Webinar Hari AIDS Sedunia 2024
“Take The Rights Path: Meningkatkan VL Tak Terdeteksi Yang Berkesinambungan”
Dalam rangka Hari AIDS Sedunia 2024, Yayasan Abhipraya bekerja sama dengan YPI, UPT HIV RSCM, PDPAI, dan RSJ Soeharto Heerdjan menyelenggarakan webinar seri II terkait peningkatan VL tak terdeteksi yang berkesinambungan.
Webinar dimulai tepat pukul 13:00 WIB oleh moderator (Dr. Dyah Agustina Waluyo), yang diikuti dengan kata sambutan dari Ketua Harian Yayasan Abhipraya (Drs. Yuki Ruchimat, M.Si). Masing-masing narasumber menghantarkan materi selama kurang lebih 20 menit yang diikuti dengan sesi Tanya-Jawab yang berlangsung selama 40 menit. Webinar seri II HAS 2024 selesai pada pukul 16:00 WIB. Jumlah peserta yang hadir melalui tautan Zoom Abhipraya adalah 64 orang.
Berikut ini adalah pertanyaan dari peserta webinar HAS Seri II.
Peserta aktif I
Selamat siang Bapak, rekan kami sebut saja Agung Pria usia 30 tahun sudah mengikuti terapi ARV dan berjalan tahun kedua tapi kebiasaan dengan (karena) tuntutan (pe)kerjaan yang bersangkutan suka begadang dan suka minum kopi. Untuk obat ARV dijadwalkan minum Untuk viral load agar cepat undetectable, apakah saran bapak sebaiknya. Mohon izin terima kasih.
Tanggapan Prof Zubairi
Minum kopi itu sebenarnya tidak masalah. Bahkan, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kopi dapat memperpanjang harapan hidup. Orang yang minum kopi memiliki harapan hidup yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan yang tidak meminum kopi.
Bergadang sebenarnya berkaitan dengan durasi tidur. Jadi, lama tidur itu yang penting. Idealnya memang tidur di malam hari, tetapi jika pekerjaan tidak memungkinkan, tidur di pagi atau siang hari selama 7–8 jam juga cukup, dan tidak ada masalah.
Viral load (VL) biasanya dapat diperiksa setelah 3 bulan konsumsi antiretroviral (ARV). Kemungkinan besar, setelah 6 bulan pengobatan, VL sudah tidak terdeteksi. Namun, pemeriksaan setelah 3 bulan juga VL masih di atas 1.000, perlu dipertimbangkan untuk mengganti obat. Sebelum itu, pastikan keteraturan konsumsi ARV. Jika konsumsi obat tidak teratur, pergantian obat pun tidak akan efektif. Maka, wawancara mendetail perlu dilakukan untuk memastikan kepatuhan pasien dalam minum obat selama setahun terakhir.
Agar viral load cepat tidak terdeteksi, gaya hidup sehat sangat penting. Ini termasuk:
- Tidur sekitar 7 jam per hari.
- Berolahraga secara rutin.
- Menjaga pola pikir yang optimis.
- Mengonsumsi makanan sehat, seperti sayuran dan buah-buahan.
- Dan yang terpenting, meminum ARV secara teratur sesuai anjuran.
Gaya hidup sehat penting bagi semua orang, termasuk mereka yang sedang menjalani pengobatan ARV.
Peserta aktif II
Permasalahan utk cek pemeriksaan penunjang BPJS di tempat kami tidak memfasilitasi karcis, sehingga mereka jadi pasien umum. Kalau harus dilakukan pemeriksaan penunjang pasien keberatan. Langkah selanjutnya bagaimana? Pertanyaan untuk Prof Samsuridjal Djauzi.
Tanggapan Prof Zubairi
BPJS biasanya mengatur pasien untuk bertemu dokter dan mengambil obat setiap bulan sekali. Namun, jika pemeriksaan penunjang seperti rontgen (toraks foto) diperlukan, itu mestinya bisa dilakukan di mana saja.
Untuk pemeriksaan Hepatitis B atau Hepatitis C, terutama bagi pasien dengan riwayat penggunaan narkotika, ini sangat penting dilakukan. Dalam hal ini, pasien perlu diberi edukasi tentang pentingnya pemeriksaan tersebut.
