Psilocybin dan Cara Kerjanya di Otak

Psilocybin – serie 1

Apa itu Psilocybin?

Psilocybin (4-phosphoryloxy-N,N-dimethyltryptamine) berasal dari jenis jamur tertentu yang ditemukan di hampir seluruh benua. Jamur tersebut, yang juga dikenal sebagai shrooms atau magic mushroom, umumnya dikonsumsi dalam bentuk kering atau bubuk. Psilocybin merupakan bagian dari kelompok narkoba yang disebut dengan psychedelics – halusinogen – yang berpotensi mengubah persepsi seseorang mengenai realitas dan menyebabkan mereka melihat, mendengar, dan merasakan hal-hal yang tidak terjadi dalam kehidupan nyata, atau mengalami realitas dengan cara yang berbeda.

Jamur tersebut memiliki sejarah penggunaan yang panjang. Terdapat bukti bahwa masyarakat asli Amerika Tengah menggunakan jamur untuk tujuan penyembuhan dan ritual spiritual sejak tahun 3000 SM. Para ilmuwan mulai meneliti psilocybin sejak puluhan tahun yang lalu, bersama dengan zat terkait seperti lysergic acid diethylamide (LSD), untuk menilai potensi kedua zat tersebut dalam mengobati penyakit mental, seperti gangguan penggunaan narkoba.

Saat ini, muncul kembali minat yang besar untuk menemukan cara kerja psilocybin dan potensinya dalam mengobati kondisi seperti depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), adiksi, nyeri, dan gangguan neurodegeneratif. Masyarakat penasaran untuk melihat cara psilocybin mempengaruhi cara hidup dan cara berpikir mereka. Berdasarkan hasil survei terhadap lebih dari 7.000 orang yang diterbitkan pada tahun 2021, sekitar 7% atau sekitar 500 orang melaporkan pernah menggunakan magic mushrooms dalam setahun terakhir. Orang yang mengonsumsi jamur ini mungkin berharap untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, bermakna atau spiritual, untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, atau untuk mengobati diri sendiri atas gangguan medis seperti depresi dan kecemasan.

Bagaimana cara kerja psilocybin di otak?

Ketika seseorang mengonsumsi psilocybin, tubuh mengubahnya menjadi zat lain, yaitu psilocin. Psilocin  menempel pada dan mengaktivasi reseptor, atau tempat pengikatan, untuk senyawa otak serotonin, terutama reseptor serotonin 5-hydroxytryptamine 2A (5HT2a). Para peneliti berpendapat bahwa aksi tersebut bertanggung jawab terhadap sebagian besar pengalaman subyektif seseorang ketika mereka mengggunakan jamur tersebut.

Aktivitas psilocin pada reseptor 5HT2a mempengaruhi cara kerja otak dan cara berbagai wilayah otak berkomunikasi satu sama lain. Perubahan pola aktivitas otak tersebut berkontribusi terhadap perubahan kesadaran yang mendalam pada seseorang. Sejumlah wilayah otak mengalami peningkatan aktivitas dan keterhubungan, sementara sejumlah bagian lainnya mengalami penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa psilocybin dapat, untuk sementara waktu, mengganggu komunikasi antar wilayah otak yang dikenal sebagai jaringan mode default, yang palng aktif saat kita melakukan refleksi diri. Mengurangi fokus seseorang pada diri sendiri dapat mengakibatkan perasaan keterbukaan yang lebih besar dan peningkatan keterhubungan dengan dunia.

Sumber: NIDA. 2024, January 24. Psilocybin (Magic Mushrooms). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/psilocybin-magic-mushrooms on 2026, February 6

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *