Serie 1: Definisi dan DIagnosis
Disabilitas intelektual merujuk ke kondisi perkembangan syaraf yang mempengaruhi dua fungsi berikut:
- Fungsi kognitif – seperti belajar, pemecahan masalah, dan penilaian.
- Fungsi adaptif – aktivitas harian seperti kemampuan komunikasi dan partisipasi sosial.
Defisit adaptif dan intelektual dimulai di awal periode pertumbuhan, biasanya sebelum usia 18 tahun untuk dapat didiagnosis. Disabilitas intelektual mempengaruhi sekitar 1% populasi, dimana sekitar 85% dari populasi tersebut mengalami disabilitas intelektual tingkat ringan. Di negara-negara maju, 2 – 3% anak-anak mengalami hal ini.
Mendiagnosis disabilitas intelektual
Disabilitas intelektual diidentifikasi melalui sejumlah hambatan-hambatan signifikan, baik pada fungsi intelektual maupun perilaku adaptif.
Fungsi intelektual diukur menggunakan tes kecerdasan yang komprehensif, sesuai secara budaya, serta valid dan andal secara psikometris, yang dilaksanakan secara individual. Meskipun skor tes IQ skala penuh tidak lagi diperlukan untuk diagnosis, tes baku tetap digunakan sebagai bagian untuk mendiagnosis kondisi tersebut. Skor IQ skala penuh di kisaran 70 – 75 mengindikasikan keterbatasan signifikan dalam fungsi intelektual. Namun, skor IQ harus diinterpretasikan dalam konteks kesulitan seseorang dalam kemampuan mental secara umum. Lebih lanjut, skor pada subtes dapat sangat bervariasi sehingga skor IQ skala penuh tidak mencerminkan fungsi intelektual secara menyeluruh. Oleh karenanya, penilaian klinis diperlukan dalam menginterpretasikan hasil tes IQ.
Apa yang dimaksud dengan fungsi intelektual?
Fungsi intelektual mencakup karakteristik kecerdasan, kemampuan tersebut dinilai menggunakan tes kecerdasan baku serta pandangan consensus bahwa fungsi intelektual dipengaruhi oleh dimensi fungsi manusia lainnya dan oleh sistem pendukung.
Secara tradisional, fungsi intelektual atau kognitif diukur melalui tes kemampuan kecerdasan (intelligence quotient; IQ), dimana IQ di bawah 70 direkomendasikan untuk diagnosis klinis bagi disabilitas intelektual. Saat ini, diagnosis klinis juga mensyaratkan skor dua standard deviation dibawah norma populasi (kira-kira di bawah persentil ke-2 atau ke-3) pada pengukuran baku kemampuan adaptif seperti “Vineland Adaptive Behavior Scales”.
Apa yang dimaksud dengan Perilaku adaptif?
Perilaku adaptif merupakan kumpulan kemampuan konseptual, sosial, dan praktis yang telah dipelajari dan dilakukan oleh orang setiap hari dalam kehidupannya yang meliputi hal-hal berikut ini:
- Konseptual à bahasa, membaca, menulis, matematika, alasan, ilmu pengetahuan, memori.
- Sosial à empati, penilaian sosial, kemampuan komunikasi, kemampuan mematuhi aturan, serta kemampuaun membuat dan mempertahankan pertemanan.
- Praktis à kemandirian di wilayah-wilayah berikut: perawatan diri, tanggung jawab pekerjaan, manajemen keuangan, rekreasi, dan mengelola tugas sekolah dan kantor.
Fungsi adaptif dinilai melalui pengukuran baku pada individu dan wawancara dengan pihak lainnya, seperti anggota keluarga, guru, dan pengasuh.
Usia onset merupakan elemen ketiga dalam diagnosis disabilitas intelektual. Kriteria ketiga ini sangat penting karena usia menentukan parameter-parameter terkait usia dalam menentukan kapan disabilitas intelektual bermula atau pertama kali muncul. Kriteria usia onset “sebelum seseorang mencapai usia 22 tahun” yang dapat dilihat pada manual AAIDD edisi ke-12 – dibuat berdasarkan hasil penelitian terkini, yang menunjukkan bahwa perkembangan otak yang penting terus berlanjut hingga seseorang memasuki usia 20-an.
Gejala dan tanda klinis disabilitas intelektual pertama kali dikenali selama masa balita dan kanak-kanak. Disabilitas intelektual dikategorikan sebagai berikut: ringan, sedang, berat, dan menonjol.
Penyebab
Disabilitas intelektual disebabkan oleh beragam faktor, seperti sindrom genetik, yaitu Down Syndrome dan Fragile X Syndrome. Disabilitas ini dapat muncul setelah seseorang mengalami penyakit tertentu, seperti meningitis, batuk rejan atau campak; dapat disebabkan oleh trauma kepala di masa kecil; atau akibat paparan racun seperti timbal atau merkuri. Faktor lain yang berkontribusi terhadap kondisi ini adalah malformasi otak, penyakit maternal, dan pengaruh lingkungan (alkohol, narkotika, dan toksin lainnya). Berbagai kejadian yang berkaitan dengan proses persalinan, infeksi selama kehamilan, dan masalah saat kelahiran, seperti kekurangan pasokan oksigen, juga dapat menjadi faktor penyebab kondisi ini.
Tautan ke artikel asli: https://www.psychiatry.org/Patients-Families/Intellectual-Disability