Prinsipnya, asuransi seperti BPJS memiliki keterbatasan, dan ini harus dijelaskan kepada pasien. Saat ini, BPJS menghadapi banyak kendala, termasuk pembatalan klaim hingga lebih dari 20%. Oleh karena itu, pasien perlu diberi informasi bahwa pemeriksaan tersebut dilakukan untuk kesehatannya sendiri, bukan sekadar kebutuhan dokter.
Langkah yang dapat dilakukan:
- Edukasi Pasien: Sampaikan kepada pasien mengapa pemeriksaan tersebut penting, misalnya untuk Hepatitis B dan Hepatitis C.
- Cari Alternatif Biaya Terjangkau: Dokter bisa membantu pasien dengan menghubungi laboratorium rumah sakit untuk mendapatkan informasi biaya termurah. Dengan demikian, pasien dapat mempersiapkan diri secara finansial.
- Motivasi Pasien: Jelaskan bahwa pemeriksaan tersebut bukan hanya untuk kebutuhan dokter, tetapi demi kepentingan kesehatan pasien sendiri.
Tanggapan Prof. Samsu:
Dulu ada beberapa yayasan atau lembaga yang menyediakan dukungan untuk pemeriksaan-pemeriksaan khusus yang penting dalam menentukan pengobatan pasien. Saat ini, ada penelitian-penelitian yang dapat diikuti oleh pasien, seperti untuk skrining kriptokokus (crypto) yang bisa dilakukan secara gratis.
Bahkan pemeriksaan cairan likuor untuk kecurigaan kriptokokus juga dapat dibiayai melalui penelitian tertentu.
Langkah yang dapat dilakukan:
- Ikut Penelitian: Dukung pasien untuk mengikuti penelitian yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara gratis.
- Cari Dukungan Yayasan/Lembaga: Temukan yayasan atau lembaga yang memberikan bantuan biaya pemeriksaan khusus, terutama bagi pasien yang tidak mampu.
- Pasien Mandiri: Jika pasien mampu, diharapkan mereka dapat memberdayakan diri untuk membiayai pemeriksaan tersebut.
Peserta aktif III
Jika VL belum turun ke level tidak terdeteksi dalam 6 bulan pertama setelah mulai ART apakah itu berarti virus sdh kebal thdp ART yang sedang dikonsumsi? Apakah perlu substitusi/switch? Mohon arahannya. Terima kasih.
Tanggapan Prof. Zubairi:
Pengelolaan terapi ART (Antiretroviral Therapy) harus dilakukan secara teratur, baik dalam hal konsumsi setiap hari maupun waktu konsumsinya. Berikut penjelasannya:
- Evaluasi Viral Load (VL):
- Jika VL hanya 50 atau 100, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa virus resisten terhadap ART.
- Untuk VL di bawah 1.000, terapi dapat dilanjutkan, tetapi sebaiknya dilakukan pemeriksaan ulang dalam 3 bulan.
- Indikasi Resistensi:
- Jika VL masih sangat tinggi, misalnya 10⁵ atau 10⁶, meskipun pasien telah meminum obat secara teratur dengan dosis yang benar, kemungkinan besar virus telah menjadi resisten terhadap ART.
- Langkah-Langkah:
- Pastikan terlebih dahulu bahwa pasien telah meminum obat secara konsisten sesuai jadwal dan dosis yang dianjurkan.
- Jika resistensi dicurigai, perlu dilakukan penggantian regimen ART setelah diskusi dengan tim medis.
Peserta aktif IV
Ijin bertanya Prof Samsuridjal,sejauh mana akurasi tes HIV melalui air liur, pernah ada beberapa ODHIV yang sudah terapi mencoba tes tersebut dan hasilnya negatif. Apabila terjadi pada orang yang belum pernah cek negatif palsu lalu minum PrEP, bagaimana akibatnya apakah tidak menjadi resisten? Termakasih.
Tanggapan Prof. Samsu
Tes HIV menggunakan air liur adalah metode screening (penyaringan) dan bukan untuk diagnosis. Berikut penjelasannya:
- Tujuan Tes Air Liur:
- Tes ini dirancang untuk memudahkan individu yang merasa enggan pergi ke laboratorium atau yang ingin melakukan tes secara mandiri tanpa melibatkan identitas mereka.
- Tes ini bertujuan untuk memberikan indikasi awal apakah seseorang mungkin terinfeksi HIV atau tidak.
- Keterbatasan Tes Air Liur:
- Hasil positif dari tes air liur harus dikonfirmasi dengan tes darah.
- Tes air liur tidak cukup akurat untuk memastikan status HIV seseorang karena sensitivitas dan spesifisitasnya lebih rendah dibandingkan tes darah.
- Hasil negatif pada tes air liur tidak selalu berarti seseorang bebas dari HIV, terutama jika faktor risiko tinggi hadir.
- Akurasi Tes Air Liur:
- Akurasi tes air liur berada di kisaran 90-99%, namun tidak mencapai 100%.
- Oleh karena itu, konfirmasi menggunakan metode lain, seperti tes darah dengan metode ELISA atau pemeriksaan viral load, sangat diperlukan untuk memastikan hasilnya.
Tanggapan Prof. Zubairi
Penggunaan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) memiliki syarat utama yaitu pasien harus dinyatakan negatif HIV melalui tes sebelum memulai terapi. Resistensi ARV umumnya hanya terjadi jika terdapat virus HIV yang aktif di tubuh pasien. Jika seseorang mengonsumsi PrEP tanpa memastikan status HIV terlebih dahulu dan ternyata sudah positif HIV, ada risiko virus akan menjadi resisten.
Tanggapan Prof. Samsu
Untuk resistensi dalam populasi, hal ini dapat terjadi jika terdapat individu yang HIV-positif tetapi tidak terdeteksi dan tetap menggunakan PrEP. Maka, penting untuk melakukan tes rutin sesuai panduan klinis untuk mencegah risiko resistensi lebih lanjut.
Tanggapan Prof. Zubairi
- Tes air liur memiliki akurasi yang cukup baik, tetapi tetap diperlukan konfirmasi lebih lanjut dengan tes darah.
- Jika hasil tes air liur negatif tetapi ada faktor risiko tinggi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjutan seperti ELISA atau tes viral load untuk memastikan hasilnya.
- Tes antibodi yang menggunakan air liur memiliki keterbatasan dalam sensitivitas dan spesifisitas, yang tidak 100%. Oleh karena itu, hasil negatif palsu bisa saja terjadi.
- Jika dari empat orang, tiga mendapatkan hasil negatif, ini menjadi indikasi untuk melakukan quality control terhadap laboratorium yang melaksanakan tes tersebut. Perlu diperiksa ulang akurasi alat tes yang digunakan.
- Pada orang dengan HIV, meskipun viral load sangat rendah karena pengobatan, antibodi terhadap HIV biasanya tetap terdeteksi. Jika hasil tes serologi menunjukkan negatif, akurasi laboratorium atau metode pengujian perlu dipertanyakan.
Untuk memastikan hasil yang lebih akurat, disarankan menggunakan tes darah dibandingkan tes air liur. Jika pasien menggunakan PrEP, perlu diperiksa regimen yang digunakan (apakah terdiri dari dua atau tiga obat). Selain itu, tes viral load penting untuk memastikan apakah ada virus aktif yang memerlukan penyesuaian terapi.
Peserta aktif V
Mohon izin bertanya ke para pembicara: Obat ARV apa yang biasanya bisa menyebabkan resistensi bilamana tidak diminum teratur? Bagaimana mekanisme resistensinya? Bilamana pasien sudah lama putus obat ARV, kemudian minum lagi, apakah ada ketentuan jenis obatnya harus diganti atau masih bisa dengan jenis yang lama namun diadjust dosis? Mohon sharing ilmunya. Terima kasih.
Tanggapan Prof. Zubairi
- Faktor Penyebab Resistensi Obat ARV:
- Resistensi dapat terjadi jika obat ARV tidak diminum secara teratur, tidak sesuai dosis, atau tidak tepat waktu.
- Beberapa obat, seperti lamivudine (3TC), cenderung lebih tahan terhadap resistensi dan masih bisa digunakan meskipun ada kemungkinan resistensi.
- Mekanisme Resistensi:
- Ketika obat ARV tidak dikonsumsi secara teratur, replikasi virus tetap terjadi. Virus dapat bermutasi untuk menghindari efek obat.
- Mutasi ini menghasilkan strain virus yang resisten terhadap obat tertentu, sehingga efektivitas terapi menurun.
- Mekanisme ini bisa dipastikan melalui tes resistensi genetik atau viral load (VL) yang terus-menerus tinggi meskipun pasien mematuhi pengobatan.
- Penanganan Pasien dengan Riwayat Putus Obat:
- Pada pasien yang sudah lama putus obat, pemeriksaan VL program tidak dapat dilakukan langsung karena peraturan hanya mengizinkan pemeriksaan VL setelah pasien menjalani terapi ARV kembali selama 6 bulan.
- Jika pasien tidak menunjukkan gejala dan memiliki CD4 yang cukup baik, maka obat lama dapat digunakan kembali.
- Jika kondisi klinis pasien buruk, CD4 rendah, atau terdapat banyak gejala, pertimbangkan mengganti regimen dengan obat baru yang lebih kuat dan sesuai protokol. Biasanya digunakan regimen yang mengandung dolutegravir (DTG).
Tanggapan Prof. Samsu
- Prinsip Utama:
- Sangat penting untuk merekomendasikan pasien untuk minum obat secara teratur dan tepat waktu.
- Resistensi ARV tidak hanya mempersulit terapi, tetapi juga memerlukan biaya lebih besar untuk penanganan.
- Keterbatasan Pilihan Obat:
- Dalam program nasional, pilihan obat ARV sering kali terbatas, sehingga penting untuk mengoptimalkan penggunaan obat yang tersedia.
- Sebisa mungkin, regimen harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan hasil pemeriksaan.
Peserta aktif VI
Izin bertanya dok. Ada seorang bapak meninggal dunia karena HIV/AIDS kurang lebih 4 tahun yang lalu tetapi istri dan anak-anaknya 5 orang tampak sehat-sehat sampai saat ini. Apakah istri dan anak-anak tersebut perlu dideteksi ulang? dan bagaimana caranya untuk meyakinkan mereka untuk melakukan screening.
Tanggapan Prof. Samsu
Sebaiknya pasangan dari pasien HIV-positif tersebut menjalani tes, bukan hanya screening. Tes HIV diperlukan untuk memastikan statusnya. Jika hasil tes istri negatif, maka tidak perlu tindakan lanjutan. Namun, jika positif, anak-anak juga perlu menjalani tes, terutama jika mereka masih kecil.
Tanggapan Prof. Zubairi
Beberapa waktu lalu, saya menangani kasus serupa. Seorang keluarga—suami, istri, dan anak—datang ke fasilitas kesehatan. Anak mereka, yang berusia hampir 14 tahun, tampak sehat, aktif, dan bahkan memiliki tubuh yang lebih tinggi dari saya. Namun, mereka datang karena anak tersebut mengalami mimisan berat. Setelah anamnesis, diketahui bahwa:
- Ayahnya adalah pasien HIV yang rutin mengonsumsi ART dan memiliki viral load tidak terdeteksi.
- Ibunya juga positif HIV tetapi tidak pernah menjalani pengobatan selama 13 tahun sejak diagnosis dan tetap sehat tanpa gejala.
- Anak tersebut, setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata positif HIV dengan jumlah trombosit yang sangat rendah.
Peserta aktif VII
Pasien baru terdeteksi HIV+, dan bersamaan diketahui terdapat Infeksi Oportunistik, TB paru dengan gambaran chest XRay+. Berapa lama paling cepat, obat ARV dapat diberikan setelah OAT diberikan utk IO-nya? Bagaimana mengatasi syndrome Pulih Imun jika terjadi? pertanyaan utk Prof Samsu atau Prof Zubairi
Tanggapan Prof. Samsu
Pada kasus TB dengan HIV, jika keadaan kekebalan tubuh pasien cukup baik, pengobatan OAT dapat dimulai terlebih dahulu selama sekitar 2 minggu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian ARV.
Namun, jika kondisi kekebalan tubuh pasien sangat menurun (dengan nilai CD4 yang sangat rendah), pemberian ARV dapat dimulai bersamaan dengan OAT. Meski demikian, perlu diwaspadai kemungkinan risiko terjadinya sindrom pulih imun (IRIS).
Penjelasan Tentang Sindrom Pulih Imun (IRIS):
- IRIS terjadi akibat perbaikan kekebalan tubuh setelah pemberian ARV.
- Kondisi ini sering kali ditandai dengan gejala seperti demam, batuk yang semakin memburuk, atau perburukan gambaran radiologis (misalnya infiltrat paru bertambah).
- Gejala ini sebenarnya merupakan indikasi bahwa kekebalan tubuh sedang berusaha melawan infeksi yang ada.
Saat ini, sindrom pulih imun lebih jarang dibahas karena umumnya hanya terjadi pada pasien dengan kekebalan tubuh yang sangat rendah sebelum memulai ARV. Setelah memulai pengobatan ARV, peningkatan kekebalan tubuh dapat memicu respons imun yang menyebabkan IRIS.
Tanggapan Prof. Zubairi
Tidak ada tambahan khusus, tetapi prinsipnya adalah penanganan IRIS memerlukan pengawasan ketat, terutama pada pasien dengan kondisi imun yang sangat lemah.
Peserta aktif VIII
Selamat siang dok, apakah ada form atau standar minimal asesmen psikososial pada odha ataukah tailor made dok tergantung kebutuhan pasien dok? Terima kasih, dok.
Tanggapan dr. Diah S. Utami
- Untuk assessment psikososial yang komprehensif, kita bisa memulai dengan melakukan screening menggunakan instrumen yang telah divalidasi, seperti SRQ-29 (Self-Reporting Questionnaire 29).
- Instrumen ini membantu mendeteksi adanya indikasi gangguan psikososial atau mental. SRQ-29 mencakup pertanyaan tentang kondisi kesehatan mental, kehidupan sehari-hari, dan sebagainya.
Tahapan Assessment:
- Screening Awal:
- Gunakan SRQ-29 untuk melihat apakah ada skor yang mengarah pada gangguan psikososial atau mental.
- Jika hasil menunjukkan skor signifikan, maka dapat dilanjutkan dengan asesmen spesifik.
- Assessment Spesifik:
- Misalnya, jika SRQ-29 menunjukkan indikasi masalah depresi, kita dapat menggunakan instrumen yang lebih spesifik seperti:
- Beck Depression Inventory (BDI)Zung Depression Scale
- Jika ada indikasi gangguan mood, gunakan Mood Disorder Questionnaire untuk analisis lebih lanjut.
- Misalnya, jika SRQ-29 menunjukkan indikasi masalah depresi, kita dapat menggunakan instrumen yang lebih spesifik seperti:
- Ya, bisa. SRQ-29 sudah divalidasi di Indonesia dan dapat digunakan di FKTP. Instrumen ini juga telah diuji coba oleh Kementerian Kesehatan RI.
- Namun, untuk menggunakan SRQ-29 dengan baik, perlu adanya pelatihan atau pembekalan terlebih dahulu bagi tenaga medis di FKTP.
Instrumen SRQ-29 dapat diakses melalui Kementerian Kesehatan RI, termasuk di website resmi mereka.
Peserta aktif IX
Mohon izin bertanya kepada pembicara, apakah IRIS itu dan apa karakteristiknya? Terima kasih atas sharing ilmunya.
Tanggapan Prof. Zubairi
IRIS justru merupakan gejala-gejala klinis yang timbul ketika CD4 mulai meningkat. Jadi, pada pasien dengan HIV yang mulai mendapatkan terapi ARV, saat CD4 mulai meningkat, daya tahan tubuh mulai membaik, namun muncul gejala klinis yang tidak diharapkan. Ini yang disebut IRIS.
IRIS terjadi ketika peningkatan jumlah CD4 dan perbaikan sistem imun justru memicu reaksi inflamasi terhadap infeksi yang sebelumnya tersembunyi atau terkontrol dengan baik, menyebabkan gejala klinis yang tidak diinginkan.
Peserta aktif X
Yth.Prof. Samsuridjal, mohon ijin bertanya: Pasien laki-laki usia muda dengan perilaku seks tidak aman, terdeteksi toxoplasma dengan limfadenopathy. Dan ternyata HIV test +, terapi mana yang didahulukan, ARV atau terapi infeksi Oportunistik Toxoplasma-nya yang diberikan. Terima kasih atas arahannya.
Tanggapan Prof Zubairi
- ada pasien HIV dengan infeksi oportunistik berat seperti Toxoplasma, tidak perlu menunda pemberian terapi ARV. Kedua terapi dapat diberikan secara bersamaan.
