Teen Social Media Bans Miss the Point
Akhir tahun lalu, Australia menjadi negara pertama yang memberlakukan larangan penggunaan media sosial (medsos) bagi remaja berusia di bawah 16 tahun. Setahun setelah pemberlakuan tersebut, tampaknya larangan tersebut mengalami kegagalan. Sebuah survei yang disponsori oleh negara terhadap orangtua para remaja mengindikasikan bahwa 7 dari 10 remaja masih menggunakan medsos dan penelitian akademis menunjukkan angka kepatuhan yang rendah terhadap larangan tersebut.
Banyak peneliti yang memprediksikan kegagalan tersebut. Mereka berargumen bahwa terdapat cara lain selain regulasi terkait, fokus sebaiknya diarahkan pada upaya mendukung interaksi online yang positif.
Remaja menggunakan medsos dengan berbagai cara yang membuat takjub – untuk terhubung dengan keluarga dan teman, menikmati hiburan, memperoleh informasi, bermain games, membuat konten, dan mengatur pergerakan. Meskipun medsos dapat digunakan sebagai alat untuk prundungan atau untuk mengutarakan kebencian, lebih dari setengah populasi remaja beralih ke medsos sebagai sumber dukungan sosial dan emosional. Penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa remaja dari kelompok marjinal berisiko tinggi terpapar konten online yang negatif., namun mereka juga mendapatkan manfaat dari koneksi online dan bantuan-diri digital.
Fakta bahwa pemberlakuan larangan medsos gagal seharusnya tidak menjadi alasan untuk memperketat penegakannya. Kegagalan tersebut menjadi bukti adanya misdiagnosis dalam memahami masalah yang ada. Daripada berangkat dari pertanyaan apakah teknologi baik atau buruk, kita perlu bertanya bagaimana kita: sebagai orangtua, guru, pembuat kebijakan, dan anak-anak bersama-sama membentuk teknologi agar lebih sesuai dengan kebutuhan kita.
Tautan ke berita terkait: Teen Social Media Bans Miss the Point; Apa yang dapat dipelajari dari Larangan Penggunaan Sosial Media Bagi Remaja di Australia?

