Vivian F Go, Rebecca B Hershow, Tetiana Kiriazova, Riza Sarasvita, Quynh Bui, Carl A Latkin, Scott Rose, Erica Hamilton, Kathryn E Lancaster, David Metzger, Irving F Hoffman, William C Miller
Pendahuluan
Secara global, intervensi pencegahan penularan HIV yang efekti diperlukan untuk meningkatkan serapan dan kepatuhan minum obat ARV pada pengguna napza suntik (penasun). Untuk penasun, pengobatan sebagai pencegahan bersifat kompleks akibat sejumlah isu seperti penularan melalui darah dan tantangan yang berkaitan dengan penggunaan napza. Pengobatan sebagai pencegahan pada penasun memiliki hambatan yang unik yang harus dijelaskan agar penasun menyadari manfaat penuh dari penggunaan obat ARV. HPTN 074 merupakan studi awal, multi-site, yang meniulai kelayakan dari intervensi terintegrasi untuk memfasilitasi pengobatan sebagai pencegahan pada penasun di Jakarta, Indonesia; Kyiv, Ukraina; dan Thai Nguyen, Vietnam. Data kualitatif dikumpulkan satu sampai tiga bulan setelah studi dimulai. Tujuannya adalah untuk menambahkan informasi bagi intervensi dan untuk menyediakan data dengan tujuan utama adalah menggambarkan faktor penghambat dan pendukung dari populasi dan lingkungan bagi serapan dan/atau kepatuhan minum obat ARV pada baseline.
Metode Penelitian
Masing-masing site mengambil sampel purposive sebanyak 4-10 provider untuk wawancara, dengan distribusi staf klinik adiksi dan HIV yang seimbang. Seluruh konselor penelitian/navigator system diwawancara di setiap site. Sebagai tambahan, setiap site memilih 4-15 penasun di kelompok intervensi untuk diwawancarai, disampling secara purposive sebanyak setengah dari penasun tersebut yang sukses memulai minum obat ARV dan setengahnya yang tidak.
Pedoman wawancara semi-struktur mencakup topik berikut: hambatan ke pengobatan adiksi dan obat ARV serta persepsi intervensi HPTN 074, termasuk konselor/navigatgor system dan muatan dari sesi konseling. Setiap partisipan wawancara menerima uang sebesar 8-10 dolar amerika untuk waktu dan perjalanan yang dihabiskan untuk menghadiri wawancara. Wawancara tersebut direkam dan pewawancara mencatat impresi dan obervasi mereka selama wawancara berlangsung. Seluruh rekaman suara ditranskrip oleh masing-masing pewawancarea atau petugas transkrip eksternal dan diterjemahkan ke bahasa inggris untuk analisa. Transkrip dimuat ke software NVivo11 untuk pengkodean dan analisa.
Matriks dikembangkan untuk mencari tema dan pola yang muncul sekitar faktor penghambat dan pendukung obat ARV. Kedua faktor tersebut dibandingkan antara partisipan (penyedia layanan atau penasun) dan antar site penelitian. Kesamaan dan perbedaan yang dilaporkan terkait kedua faktor tersebut diidentifikasi dan dijelaskan.
Hasil Penelitian
1. Faktor penghambat dan pendukung serapan obat ARV: perspektif penyedia layanan
Hambatan
> Motivasi internal dan penggunaan narkoba
> Kurangnya akses ke klinik
> Hambatan keuangan
> Efek samping (obat ARV)
> Merasa sehat
> Kurangnya informasi
> Stigma dari penyedia layanan
> Pembukaan status HIV
Pendukung
> Dukungan sosial
> Jumlah klinik
2. Faktor penghambat dan pendukung serapan obat ARV: perspektif penasun
A. Hambatan
> Kurangnya akses ke klinik
> Keuangan
> Ketakutan
> Penggunaan narkoba
> Stigma dari penyedia layanan
> Kurangnya dukungan sosial
B. Pendukung
> Merasa sakit dan motivasi internal
> Dukungan sosial
Diskusi dan Kesimpulan
Secara keseluruhan, perbedaan perspektif antara penyedia layanan dan penasun lebih besar dibandingkan perbedaan diantara penyedia layanan dan diantara penasun di ketiga site. Baik penyedia layanan dan penasun memandang akses ke klinik, hambatan keuangan, efek samping, dan kurangnya informasi umum terkait cara dan lokasi untuk tes HIV dan obat ARV sebagai hambatan dalam mengakses obat ARV. Namun demikian, penyedia layanan cenderung menekankan hambatan tingkat individual terhadap obat ARV, seperti kurangnya motivasi karena penggunaan napza, sedangkan penasun cenderung menekankan hambatan dalam system kesehatan, seperti jam klinik dan akses ke perawatan, demikian juga dengan beban keuangan, ketakutan, dan efek samping.
Perbedaan perspektif antara penyedia layanan dan penasun menggambarkan adanya kesenjangan dalam pemahaman penyedia layanan akan pasien mereka yang menyuntikkan napza, sehingga memiliki implikasi bagi hubungan penyedia layanan-pasien yang dapat mempengaruhi keinginan penasun untuk mengakses perawatan atau kepatuhan minum obat ARV.
Temuan kualitatif menjelaskan faktor penghambat dan pendukung bagi serapan dan kepatuhan minum obat ARV di Indonesia, Ukraina, dan Vietnam. Temuan tersebut juga mengidentifikasi adanya kesenjangan yang signifikan dalam perspektif pasien-penyedia layanan di ketiga site penelitian. Isu terkait akses terus berulang, menekankan adanya kebutuhan akan dukungan bagi penasun untuk masuk ke dalam system layanan HIV. Konseling pengobatan HIV selama tes HIV dapat digunakan untuk membantu meningkatkan kesadaran akan obat ARV dan menjawab ketakutan terkait efek samping obat. Stigma terhadap penasun diantara penyedia layanan, yang tidak disadari oleh penyedia layanan dan sebagian besar penasun, tampak jelas melalui deskripsi penyedia layanan mengenai penasun di ketiga site sehingga menekankan pentingnya intervensi pengurangan stigma untuk meningkatkan komunikasi pasien-penyedia layanan. Pembelajaran dari penelitian ini merupakan hal penting bagi negara-negara dengan kasus HIV signifikan pada penasun untuk mendisain dan melaksanakan program yang melibatkan penasun yang terinfeksi HIV agar masuk dalam perawatan dan pengobatan.
Tautan ke artikel lengkap: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30306437/
Kalimat Kutipan:
Go VF, Hershow RB, Kiriazova T, Sarasvita R, Bui Q, Latkin CA, Rose S, Hamilton E, Lancaster KE, Metzger D, Hoffman IF, Miller WC. Client and Provider Perspectives on Antiretroviral Treatment Uptake and Adherence Among People Who Inject Drugs in Indonesia, Ukraine and Vietnam: HPTN 074. AIDS Behav. 2019 Apr;23(4):1084-1093. doi: 10.1007/s10461-018-2307-y. PMID: 30306437.