- Jika kondisi pasien menunjukkan adanya komplikasi berat, seperti edema otak, pemberian steroid sangat dianjurkan. Steroid digunakan hanya untuk waktu singkat dan secara hati-hati dievaluasi efek sampingnya.
- Banyak orang cenderung khawatir memberikan steroid pada pasien HIV. Namun, dalam kasus ini, steroid memiliki indikasi yang jelas, terutama pada kondisi berat seperti neurotoxoplasmosis.
Tanggapan Dr. Dharma
- Pendekatan terapi untuk infeksi Toxoplasma dan ARV pada pasien HIV dapat dilakukan secara bersamaan, terutama jika kondisi pasien memerlukan penanganan segera.
- Jika terdapat edema otak yang signifikan, pemberian steroid dalam waktu singkat sangat membantu, seperti yang telah disampaikan oleh Prof. Zubairi.
Peserta aktif XI
Mohon izin bertanya. Pada kasus 28% pasien AHD infeksi otak yang tidak diketahui, apakah tidak ada gambaran dari rongga mulutnya juga dari pemeriksaan oleh dokter spesialis penyakit mulut? karena sepengetahuan saya, ada beberapa infeksi yang bermanifestasi dalam rongga mulut, seperti oral ulcer cytomegalovirus, sifilis dengan keterlibatan oral, dll. Apalagi pasien AHD biasanya CD4 <200, artinya viral load juga tinggi karena CD4 berbanding terbalik nilainya dengan viral load. Terima kasih atas sharingnya.
Tanggapan dr.Dharma
Ya, di RSCM kami memang sangat erat bekerja sama dengan dokter gigi dan spesialis penyakit mulut. Namun, hingga saat ini yang banyak ditemukan adalah infeksi seperti kandidiasis. Kami belum menemukan hubungan langsung antara infeksi di mulut dengan infeksi di otak. Tetapi informasi ini sangat penting karena kita harus mencari infeksi di semua tempat. Bisa saja di mulut atau di bagian tubuh lainnya yang membantu akumulasi infeksi di otak.
Pemeriksaan CD4 tidak lagi menjadi pemeriksaan rutin yang dianjurkan, karena sekarang kita lebih mengandalkan pemeriksaan viral load untuk memantau pengobatan. Namun, saya menyarankan untuk memeriksa CD4 setidaknya setiap 6 hingga 12 bulan, kecuali jika ada keluhan klinis atau jika viral load menunjukkan kenaikan. Dalam kasus tersebut, pemeriksaan CD4 bisa dipertimbangkan untuk melihat status imunitas pasien.
Jika viral load tidak terdeteksi, maka pemeriksaan CD4 berikutnya tidak diperlukan. Namun, jika viral loadnya naik, maka perlu dilakukan pemeriksaan CD4. Pasalnya, CD4 yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai hal, baik karena infeksi lain atau penyakit lain yang memengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Tanggapan Prof. Samsu
Maaf, saya ingin menambahkan. Berdasarkan CDC, mereka merekomendasikan penggunaan corticosteroid sebagai tambahan dalam pengobatan untuk parasit, terutama jika ada infeksi seperti toxoplasmosis. Apalagi jika toxoplasma menyebabkan massa, atau jika infeksi toxoplasma menyerang otak dan menyebabkan pembengkakan (edema). Ini bukan sekadar boleh atau perlu, tapi sudah menjadi rekomendasi oleh CDC Amerika.
Peserta aktif XII
Ijin bertanya, Prof. Klien kami: suami-istri ODHIV yg tahun ini mau berhaji. Jujur menyampaikan ke Nakes Puskesmas, saat tes kesehatan di tingkat dasar. Nakes dari PKM Wilayahnya bingung untuk menentukan istitaah. Akhirnya, mereka balik ke layanan kami untuk konsultasi. Kalau menurut kami: bila keadaan umum membaik, kualitas hidup baik, VL Not Detected — berarti istitaah nggih, Prof. Kasihan bila batal berhaji, mohon arahannya. Semoga dalam webiner ini ada Ts dari PERDOKHI. Maturnuwun.
Tanggapan Prof. Zubairi
- Banyak ODHA yang sudah berhaji tanpa masalah, asalkan kondisi mereka terkontrol.
- Jika pasien memiliki viral load yang tidak terdeteksi dan klinis menunjukkan perbaikan, maka mereka dapat menunaikan ibadah haji.
