Apa saja dampak kesehatan fisik dari penggunaan tembakau?
Merokok membahayakan hampir setiap organ tubuh dan menjadi penyebab utama kematian dini yang dapat dicegah di AS. Meskipun tingkat merokok telah menurun, merokok diperkirakan menyebabkan sekitar 480.000 kematian setiap tahunnya. Perokok yang berusia 60 tahun ke atas memiliki peningkatan angka kematian dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok usia sama yang tidak merokok, dan diperkirakan meninggal 6 tahun lebih awal. Berhenti merokok memberikan manfaat kesehatan langsung, dan sebagian atau bahkan seluruh angka harapan hidup yang berkurang akibat merokok dapat pulih kembali, bergantung pada usia saat individu berhenti merokok.
Meskipun nikotin sendiri bukan penyebab kanker, setidaknya senyawa kimia dalam asap tembakau merupakan karsinogenik, dan merokok merupakan penyebab bagi, setidaknya 30 persen kematian akibat kanker. Angka kematian akibat kanker dua kali lebih tinggi pada perokok dibandingkan pada bukan perokok, dengan perokok berat berisiko 4x lebih besar mengalami kematian akibat kanker dibandingkan dengan bukan perokok.
Kanker yang paling utama disebabkan oleh penggunaan tembakau adalah kanker paru-paru. Merokok dikaitkan dengan sekitar 80 – 90% dari seluruh kasus kanker paru-paru, penyebab utama kematian akibat kanker pada laki-laki dan perempuan, dan bertanggung jawab atas setidaknya 80% kematian akibat penyakit ini. Merokok meningkatkan risiko kanker paru-paru sebanyak 5 – 10x lipat, dengan risiko paling tinggi pada perokok berat. Merokok juga dikaitkan dengan kanker mulut, faring, laring, esofagus, perut, pankreas, serviks, ginjal, dan kandung kemih, serta myeloid akut. Merokok bukan hanya satu-satunya bentuk penggunaan tembakau yang dikaitkan dengan kanker. Tembakau tanpa asap (lihat “Produk tembakau lainnya”) juga dikaitkan dengan kanker faring, esofagus, perut, dan paru-paru, serta kanker kolorektal.
Selain kanker, merokok juga menyebabkan penyakit paru-paru seperti bronkitis kronis dan emfisema, serta memperberat gejala asma pada orang dewasa dan anak-anak. Merokok merupakan faktor risiko paling signifikan bagi chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Statistic kelangsungan hidup mengindikasikan bahwa berhenti merokok dapat memperbaiki kerusakan paru-paru akibat merokok, seiring berjalannya waktu. Namun ketika terjadi COPD, kerusakan tersebut tidak dapat dipulihkan; kerusakan paru-paru terkait COPD tidak dapat diperbaiki lagi.
Merokok juga secara substansial meningkatkan risiko penyakit jantung, seperti stroke, serangan jantung, penyakit vaskuler, dan aneurisma. Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab dari 40 persen kematian yang terkait dengan merokok. Merokok menyebabkan penyakit jantung koroner, penyebab kematian utama di AS. Merokok juga dikaitkan dengan banyak kondisi kesehatan lainnya – termasuk artritis reumatoid, peradangan, dan gangguan fungsi kekebalan tubuh. Bahkan, perokok muda usia 26 – 41 tahun melaporkan penurunan kualitas hidup terkait kesehatan dibandingkan dengan kelompok usia sama yang tidak merokok, berdasarkan hasil penelitian studi populasi potong lintang. Penelitian terkini pada hewan juga mengidentifikasi adanya jalur antara pankreas dan bagian otak yang aktif dalam asupan nikotin, yang berpotensi menghubungkan merokok dengan risiko terkena Diabetes tipe 2.
Apa saja efek dari asap tembakau bagi perokok pasif?
Merokok pasif merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan dan menjadi pendorong bagi kebijakan bebas-asap. Merokok pasif atau sekunder meningkatkan risiko bagi banyak penyakit. Paparan asap tembakau di sekitar pada orang yang tidak merokok meningkatkan risiko paru-paru sekitar 20 persen. Merokok pasif diperkirakan menyebabkan 53.800 kematian per tahun di AS. Paparan asap tembakau di rumah juga menjadi faktor risiko asma pada anak-anak.
Merokok juga meninggalkan residu kimia pada permukaan di lokasi merokok, yang dapat bertahan lama bahkan setelah asap hilang dari sekitar lokasi tersebut. Fenomena ini, dikenal sebagai “thirdhand smoke (asap tersier)” semakin diketahui memiliki potensi bahaya, terutama pada anak-anak, yang tidak hanya menghirup uap yang dilepaskan oleh residu tersebut, namun juga menelan residu yang menempel di tangan mereka setelah merangkak di lantai atau menyentuh dinding dan perabotan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui risiko yang dapat ditimbulkan asap tersier pada manusia, namun penelitian pada hewan (tikus) menunjukkan bahwa paparan asap tersier menimbulkan sejumlah dampak kesehatan fisik dan perilaku, termasuk hiperaktivitas dan efek buruk pada hati dan paru-paru
Apa saja risiko dari merokok selama kehamilan?
Merokok selama kehamilan dikaitkan dengan berbagai hasil kelahiran yang tidak diinginkan – termasuk:
- Berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur
- Pertumbuhan kepala terbatas
- Masalah plasenta
- Peningkatan risiko lahir mati
- Peningkatan risiko keguguran
Dampak perkembangan dan kesehatan pada anak-anak juga dikaitkan dengan paparan asap prenatal, seperti:
- Fungsi paru-paru yang buruk, mengi terus-menerus, dan asma, mungkin melalui metilasi DNA
- Penglihatan yang buruk, seperti strabismus, kesalahan refraksi, dan retinopati.
Sayangnya, wanita hamil yang merokok merupakan hal yang umum. Pada tahun 2014, 8,4% persen wanita merokok kapan pun selama kehamilan, dengan mereka yang berusia 20 – 24 tahun merupakan penduduk asli Amerika atau Alaska memiliki angka lebih tinggi, 13 – 18 persen, secara berturut-turut. Seperlima wanita yang merokok selama 6 bulan pertama kehamilan berhenti merokok di trimester ketiga. Angka berhenti merokok tertinggi secara keseluruhan terjadi pada mereka yang memiliki tingkat pendidikan tinggi dan asuransi swasta. Oleh karenanya, terdapat kebutuhan yang jelas untuk memperluas perawatan penghentian merokok bagi wanita muda dan wanita dengan status sosial-ekonomi rendah. (Lihat “Berhenti merokok bagi wanita hamil”)
Tautan ke artikel asli:
- https://nida.nih.gov/research-topics/tobacconicotine-vaping
- https://nida.nih.gov/research-topics/commonly-used-drugs-charts#TobaccoNicotineandVaping
- https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction
Kalimat kutipan:
NIDA. 2020, January 1. Introduction. Retrieved from https://nida.nih.gov/publications/research-reports/tobacco-nicotine-e-cigarettes/introduction on 2025, February 19

