Apa saja efek samping steroid anabolik?
Beragam efek samping dapat muncul ketika steroid anabolic disalahgunakan, mulai dari efek samping ringan hingga berat atau bahkan mengancam jiwa. Kebanyakan dari efek samping tersebut dapat dibalikkan jika penggunanya berhenti menggunakan steroid. Namun, efek samping lainnya dapat bersifat permanen atau semi-permanen.
Kebanyakan data mengenai efek samping jangka panjang steroid anabolic pada manusia berasal dari laporan kasus, bukan dari penelitian epidemiologis formal. Efek samping negatif yang serius serta mengancam jiwa mungkin saja tidak dilaporkan, terutama ketika efek tersebut muncul bertahun-tahun kemudian. Sebuah tulisan tinjauan menemukan 19 kematian dalam laporan kasus terkait penggunaan steroid anabolik dari tahun 1990 – 2012 yang dipublikasikan. Akan tetapi, banyak pengguna steroid anabolic juga menggunakan narkotika lainnya, yang membuat sulit untuk membuktikan bahwa penggunaan steroid anabolik yang menjadi penyebab kematian tersebut. Sebuah penelitian pada hewan menemukan bahwa paparan steroid anabolik pada tikus jantan – selama seperlima dari masa hidupnya – dengan dosis setara dengan dosis yang digunakan oleh atlit menyebabkan tingginya angka kematian dini.
Konsekuensi kesehatan yang ditimbulkan dari penyalahgunaan steroid anabolik
| Sistem kardiovaskular Tekanan darah tinggiPenggumpalan darahSerangan jantungStrokeKerusakan arteri | Liver Peliosis hepatistumor |
| Sistem hormon – pria Produksi sperma menurunPembesaran payudaraTestikel mengecilKebotakanKanker testikel | Sistem muskoskeletal Bertubuh pendek (jika dikonsumsi ketika masa remaja)Cedera tendon |
| Sistem hormon – wanita Suara menjadi lebih beratUkuran payudara mengecilKulit kasarPertumbuhan rambut di tubuh yang berlebihanKebotakan | Efek psikiatrik AgresiManiadelusi |
| Infeksi HIV/AIDSHepatitis | Kulit Jerawat dan kista beratKulit kepala dan kulit tubuh berminyakAbses di titik suntikanPenyakit kuning |
Sistem kardiovaskular
Penggunaan steroid dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, penurunan fungsi ventrikel jantung, dan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung, kerusakan arteri, dan stroke, bahkan pada atlit muda di bawah 30 tahun. Steroid berkontribusi terhadap perkembangan penyakit kardiovaskular sebagiannya dengan cara meningkatkan kadar lipoprotein densitas rendah (low density lipoprotein; LDL) dan menurunkan kadar lipoprotein densitas tinggi (high density lipoprotein; HDL). Kadar LDL tinggi dan HDL rendah meningkatkan risiko aterosklerosis, sebuah kondisi dimana lemak menumpuk di arteri dan mengganggu aliran darah. Jika darah terhambat sampai ke otak atau jantung, serangan jantung atau stroke dapat terjadi. Steroid juga meningkatkan risiko pembentukan gumpalan darah di pembuluh darah, yang berpotensi mengganggu alirah darah dan merusak otot jantung sehingga membuat jantung tidak dapat memompa darah secara efektif.
Sistem hormon
Penggunaan steroid mengganggu produksi hormon dalam tubuh. Perubahan yang dapat dibalikkan kembali termasuk penurunan produksi sperma, penurunan fungsi testis (hipogonadisme) yang mengakibatkan rendahnya kadar testosteron, dan ukuran testikel mengecil (atropi testikular). Perubahan yang tidak dapat dibalikkan mencakup kebotakan dan perkembangan payudara (ginekomastia) pada pria. Steroid anabolik dapat bekerja langsung pada sistem hormone sehingga meningkatkan risiko kanker testikular, terutama ketika steroid digunakan bersamaan dengan faktor pertumbuhan seperti insulin (insulin-like growth factor).
Pada wanita, steroid anabolik menyebabkan maskulinisasi. Khususnya, ukuran payudara dan lemak tubuh menurun, kulit menjadi kasar, dan suara lebih dalam. Wanita mungkin mengalami pertumbuhan rambut tubuh secara berlebihan, namun kehilangan rambut di kepala. Dengan penggunaan steroid yang berkelanjutan, sejumlah efek tersebut tidak dapat dibalikkan. Para pengguna steroid meyakini bahwa steroid anabolik mengakibatkan pembesaran klitoris yang tidak dapat dibalikkan pada wanita, meskipun belum ada penelitian mengenai hal ini.
Infeksi
Kebanyakan pengguna yang menyuntikkan steroid mungkin saja menggunakan teknik menyuntik yang tidak steril atau berbagi jarum suntik yang tidak steril dengan pengguna lainnya. Praktik tersebut mengakibatkan pengguna steroid suntik berisiko terkena infeksi virus yang berbahaya, seperti HIV, hepatitis B, dan hepatitis C. Selain itu, model hewan mengindikasikan bahwa steroid anabolic menekan sistem kekebalan tubuh, yang dapat memperburuk infeksi yang telah ada.
Liver
Penyalahgunaan steroid dikaitkan dengan kerusakan liver, tumor, dan kondisi langka yang disebut hepatis peliosis, dimana kista yang berisi darah terbentuk di liver. Kista tersebut dapat pecah dan menyebabkan pendarahan internal dan bahkan kematian, pada kasus-kasus langka.
Sistem musculoskeletal
Peningkatan kadar testosteron dan hormon seks lainnya biasanya memicu lonjakan pertumbuhan yang terjadi selama masa pubertas dan remaja. Peningkatkan kadar testosteron tersebut juga memberikan sinyal untuk berhenti bertumbuh. Ketika seorang anak atau remaja menggunakan steroid anabolik, kadar hormone yang tinggi secara artifisial dapat memberikan sinyal kepada tulang untuk berhenti tumbuh.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa atlit angkat beban yang menyalahgunakan steroid anabolik memiliki tendon yang lebih kaku, yang dapat mengakibatkan peningkatan risiko cedera tendon.
Kulit
Penyalahgunaan steroid dapat menimbulkan jerawat, rambut rontok di kepala, kista, dan rambut serta kulit berminyak. Para pengguna yang menyuntikkan steroid juga dapat mengalami jaundice (kondisi dimana mata dan kulit menguning) sebagai akibat dari kerusakan liver.
Tautan ke materi lengkap:
NIDA. 2024, July 11. Anabolic Steroids and Other Appearance and Performance Enhancing Drugs (APEDs). Retrieved from https://nida.nih.gov/research-topics/anabolic-steroids on 2026, June 24

