Agresi
Laporan kasus dan penelitian skala kecil mengindikasikan bahwa steroid anabolic meningkatkan iritabilitas dan agresi, meskipun hasil penelitian tersebut dapat dibuat rancu oleh ciri kepribadian yang lebih banyak ditampilkan oleh pengguna steroid (misal, gangguan kepribadian antisosial, borderline, dan histrionik) dan penggunaan narkotika lainnya. Orang yang menyalahgunakan steroid anabolik melaporkan lebih mudah marah dibandingkan bukan pengguna, serta lebih sering berkelahi, melakukan agresi verbal, dan kekerasan terhadap orang laing yang penting bagi mereka; kondisi yang disebut sebagai “roid rage” (amarah akibat steroid). Sebuah penelitian menunjukkan bahwa suasana hati dan efek perilaku yang terlihat selama penyalahgunaan steroid anabolik dapat diakibatkan oleh perubahan hormon sekunder.
Para ilmuwan telah berupaya meneliti hubungan antara steroid anabolik dengan agresi melalui pemberian steroid dosis tinggi selama beberapa hari atau minggu pada sukarelawan dan kemudian gejala perilakunya. Dalam sebuah penelitian mengenai hal ini, para peneliti menemukan bahwa penggunaan testosteron selama lebih dari 6 minggu dikaitkan dengan peningkatan agresi, seperti yang dinilai melalui kuesioner dan model perilaku agresif berbasis computer. Selain itu, steroid dosis tinggi menghasilkan iritabilitas dan agresi yang lebih tinggi dibandingkan placebo, meskipun efeknya sangat bervariasi pada tiap individu, sedangkan penelitian lainnya tidak menunjukkan efek tersebut. Sebuah penjelasan yang dapat diberikan adalah, menurut para peneliti, hanya sejumlah steroid anabolik tertentu yang meningkatkan iritabilitas dan agresi.
Gangguan psikiatrik
Para pengguna steroid anabolik cenderung lebih sering melaporkan mengalami rasa cemas dibandingkan yang bukan pengguna. Penggunaan steroid anabolik dosis sedang hingga tinggi dikaitkan dengan gangguan mood berat seperti mania, hipomania, dan depresi berat. Dalam sebuah penelitian, gejala maniak tidak seragam pada seluruh pengguna steroid, dengan sebagian besar partisipan menunjukkan perubahan psikologis yang kecil, dimana sejumlah kecil pengguna menunjukkan efek yang nyata.
Penggunaan narkotika lainnya
Pengguna steroid anabolic lebih cenderung menggunakan narkotika lainnya, seperti ganja, opioid resep, kokain, atau heroin. Dalam sebuah penelitian pada pria yang menjalani pengobatan bagi gangguan penggunaan opioid, 25% partisipan melaporkan riwayat penggunaan steroid anabolik. Sejumlah partisipan melaporkan pertama kali kenal opioid melalui teman gym, dan mereka pertama kali membeli opioid dari orang yang sama yang menjual steroid anabolik kepada mereka. Dalam sebuah penelitian pada pengguna steroid anabolik yang mengalami ketergantungan analgesik opioid suntik nalbuphine, sebagian besar partisipan melaporkan bahwa mereka mulai menggunakan nalbuphine untuk mengobati rasa sakit dari cedera angkat beban. Mereka juga menggambarkan penggunaan nalbuphine yang luas di gym mereka.
Penelitian juga mengindikasikan bahwa sejumlah pengguna beralih ke narkotika lainnya untuk menghilangkan sejumlah efek negatif steroid anabolik. Contoh, sebuah penelitian yang melibatkan 227 partisipan yang berobat di pusat pengobatan swasta bagi adiksi heroin atau opioid lainnya pada tahun 1999 menemukan bahwa 9,3% partisipan pernah menyalahgunakan steroid anabolik. Dari persentase tersebut, sebagian besar melaporkan penggunaan opioid untuk mengobati insomnia, iritabilitas, depresi, dan gejala putus obat dari steroid anabolik.
Tautan ke materi lengkap:
NIDA. 2024, July 11. Anabolic Steroids and Other Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/anabolic-steroids on 2026, June 24

