Trauma, PTSD, dan Penyakit Mental
Bagaimana trauma terkait dengan PTSD dan penyakit mental lainnya?
Sekitar 8% orang yang mengalami trauma akan mengalami PTSD dalam kehidupannya. Orang dengan PTSD memiliki pikiran mengganggu yang berulang dan kilas balik akan kejadian yang menakutkan, mengejutkan, atau berbahaya. Mereka akan merasa takut, cemas, marah, atau malu.
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat kaitan yang erat antara orang dengan PTSD dengan orang yang mengalami gangguan penggunaan narkoba, dan banyak orang didiagnosis dengan kedua gangguan tersebut pada satu waktu bersamaan. Orang dengan kedua gangguan tersebut memiliki lebih banyak masalah kesehatan fisik kronik, masalah sosial, dan peningkatan risiko kekerasan atau bunuh diri.
Seseorang mungkin mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan setelah mengalami trauma. Gangguan tersebut juga terkait dengan adiksi. Nyatanya, berdasarkan analisis dari survei nasional yang dipublikasikan pada tahun 2017, 3,3% orang dewasa AS, atau 7,7 juta orang dewasa, mengalami gangguan kesehatan mental yang terjadi bersamaan dalam 12 bulan terakhir sebelum wawancara survei berlangsung.
Apa hubungan antara trauma dan gangguan penggunaan narkoba?
Pelecehan fisik dan seksual
Pada sebuah survei yang melibatkan 600 orang dengan gangguan penggunaan narkoba, hampir separuh partisipan melaporkan mengalami pelecehan fisik atau seksual, dimana wanita melaporkan angka yang lebih tinggi terkait kedua jenis pelecehan tersebut. Pelecehan seperti itu berpotensi menimbulkan bahaya bagi anak-anak. Orang dengan riwayat pelecehan fisik atau seksual memiliki risiko sebesar 74% dan 73%, secara berturut-turut, mengalami gangguan penggunaan narkoba dalam hidup mereka dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalaminya.
Kekerasan
Orang yang menjadi korban atau saksi tindak kekerasan memiliki peningkatan risiko menggunakan atau menyalahgunakan narkoba. Paparan terhadap kekerasan interpersonal atau pasangan intim dikaitkan dengan risiko penggunaan narkoba yang dapat berkembang ke gangguan penggunaan narkoba, khususnya pada wanita. Kehidupan militer dikaitkan dengan masalah penggunaan narkoba, meskipun personal militer yang telah menjalani banyak penugasan, terpapar pertempuran, dan mengalami cedera akibat pertempuran mengalami peningkatan risiko mengalami adiksi. Selain itu, banyak penelitian menunjukkan peningkatan konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, atau merokok setelah mengalami aksi terorisme.
Konflik keluarga
Konflik dan perceraian orangtua, kehilangan orangtua, atau hubungan keluarga yang buruk berkontribusi terhadap stres kronik yang berat dan dapat meningkatkan kerentanan seseorang mengalami adiksi.
Rasisme dan diskriminasi terstruktur
Menghadapi prasangka dan stigma juga dapat menimbulkan stres kronik yang dapat meningkatkan risiko penggunaan dan penyalahgunaan narkoba. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa mengalami diskriminasi juga berisiko tinggi menyalahgunakan narkoba.
Cedera fisik
Cedera kepala berat, khususnya pada anak-anak dan remaja berkaitan dengan peningkatan risiko adiksi. Para peneliti mencurigai bahwa cedera parah mengganggu bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan dan mengendalikan impuls.
Sumber: NIDA. 2024, February 6. Trauma and Stress. Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/trauma-and-stress on 2026, January 10