Imunisasi yang Diperlukan untuk ODHA yang Akan Berhaji:
- Wajib:
- Vaksin meningitis meningokokus (persyaratan dari pemerintah Arab Saudi). Tidak ada masalah pemberian vaksin ini pada pasien HIV.
- Sangat Dianjurkan:
- Vaksin influenza: Mengingat potensi penularan tinggi di keramaian selama ibadah haji.
- Vaksin pneumonia: ODHA memiliki risiko lebih tinggi terkena pneumonia, sehingga vaksin ini penting.
- Kondisional:
- Vaksin COVID-19: Bergantung pada aturan pemerintah Arab Saudi.
Tanggapan Prof. Samsu
- Imunisasi untuk ODHA sebenarnya tidak jauh berbeda dengan jamaah haji lainnya. Yang wajib adalah vaksin meningitis meningokokus, dan yang sangat dianjurkan adalah influenza dan pneumonia.
- Untuk ODHA di negara dengan musim dingin, vaksin influenza sebaiknya dilakukan rutin setahun sekali. Vaksin meningokokus juga direkomendasikan untuk ODHA bahkan tanpa kaitan dengan ibadah haji.
Batasan CD4 untuk Berhaji:
- Jika viral load tidak terdeteksi tetapi CD4 kurang dari 200, ODHA tetap diperbolehkan menunaikan ibadah haji, asalkan kondisi klinis mereka baik.
- Kesehatan klinis yang stabil menjadi faktor utama untuk menilai istitho’ah.
Tambahan Informasi:
- Terdapat aturan baru yang melarang ODHA untuk berhaji. Hal ini memerlukan advokasi agar kebijakan ini dapat diperbaiki. Pasien yang memiliki kondisi klinis baik dan viral load tidak terdeteksi tetap memungkinkan untuk menunaikan ibadah haji.
Menurut Menteri Agama, pasien HIV dengan kondisi stadium M4 tidak memenuhi syarat istitho’ah (kemampuan kesehatan) untuk menunaikan ibadah haji. Namun, jika pasien berada pada stadium yang lebih rendah (misalnya stadium 2 atau 1) dan kondisinya sudah terkontrol dengan baik, maka dapat dinyatakan memenuhi syarat kesehatan untuk melaksanakan ibadah haji.
Detail Tambahan:
- Stadium M4: Merupakan stadium lanjut dalam perjalanan penyakit HIV yang ditandai dengan berbagai komplikasi berat, seperti infeksi oportunistik atau kondisi yang dapat membahayakan kesehatan. Dalam kondisi ini, perjalanan jauh atau aktivitas berat, seperti pelaksanaan ibadah haji, tidak memungkinkan.
- Kondisi Terkontrol: Pasien yang sudah menjalani terapi antiretroviral (ARV) dengan baik dan tidak menunjukkan gejala berat, serta memiliki kondisi klinis stabil, dapat dinyatakan sehat dan memenuhi syarat istitho’ah oleh dokter yang merawat.
- Evaluasi Kesehatan: Dokter bertanggung jawab untuk memberikan rekomendasi berdasarkan kondisi terkini pasien, dengan memastikan bahwa pasien tidak berada dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri atau orang lain selama perjalanan ibadah.
Peserta aktif XIII
Ijin prof Samsu, ada teman kecelakaan kerja sekitar 20-25 tahun yang lalu, tertusuk jarum suntik setelah injeksi pasien yg dinyatakan positif HIV/AIDS. DX klien baru tegak beberapa jam setelah kejadian. Tapi perawat ini langsung dapat ARV dan rutin kontrol sesuai arahan, tapi sampai 5 tahun post kejadian saja. Apakah perlu pemeriksaan lagi? Karena belakangan mudah lelah, demam, bapil. Terimakasih.
Tanggapan Prof. Zubairi
Tidak, pencegahan dengan ARV tidak perlu selama itu. Yang terpenting adalah ARV dimulai sesegera mungkin, idealnya dalam waktu kurang dari 36 jam setelah kejadian. Standar durasi pengobatan profilaksis pasca pajanan (PEP) biasanya adalah 28 hari. Dalam beberapa kasus, bisa diperpanjang hingga maksimal 3 bulan jika ada indikasi tertentu, tetapi tidak selama 5 tahun.
