HIV dan Hepatitis B (HBV)

Apa itu hepatitis B?

Hepatitis B merupakan infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Singkatan HBV dapat berarti virus hepatitis B maupun infeksi yang disebabkannya.

HBV dapat berupa penyakit jangka pendek (akut) ataupun penyakit jangka panjang (kronis):

  • HBV akut terjadi 6 bulan setelah seseorang terpapar virus HBV. Pada sejumlah orang, HBV akut dapat berkembang menjadi HBV kronis.
  • HBV kronis dapat berlangsung seumur hidup. Tanpa pengobatan, HBV kronis dapat menyebabkan kanker hati atau kerusakan hati parah yang mengakibatkan kondisi gagal hati.

HBV merupakan infeksi menular yang ditularkan dari orang ke orang.

Bagaimana cara HBV ditularkan dari orang ke orang?

Hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi HBV. Menurut WHO, HBV paling sering ditularkan dari ibu yang terinfeksi virus tersebut ke janinnya selama proses persalinan (dikenal dengan penularan perinatal). Namun demikian, pada orang dewasa di AS, HBV umumnya ditularkan melalui hubungan seks.

HBV dapat menular dari orang ke orang melalui cara berikut ini:

  • Berbagi jarum suntik atau perangkat menyuntik lainnya dengan orang yang terinfeksi HBV.
  • Penggunaan bersama pisau cukur, sikat gigi, atau alat-alat pribadi lainnya dari orang yang terinfeksi HBV.
  • Kontak dengan darah atau luka terbuka dari orang yang terinfeksi HBV.
  • Dari tusukan atau luka yang tidak disengaja dari jarum atau benda tajam yang terkontaminasi HBV

Apa hubungan antara HIV dan HBV?

Kedua infeksi ini menyebar dari orang ke orang melalui air mani, darah, atau cairan tubuh lainnya. Untuk alasan ini, faktor risiko utama HIV dan HBV sama: berhubungan seks tanpa kondom dan berbagi jarum suntik atau perangkat menyuntik.

Menurut CDC, sekitar 10% ODHIV di AS juga mengalami HBV. Infeksi HIV dan HBV yang terjadi bersamaan disebut dengan koinfeksi HIV/HBV.

HBV kronis berkembang secara cepat menjadi sirosis hati (jaringan parut pada hati), penyakit hati stadium akhir, dan kanker hati pada orang dengan koinfeksi HIV/HBV dibandingkan pada orang dengan infeksi HBV saja. Akan tetapi, HBV kronis tampaknya tidak menyebabkan HIV berkembang lebih cepat pada orang dengan koinfeksi HIV/HBV.

Apakah infeksi HBV dapat dicegah?

Ya. Cara terbaik mencegah penularan infeksi HBV adalah dengan vaksinasi hepatitis B, yang diperkirakan mengurangi risiko HBV hingga 80% sampai dengan 100%.

CDC merekomendasikan agar ODHIV dan orang yang berisiko tertular HIV mendapatkan vaksin HBV (atau kombinasi vaksin untuk virus hepatitis A/HBV). Anggota keluarga dan pasangan seksual dari orang dengan hepatitis B juga harus mendapatkan vaksin HBV.

Selain itu, setiap orang, termasuk ODHIV, dapat melakukan langkah-langkah berikut untuk mengurangi risiko tertular infeksi HBV:

  • Gunakan kondom dengan benar saat berhubungan seks dapat mengurangi risiko infeksi HBV dan IMS lainnya, seperti gonore dan sifilis.
  • Jangan menyuntik narkoba. Jika Anda melakukan hal ini, jangan berbagi jarum suntik atau perangkat menyuntik dengan orang lain.
  • Jangan berbagi sikat gigi, pisau cukur, atau barang pribadi lainnya yang mungkin kontak dengan darah orang lain.
  • Jika Anda membuat tato atau tindik tubuh, pastikan alat yang digunakan steril.

Apakah ODHIV perlu melakukan tes HBV?

CDC merekomendasikan agar setiap ODHIV, tanpa memandang umur, diperiksa HBV. Pemeriksaan dapat mendeteksi HBV bahkan ketika orang yang terinfeksi virus tersebut tidak menunjukkan gejala.

Terdapat sejumlah tes HBV. Hasil dari tes-tes tersebut menunjukkan hal yang berbeda. Contoh, tes antigen permukaan hepatitis B yang positif menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki HBV akut atau kronis dan dapat menyebar ke orang lain.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tes hepatitis B, kunjungi laman CDC “Testing for Hepatitis B” (https://www.cdc.gov/hepatitis-b/testing/index.html)

Apa saja gejala infeksi HBV?

Sejumlah orang dengan HBV akut tidak menunjukkan gejala. Namun, sejumlah orang lainnya menunjukkan tanda-tanda HBV segera setelah terinfeksi. Gejala HBV akut meliput:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Kelelahan
  • Mual
  • Muntah
  • Demam
  • Nyeri perut
  • Urine berwarna gelap
  • Buang air besar berwarna tanah liat
  • Nyeri sendi
  • Penyakit kuning (menguningnya kulit atau bagian putih mata)

Sebagian besar orang dengan  HBV kronis tidak menunjukkan gejala dan tidak memiliki gejala selama belasan tahun. Hasil tes fungsi hati yang abnormal merupakan tanda awal infeksi HBV kronis.

Apa saja pengobatan untuk HBV?

Secara umum, HBV diobati dengan obat anti virus. Obat tersebut bekerja untuk membantu membatasi kerusakan pada hati.

Orang dengan koinfeksi HIV/HBV perlu diobati untuk kedua jenis infeksi tersebut. Sejumlah obat HIV (seperti tenofovir alafenamid)  efektif untuk mengobati infeksi HIV dan HBV.

Pilihan obat untuk mengobati koinfeksi HIV/HBV bergantung pada masin-masing individu. Contoh, sejumlah orang minum obat HIV yang juga efektif untuk mengobati HBV. Sedangkan lainnya, mereka minum obat HIV dan obat anti virus HBV secara terpisah. Jika Anda mengalami koinfeksi HIV/HBV, konsultasikan dengan dokter mengenai pengobatan yang tepat bagi Anda.

Poin-Poin Penting: Menurut CDC, sekitar 10% ODHIV di AS juga mengalami hepatitis B, infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV).Hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan darah, air mani, atau cairan tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi HBV. Di AS, jalur utama penyebaran HBV pada orang dewasa utamanya melalui hubungan seks.Orang dengan koinfeksi HIV/HBV perlu diobati untuk kedua jeins infeksi tersebut.  

Tautan ke artikel asli: https://hivinfo.nih.gov/understanding-hiv/fact-sheets/hiv-and-hepatitis-b

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *