gangguan penggunaan narkoba (alkohol atau narkoba lainnya) di tahun lalu dibandingkan dengan orang tanpa gangguan tersebut (35,8% vs. 16,8%).
Memiliki gangguan jiwa saat berhenti merokok merupakan faktor risiko relaps merokok, bahkan bagi mereka yang telah abstinens selama lebih dari satu tahun. Kebanyakan perokok dengan penyakit jiwa ingin berhenti merokok untuk alasan yang sama dengan perokok lainnya (seperti kesehatan dan keluarga), namun mereka lebih rentan untuk mengalami relaps yang berkaitan dengan stres dan perasaan negatif lainnya.
Ketimpangan dalam prevalensi merokok merenggut nyawa. Sebuah penelitian terkini menemukan bahwa penyakit yang berkaitan dengan penggunaan tembakau menyebabkan sekitar 53% kematian pada orang dengan skizofrenia, 48% pada orang dengan gangguan bipolar, dan 50% pada orang dengan depresi.
Sejak tahun 1980-an, banyak penyedia layanan kesehatan meyakini bahwa orang dengan skizofrenia merokok untuk meringankan gejala penyakit tersebut, seperti konsentrasi yang buruk, suasana hati yang rendah, dan stres. Namun penelitian telah menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan hasil kesehatan fisik dan perilaku yang lebih buruk pada orang dengan penyakit jiwa, dan berhenti merokok menunjukkan manfaat yang jelas pada populasi ini. Program pengendalian tembakau yang komprehensif dan peningkatan upaya mencegah dan mengobati adiksi nikotin pada orang dengan penyakit jiwa dapat menurunkan penyakit dan kematian. Perawatan yang terintegrasi – terapi konkuren bagi penyakit jiwa dan adiksi nikotin – dapat memberikan hasil perawatan yang terbaik.
Perokok yang menerima perawatan kesehatan jiwa memiliki angka berhenti merokok yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak menerima perawatan tersebut. Lebih lanjut, perawatan yang berdasarkan bukti ilmiah yang berhasil pada populasi umum juga efektif diterapkan pada orang dengan penyakit jiwa. Contoh, orang dengan skizofrenia yang menerima pengobatan bupropion menunjukkan angka berhenti merokok yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang menerima placebo, serta tidak menunjukkan gejala psikiatrik yang memburuk. Kombinasi dari pengobatan varenicline dan dukungan perilaku menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam membantu orang dengan bipolar dan gangguan depresi mayor untuk berhenti merokok dan tidak menunjukkan gejala psikiatrik yang memburuk. Sebuah uji klinis menemukan bahwa kombinasi varenicline dan cognitive behavioural therapy (CBT) lebih efektif dibandingkan dengan CBT saja untuk membantu orang dengan penyakit jiwa berat berhenti merokok untuk jangka waktu yang lama – setelah 1 tahun perawatan dan 6 bulan setelah perawatan selesai.
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