Jika hasil tes perawat tersebut negatif, maka ARV hanya diberikan untuk profilaksis, bukan dalam jangka panjang. Sebaliknya, jika hasil tesnya positif, ARV dilanjutkan sesuai protokol pengobatan HIV.
Rekomendasi:
- Pastikan status HIV saat ini melalui pemeriksaan ulang.
- Jika HIV negatif, keluhan seperti mudah lelah, demam, dan pilek mungkin tidak terkait HIV dan perlu dicari penyebab lainnya.
- Jika HIV positif, ARV harus tetap dilanjutkan, dan keluhan tersebut bisa menjadi tanda perlu evaluasi lebih lanjut terhadap efektivitas pengobatan atau adanya infeksi lain.
Peserta aktif XIV
Ijin bertanya dr. Darma, ada pasien laki-laki sedang pengobatan OAT 2 bulan dan ARV 2 minggu, saat kontrol ke-2 pasien tidak datang, beberapa hari yang lalu pasien datang lagi dengan hasil Crag (+), apakah ARV boleh dilanjut atau stop, dok? Terima kasih.
Tanggapan dr. Dharma
Saya kira ARV-nya tetap dilanjutkan. Untuk pasien dengan CRAG positif, langkah berikutnya adalah menentukan apakah pasien membutuhkan pengobatan flukonazol saja atau pemeriksaan lebih lanjut, seperti lumbar fungsi, terutama jika ada indikasi meningitis kriptokokus.
Jika lumbar fungsi dilakukan dan ditemukan adanya meningitis kriptokokus, maka terapi yang diberikan adalah amfoterisin B dan flukonazol sesuai dengan pedoman pengobatan meningitis kriptokokus.
Pada kondisi tertentu, apabila situasinya sangat memaksa, maka penghentian sementara ARV (termasuk TLD) dapat dipertimbangkan. Namun, secara umum, ARV tetap dilanjutkan.
Peserta aktif XV
Apakah ODHIV dengan Stadium 4 dapat berubah menjadi stadium lebih dini?
Tanggapan Dr. Dharma
Ya, dengan pengobatan antiretroviral (ARV) yang konsisten dan pengobatan infeksi oportunistik yang berkualitas, pasien HIV yang berada di Stadium 4 dapat mengalami perbaikan dan kembali ke stadium yang lebih awal.
- Hal ini menunjukkan pentingnya deteksi dini dan pemberian terapi yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Bagaimana dengan kemandirian pengobatan ARV dan tes HIV di Indonesia?
Tanggapan Prof. Samsu dan Prof. Zubairi
- Indonesia telah memproduksi obat ARV sendiri sejak 2004, meskipun bahan bakunya masih impor.
- Untuk tes HIV, seperti tes viral load, terdapat upaya pengembangan alat tes PCR yang lebih sederhana dan terjangkau. Tes buatan Mataram pernah diuji di pusat infeksi di Eropa dan mendapat pengakuan sebagai salah satu tes terbaik.
- Sistem lelang elektronik pemerintah mendukung prioritas pada produk dengan komponen dalam negeri tinggi.
Bagaimana potensi ART injeksi di masa depan?
Tanggapan Prof. Zubairi
- ART injeksi memiliki manfaat yang besar dan sudah menunjukkan hasil positif di berbagai uji coba. Diperkirakan dalam 1-2 tahun mendatang, harga ART injeksi akan turun hingga sekitar 40 dolar per tahun, sehingga diharapkan pemerintah mulai mempersiapkan pengadaannya.
Apa kunci utama penanggulangan HIV?
- Penanggulangan HIV harus:
- Berkesinambungan dan berkelanjutan: Pengobatan harus rutin dan tidak terputus.
- Mandiri: Mengutamakan produksi dalam negeri untuk obat dan alat tes.
- Memiliki leadership yang kuat: Perlu peran aktif dari pemimpin di berbagai sektor.
- Didukung kompetensi SDM: SDM yang terlatih dan kompeten sangat diperlukan.
- Melibatkan kolaborasi: ODIF, keluarga, masyarakat, dan pihak terkait harus saling bekerja sama.
- Menyediakan dukungan psikososial: Konseling, pendampingan, dan dukungan sosial menjadi bagian penting dari tata laksana HIV.

